TEKS DAN KONTEKS DALAM SASTRA LISAN

Oleh Yeni Mulyani S.*

Ketika mencari sastra lisan untuk kegiatan “Ekspresi Sastra (lisan) dalam Konteks Kebhinekaan” hal pertama yang menjadi perhatian adalah sastra lisan seperti apa yang harus dikumpulkan? Apakah sastra lisan seperti yang dijelaskan oleh William Bascom yang dikutip oleh Danandjaya (1984: 50) cerita rakyat atau prosa rakyat yang dibagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu mite, legenda, dan dongeng? Atau genre puisi yang terdiri atas mantra, pantun, peribahasa, ungkapan, lelucon?

Ada sejumlah pertanyaan dan tentu saja sejumlah modal yang harus disiapkan sebelum mengumpulkan sastra lisan tersebut. (Cristianto, 2015: 1) mendaftarkan sejumlah pertanyaan sebagai berikut. Apa yang sebaiknya dilakukan jika berniat mengumpulkan cerita rakyat? Apakah cerita rakyat itu? Di mana dan siapa pemilik cerita itu? Bagaimana memasuki wilayah budaya dan mencari pemilik atau pewaris cerita rakyat? Akankah harus melacak terlebih dahulu atau menggalinya? Bagaimana jika cerita yang dibayangkan tersebut sudah sulit dicari pewarisnya, dan apakah cerita tersebut bisa didengarkan begitu saja dari pewarisnya, serta apakah cerita rakyat itu bisa didengarkan tanpa ada wujud kegiatan lain yang membungkusnya? Apakah cerita rakyat itu pasti dalam wujud lisan murni? Bahasa dan dialek apa yang digunakan untuk mengkomunikasikan cerita tersebut? Apakah cerita sehari-hari yang masih beredar dalam komunitas tertentu itu bukan cerita rakyat?

Jika sastra lisan tersebut dalam wujud lisan murni terlepas dari konteksnya, suatu keniscayaan sulit menemukannya. Oleh karena itu, yang paling memungkinkan yang menjadi pilihan adalah jenis sastra lisan itu diungkapkan bersamaan dengan ekspresi seni atau ekspresi ritual tertentu. Sebutlah mite atau mantra-mantra yang dituturkan adalah untuk mendukung ritual tertentu. Atau, peribahasa, pantun, juga dituturkan untuk melengkapi peristiwa ritual atau upacara tertentu. Demikian pula dengan dongeng yang didongengkan dalam suatu upara atau peristiwa tertentu, lebih tepatnya dalam tuturan atau teks lisan tersebut dituturkan dan dinyanyikan dalam konteks apa. Dengan demikian, di dalam sastra lisan, peneliti harus paham teks dan konteks karena dua hal tersebut sesuatu yang penting. Cristianto mengilustrasikan tentang konteks yang jarang diperhatikan apabila orang mengumpulkan cerita lelucon atau dalam istilah Thomson disebut dengan joke. Apabila konteks tidak digambarkan, bisa jadi lelucon itu menjadi tidak lucu.
Penelitian sastra lisan yang mensyaratkan perekaman juga harus memperhatikan pencatatan tekstur, teks, dan konteks. Konteks dapat meliputi keterangan tradisi dan lisannya. Lisan atau teks suatu tradisi merupakan sebagian kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun dengan tuturan ditambah dengan contoh atau gerak isyarat tertentu sebagai alat bantu pengingat. Kemudian, tradisi atau folk adalah suatu komunitas atau sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, buudaya, dan bahasa komunikasi yang sama sehingga dapat dibedakan dengan kelompok lain (Danandjaja, 1984: 1-2).

Berikut akan dideskripsikan teks dan konteks atau sastra lisan dalam konteks pertunjukan “Terbang Sejak” dari Kampung Naga.

yeni-1

Kampung Naga adalah sebuah kampung adat yang masyarakatnya sangat kuat memegang adat dan menjunjung keharmonisan dan keselarasan hidup bermasyarakat. Sruktur bangunan yang relatif sama menggunakan dinding bilik dan atap terbuat dari hateup ‘ijuk’ dan daun kiray. Hal ini mengimplikasikan bahwa masyarakat Kampung Naga tidak berbau kemewahan. Kemewahan dipandang sebagai sesuatu yang mengakibatkan suasana hidup bermasyarakat tidak harmonis. Di sini pun tidak diperkenankan listrik.

Secara administratif, Kampung Naga masuk kedalam wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Propinsi Jawa Barat. Lokasinya berada di tengah-tengah antara kota Garut dan Tasikmalaya, posisinya berada di sebuah lembah subur. Batas wilayahnya antara lain, di sebelah barat dibatasi hutan keramat yang dipenuhi makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Sebelah selatan dibatasi oleh sawah-sawah penduduk, dan di sebelah utara dan timur dibatasi sungai Ciwulan. Jarak dari kota Tasikmalaya ke Kampung Naga sekitar 30 kilometer, sedangkan dari kota Garut 26 kilometer.
Satu seni pertunjukan yang dijaga dan dilestarikan di Kampung Naga adalah “Terbang Sejak”. Terbang sejak berasal dari kata terbang dan sejak. Terbang adalah sebuah alat atau waditra yang terbuat dari kayu bobondelan yang bulat pipih di depannya dipasangkan kulit munding ‘kerbau’ seperti rebana. Terbang yang dipergunakan dalam kesenian terbang sejak memiliki berbagai ukuran. Kata sejak berarti awal, wiwitan atau buhun (awal atau kuno). Terbang sejak merupakan salah satu jenis seni musik tradisional (karawitan) dengan alat musik terbang.

Terbang Sejak merupakan jenis kesenian talari (turun temurun) yang ada di Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya. Perkembangan kesenian Terbang Sejak boleh dikatakan mengikuti perkembangan jaman, sekarang kesenian ini dapat dikolaborasikan dengan kesenian pop lainnya, walaupun ada pantangan yang tidak boleh menggunakan goong. Kesenian ini dipertunjukan dalam acara pernikahan, sunatan, dan acara-acara resmi (upacara adat) di Kampung Naga.

Prosesi pertunjukan Terbang Sejak adalah bubuka (pembukaan) dengan nada jiro, kemudian nada pamangkatan tepak carang naek kana lagu (intro untuk masuk kepada lagu pertama) seperti lagu maulud, soleang, manurun, ririungan dan kidung (lagu kidung dibawakan apabila ada juru kawih). Dewasa ini lagu-lagu dalam kesenian Terbang Sejak dapat ditambah.

yeni-2

Teks sastra lisan yang terdapat dalam pertunjukan “Terbang Sejak”, antara lain sebagai berikut.
1. Lagu Manurun
Manurun manuk manurun
seuk lawang sawarega
nyuka di sagara iman
beberlayar ka madinah

2. Lagu Soleang
Soleang mah manuk seloeang
Soleang ka sawah rega
pujina di bingbang rawit
alohuma soliala

3. Lagu Murangkalih
Murang kalih gingsir calik
ka buana panca tengah
baeu banget malik isun
malik asih ka awaking.

4. Lagu Sor ka ditu
Sor ka ditu ulah jauh
sor ka dieu ulah deukeut
ka ditu ka dieu deui
ngalayek kana lahunan

*Penulis bekerja sebagai peneliti sastra di Balai Bahasa Jawa Barat