LITERASI MUDIK

Oleh Rahmat Hidayat*

 Mudik telah menjadi budaya tahunan, ‘annual culture’. Tradisi tersebut seolah menjadi sebuah keharusan yang mesti dilakukan pada saat lebaran.  Akibatnya, kemacetan luar biasa terjadi di mana-mana. Seperti kita ketahui,  mudik kali ini merenggut belasan nyawa karena kemacetan parah. Akan tetapi, kemacetan tersebut tidak dapat disalahkan sebagai biang keladi dari sebuah peristiwa kematian. Peristiwa tragis tersebut tidak terlepas dari kesalahan manusia. Kesalahan yang dilakukan oleh manusia bisa saja muncul karena ketidaksiapan pemerintah, penyelenggara layanan jalan tol dalam menghadapi kejadian luar biasa, atau kesalahan pemudik yang kurang antisipatif menghadapi risiko kemacetan. Di sinilah peran melek pengetahuan diperlukan, salah satunya adalah dengan mempunyai kemampuan literasi.

Dalam pelaksanaan mudik, kemampuan literasi sangat dibutuhkan. Mengapa tidak? Kemampuan berliterasi dalam mudik akan mampu mengantisipasi kemacetan jalan. Praktik literasi mudik dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain, terampil mencari jalan alternatif  dalam menempuh sebuah perjalanan, serta bertanya kepada orang sekitar yang ada dalam perjalanan kita. Pastikan orang yang kita tanyai lebih tahu dengan kondisi jalan atau keadaan yang akan dilalui oleh kita. Gunakan teknik bertanya yang baik karena kita membutuhkan informasi yang utuh tentang sebuah lokasi. Bertanyalah dengan santun dan pantas, misalnya dengan turun terlebih dahulu dari kendaraan sebelum kita bertanya. Sehingga orang yang ditanyai oleh kita akan merasa dihargai.

Praktik literasi lainnya adalah mendengarkan pengalaman orang lain. Selain bertanya pada orang sekitar, sebaiknya sebelum memulai perjalanan yang akan ditempuh, lebih baik jika kita bertanya kepada orang lain yang pernah menempuh rute yang sama. Bukankah di dalam budaya kita dikenal sebuah pepatah bahwa ‘pengalaman adalah guru yang terbaik’. Penting sekali bagi kita untuk membaca pengalaman orang lain sehingga hal itu dapat dijadikan sebagai bekal yang sangat berharga bagi kita dalam menempuh sebuah perjalanan yang akan dilalui. Biasanya mereka memiliki tips dan trik tertentu dalam melewati sebuah perjalanan.

Konsel literasi selanjutnya adalah kemampuan membaca peta. Literasi ini sangat penting bagi pemudik karena kemampuan membaca peta akan memudahkan kita selama dalam perjalanan. Memahami pembacaan peta pun memberi kita pengetahuan mengenai berapa jarak tempuh menuju tempat tujuan kita. Selain peta baca yang ada dalam bentuk kertas, kita dapat melakukan pembacaan pada peta elektronik dalam jaringan (daring/online) yang lebih canggih pada telepon genggam dengan mengunduh aplikasi  pemetaan. Peta tersebut selain lebih aplikatif juga memudahkan  kita untuk mendeteksi lokasi kemacetan, rawan bencana, dan jalur alternatif terdekat. Selain itu, aplikasi tersebut menyediakan fasilitas suara seorang pemandu perjalanan. Aplikasi peta tersebut terhitung sangat praktis karena tidak memerlukan ruang yang besar untuk membacanya.

Aplikasi literasi selanjutnya adalah kekayaan data. Jika memiliki  data lengkap, kita akan mengetahui catatan-catatan kejadian di suatu tempat pada waktu sebelumnya. Penting sekali bagi pemudik untuk membaca data tersebut agar dapat terhindar dari kejadian buruk saat mudik sebelumnya,  misalnya, catatan tentang daerah yang rawan bencana alam, puncak kemacetan, atau pun data sebelumnya yang terkait dengan perjalanan yang sama. Biasanya data tersebut banyak disajikan dalam media cetak ataupun media sosial yang dapat diakses atau dibaca dengan mudah.
Aplikasi literasi terakhir adalah literasi religi.  Wujud dari literasi tersebut yang juga tidak kalah penting dalam perjalananan kita adalah doa dan melakukan sedekah. Setelah kita menyempurnakan semua ikhtiar, tidak ada jalan dan upaya yang lain selain menyerahkan segalanya kepada sang pemilik alam. Dengan doa dan sedekah, kita berharap semoga bahaya dan bencana akan terhindarkan dari diri dan perjalanan yang akan ditempuh. Perjalanan mudik yang dilakukan pada hakikatnya ditujukan untuk mensyukuri semua nikmat yang Tuhan berikan kepada kita. Dengan demikian, kita berharap semoga nikmat dan karunia-Nya tetap tercurah kepada kita. Akhirulkalam, semoga kekayaan literasi mudik tersebut akan memudahkan kita sampai di tempat tujuan.

 

*Penulis adalah  Guru SMAN 1 Cikalongwetan Bandung Barat, Pengurus IGI Jabar