Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia (KOMPI)

Komuninas Musikalisasi Puisi Indonesia (KOMPI) adalah organisasi independen yang dibentuk sebagai wadah komunikasi dan kerjasama antarkelompok dan atau perorangan di bidang musikalisasi puisi. Kehadiran KOMPI bertujuan meningkatkan dan mengembangkan kehidupan musikalisasi puisi di Indonesia. KOMPI tercatat dalam Akte  No 6, tanggal 21 Mei 2008 pada Notaris Indra Tjahja Rinanto, SH.  Rapat Koordinasi (Rakor) I KOMPI pada 22-26 Mei 2008 diselenggarakan di Cibubur, Jakarta Timur, telah berhasil menyusun program kerja, antara lain menggelar workshop musikalisasi puisi bagi siswa dan guru kesenian.

Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia atau KOMPI yang memiliki pengurus di 22 propinsi dan 14 kabupaten atau kota di Indonesia akan mendeklarasikan diri sebagai organisasi kesenian yang bergerak di bidang seni musikalisasi puisi, Jumat 9 Januari 2003, pukul 19.00 WIB di Teater Studio Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya 73, Jakarta.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik  diundang untuk mengukuhkan kepengurusan organisasi yang didirikan pada 24 Desember 2005 tersebut. KOMPI dipimpin H. Fredie Arsi, salah seorang tokoh seni musikalisasi puisi Indonesia yang telah memberikan workshop musikalisasi puisi di seluruh propinsi bekerjasama dengan Pusat Bahasa dan Balai Bahasa.

Upacara deklarasi KOMPI dirangkaikan dengan pergelaran musikalisasi puisi dari Jambi, Muara Bungo, Jawa Barat, Yogyakarta, Banten, Gorontalo, dan beberapa cabang KOMPI lainnya.  Bersamaan dengan itu, Jumat pagi, pukul 09.00-14.00 WIB juga digelar diskusi publik bertema ”Politik, Kebudayaan dan Identitas Kebangsaan”, menampilkan pembicara Kepala Pusat Bahasa Dendy Sugono,  Ketua Komunitas Sastra Indonesia Ahmadun Yosi Herfanda, jurnalis Mustafa Ismail, Sekretaris Direktorat Jendera Kesbangpol Depdagri Suwarno P Rahardjo, Direktur Utama RRI Parni Hadi, Menteri Kebudayaan Jero Wacik, dan Ketua Umum KOMPI Fredie Arsi.

Musikalisasi puisi sebetulnya tumbuh subur di awal tahun 1980-an. Saat itu, salah satunya Agus. Arya Dipayana, menggubah puisi-puisi Sapardi Djoko Damono menjadi lagu. Tembang sederhana yang diiringi dengan petikan gitar itu memperluas keanggunan sang puisi. Umumnya, nyanyian berirama folk atau country itu sangat cocok dibawakan untuk pertemuan-pertemuan informal para mahasiswa, misalnya di gunung atau pantai. Itulah yang terjadi di kalangan mahasiswa sastra dan antropologi UI. Selanjutnya tak hanya satu dua puisi atau segelintir penyair, melainkan banyak sajak yang tergubah menjadi gita, oleh Umar Muslim, Ari Malibu, dan para kelompok musikalisasi puisi yang tengah menjamur.

Setelah perjuangan yang cukup panjang, sejak 2003, akhirnya terbentuklah Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia (Kompi) pada 9 Januari yang lalu. Upaya gigih tak kenal surut dari Haji Fredi Arsi, ayah 6 bersaudara yang tergabung dalam Deavis Sanggar Matahari, membuahkan hasil yang indah. Keberadaan komunitas ini terkait erat dengan Pusat Bahasa, yang turut merintis dari waktu ke waktu, bahkan melalui festival.

Di antara cabang seni yang lain, mungkin musikalisasi puisi termasuk paling akhir membangun komunitas. Para sastrawan, dramawan, sosiawan, bahkan pecinta alam dan kelompok studi tertentu, sudah lebih dulu membentuk komunitas. Kebutuhan untuk saling mengasah wawasan, meningkatkan frekuensi diskusi, menggali potensi, dan tentu saja berkarya, diwadahi oleh sebuah komunitas. Walaupun dengan kualitas yang mungkin tidak sama, umumnya suatu komunitas akan lebih moderat dan lentur untuk masuk ke wilayah-wilayah yang semula sulit ditembus oleh formalitas. Bahkan beberapa komunitas kemudian mendirikan yayasan untuk kiprah sosial dan aktualisasi diri mereka di tengah masyarakat.

Di antara cabang seni yang lain, mungkin musikalisasi puisi termasuk paling akhir membangun komunitas. Para sastrawan, dramawan, sosiawan, bahkan pecinta alam dan kelompok studi tertentu, sudah lebih dulu membentuk komunitas. Kebutuhan untuk saling mengasah wawasan, meningkatkan frekuensi diskusi, menggali potensi, dan tentu saja berkarya, diwadahi oleh sebuah komunitas. Walaupun dengan kualitas yang mungkin tidak sama, umumnya suatu komunitas akan lebih moderat dan lentur untuk masuk ke wilayah-wilayah yang semula sulit ditembus oleh formalitas. Bahkan beberapa komunitas kemudian mendirikan yayasan untuk kiprah sosial dan aktualisasi diri mereka di tengah masyarakat.

Posisi yang unik, antara grup musik dengan penyair atau pembacaan puisi, selama ini tidak terperhatikan. Lagu, jika bukan instrumentalia tentu akan berisi lirik. Syair atau lirik itu bisa ditulis oleh anggota band, penggubah lagunya sendiri, atau seorang penyair. Sebagi contoh, lagu “Dunia Ini Panggung Sandiwara” yang dinyanyikan oleh Duo Kribo (Ahmad Albar dan Ucok Harahap), liriknya ditulis oleh Taufiq Ismail, seorang penyair tersohor. Sedangkan Ebiet G. Ade menulis puisi lebih dulu, baru kemudian digubah menjadi nyanyian. Leo Kristi secara bersama-sama menggubah lagu dan menulis puisi liriknya.

Musikalisasi puisi sebetulnya tumbuh subur di awal tahun 80-an. Saat itu, salah satunya Ags. Arya Dipayana, menggubah puisi-puisi Sapardi Djoko Damono menjadi lagu. Tembang sederhana yang diiringi dengan petikan gitar itu memperluas keanggunan sang puisi. Umumnya, nyanyian berirama folk atau country itu sangat cocok dibawakan untuk pertemuan-pertemuan informal para mahasiswa, misalnya di gunung atau pantai. Itulah yang terjadi di kalangan mahasiswa sastra dan antropologi UI. Selanjutnya tak hanya satu dua puisi atau segelintir penyair, melainkan banyak sajak yang tergubah menjadi gita, oleh Umar Muslim, Ari Malibu, dan para kelompok musikalisasi puisi yang menjamur.

Banyak peristiwa sastra yang tak meriah jika tidak dihiasi dengan musikalisasi puisi. Setidaknya, selain Sapardi, puisi Toto Sudarto Bahtiar, Subagyo Sastrowardoyo, Sutardji Calzoum Bachri, dan lain-lain mulai menjadi lagu yang asyik. Sebagian besar memang melankolis. Dan sampai kini, puisi terbanyak yang menjadi lagu adalah karya Sapardi, yang umumnya berbicara tentang alam dan cinta. melankolia.

Dari sejumlah kelompok musikalisasi puisi, Sanggar Matahari menjadi semacam ikon, karena konsisten mengamalkan cabang seni itu. Koleksi lagu yang tercipta dari puisi sangat banyak, sehingga setiap tampil menawarkan lagu yang berbeda. Enam bersaudara itu gigih melatih kelompok-kelompok dari berbagai provinsi dalam format workshop. Dalam dua tahun terakhir, dengan semangat luar biasa, akhirnya mereka sanggup menghimpun grup musikalisasi puisi dari 22 provinsi dan 14 kabupaten/kota.

Kebetulan, pada 22 provinsi itu, terdapat Balai Bahasa yang turut membina pertumbuhan kelompok-kelompok itu. Mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tanggara, Maluku, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua. Selain itu masih ada kota-kota dan kabupaten yang menjadi pusat keterwakilan. Seperti misalnya Binjai, Bukittinggi, Pagar Alam, Lampung Tengah, Bogor, Ambon, dll.

Sang penggagas, Sanggar Matahari, sebenarnya sudah mulai mengisi acara berkala di TVRI sejak tahun 1990. Pada tahun 2003, mereka memprakarsai penyelenggaraan festival musikalisasi puisi dan diskusi. Dari perbincangan dan pemikiran yang terus bergulir, akhirnya pada 24 Desember 2006, komunitas itu ditegakkan. Para pendirinya adalah H. Fredi Arsi, Fikar W. Eda, Maman S. Mahayana, Agus R. Sarjono, Jamal D. Rachman, dan dua pemusik Dedi dan Andi.

Pada Jumat malam 9 Januari 2009, Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia (Kompi) dideklarasikan. Sekjen Kompi, Fikar W. Eda membacakan riwayat singkat pembentukan Kompi yang ditentukan eksistensinya di Diparda Tugu, Puncak. Kemudian H. Fredi Arsi membacakan Deklarasi Kompi. Peresmian dilakukan oleh Dendy Sugono, Pimpinan Pusat Bahasa yang dalam pidatonya menyebutkan bahwa musikalisasi puisi akan dikembangkan sebagai genre dan musik Indonesia.