Tamu Istimewa

“Mamah, Kakaknya, Nakal!” Si Bungsu mengadu sambil terisak-isak. Aku tak menoleh, sibuk melipat-lipat baju yang baru saja disetrika. Hatiku menggerutu. Kelakuan dua anak itu sering kali membuatku sangat kerepotan.
“Mamaaah!” “Dengelin!” Kesal tak diacuhkan, ia menepuk pahaku keras-keras.
“Iya, Ada apa?””Kenapa sayang?” Sahutku. Kali ini aku menoleh. Wajahnya berlinangan air mata, tapi tetap saja imut dan menggemaskan
Gini, Mah.” Dengan susah payah peri kecilku itu mengkronologiskan apa yang baru saja dilakukan kakaknya.
”Ta, tadi, ta, tangan Kakak kena ini Dede” “Telus, telus, Dede jatoh.” “Ini Dede kena ini.” “Liat, liat, nih, nih!” “Ini Dede cakit.” Bicaranya masih cadel. Gudang Kosa katanya masih terbatas. Umurnya baru empat tahun setengah.

Kuusap-usap jidatnya. “Oh, gitu.” “Jep, jep, jep.” “Udah, jangan nangis lagi, ya” Aku mengecup pipinya yang tembem. “Suruh Kakak minta maaf, ya.” Dinda berlari kecil ke ruang tengah dengan hati puas. Aku kembali menggarap gunungan baju yang harus disetrika.
“Kakak!” “Kata Mamah harus minta maaf!”
“Iya maaf, ya” “Main lagi, yuk!”
“Ayuk.”
Tak lama kemudian terdengar kedua kakak beradik itu saling gebuk bantal, saling kejar, saling rebut, saling dorong, menjerit-jerit bikin sakit telinga. Ya, anak-anak tak pernah menyimpan dendam. Rongga dada kecil mereka ternyata sebuah kabin luas untuk menyimpan kata maaf. Detik itu mereka berkelahi sampai nangis-nangisan. Detik itu pula mereka berdamai. Soal itu, kita harus banyak belajar dari mereka.

Sandra, si Kakak, sudah kelas dua SD. Usianya tujuh tahun. Tubuhnya ceking, tinggi, berwajah serba lancip dan kulit agak gelapan kayak ayahnya. Nafsu makannya kurang sekali. Dinda, si Dede, bersekolah di PAUD di sebuah panti penitipan anak. Badannya gempal, berisi, dan bertenaga. Karakter wajahnya serba membulat. Tetanggaku bilang kepalanya pun hampir sebulat bola basket. Kulitnya lebih terang dari kakaknya. Nafsu makannya luar biasa. Tiga kali lipat porsi kakaknya.
Soal adu fisik, Sandra dan Dinda adalah lawan yang seimbang. Gelut-gelutan, membuat rumah berantakan adalah rutinitas dua gadis kecilku sepulang sekolah. Kadang si Kakak yang melolong-lolong digigit si Dede. Kadang si Dede yang menjerit-jerit dicubit si Kakak. Tak lama kemudian mereka akur lagi.

***

Aku ibu rumah tangga, plus wanita karir di sebuah BUMN. Suamiku seorang tenaga pemasaran di sebuah bank swasta. Iklim kerja di bank itu sering memaksanya pulang ketika anak-anak sudah terlelap tidur. Aku layaknya single parent. Semua pekerjaan rumah tangga, antar jemput anak, sampai mencari rezeki pun, aku garap.
“Kita harusnya punya pembantu, Mah” Saran suamiku untuk kesekian kalinya.
“Tuh anak kita yang hiperaktif nggak keurus.” “Masa sih anak cewek sukanya gelut-gelutan.” “Repot kalau semuanya kita yang kerjain.”
“Apa?” “Kita?” “Huh, enak banget ngomong!” Protes dalam hatiku. “Enggak, Pah.”
“Pokoknya Mamah enggak mau punya pembantu.” “Pembantu itu enggak ada yang bener, Pah” “Pembantu kita yang dulu juga enggak bener.” “Masak si Dede ngompol enggak diganti-ganti celananya.” “Si Kakak juga sering enggak dikasih makan.” Jawabku sengit.

“Masak sih, Mah, enggak ada satu pun pembantu yang bener?”
“Iya, Pah.” “Para pembantu tetangga kita juga enggak ada yang bener.” “Tuh contohnya pembantu Bu Subur, suka nyolong duit, Pah.” “Mamah enggak tenang kalo ada pembantu, Pah” “Gimana kalau anak kita diapa-apain pembantu kayak yang diberitakan di TV.” “Ih, ngeri, Pah!” “Enggak apa-apa, Pah.” “Walaupun repot, yang penting kita enggak punya pembantu.” “Titik!”

***

Sudah lima hari ini wajah si Dede terlihat murung. Sering kali ia berperilaku sangat manja. Ada-ada saja permintaannya. Minta dipeluk, digendong, diantar pipis, ditemani nonton TV, sampai-sampai minta digarukin. Nafsu makannya nge-drop. Pasalnya, ia dihukum tak boleh bermain dengan si Kakak.

Tangan kiri si Kakak masih digulung perban. Empat hari lalu, tangannya itu dipelitir si Dede sekuat tenaga dalam acara gelut-gelutan. Dokter ortopedi menyarankan agar tangannya tak banyak digerakkan. Tapi, dasar anak-anak!. Eh, mereka malah main zombie-zombiean.

“Awas, jangan deketin si Kakak!” Rangga, suamiku, menyerongot. Si Dede tak berani beradu pandang dengan wajah Bapaknya yang asing di matanya. Dengan muka ditekuk, ia menghampiriku yang sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi di hari Minggu.

“Mamah, Aku pengen main sama si Kakak, ta tapi enggak boleh sama Ayah.” Si Dede memelas sambil menarik-narik gaun tidurku.
“Jangan dulu sayang” “Si Kakak kan masih sakit.” “Nanti Dede dimarahin si Papah?” Dinda cemberut, membuat wajahnya tambah membulat.

Tiba-tiba suamiku penepuk pundakku dari belakang. “Mah nanti siang masak apa?”
“Sup kaki ayam aja, Pah.” “Anak-anak sangat suka.” Jawabku.
‘Mah, nanti siang ada tamu yang datang, loh”
“Tamu?” “Siapa, Pah?” “Tumben ada tamu ke rumah kita.”
“Nanti Mamah juga tahu sendiri.” “Pokoknya tamu istimewa, Mah.”
“Ih, Papah bikin penasaran aja!” “Siapa sih, Pah?” Rangga masih tak menjawab
“Mah, sempetin juga masak semur jengkol, makanan kesukaannya.”
“Hah, semur jengkol?” Otakku membuka-buka memori siapa saja saudara atau teman suamiku yang suka semur jengkol, tapi, otakku tetap saja roaming.

***

“Pah, mana tamunya?” “Udah jam segini belum nongol juga.” “Siapa, sih, Pah?” “Emang bener tamu istimewa?” Tanyaku tak sabar.
“Iya, Mah.” “Soalnya kita dah lama enggak ketemu.”
Setengah jam kemudian, sebuah taksi berhenti di depan rumah. Tampaknya ini dia tamu istimewa itu. Seistimewa apakah tamuku hari ini? Mataku mencoba menerawang kaca jendela taksi, tapi sosok tamu istimewa itu tak juga tertebak.

Supir taksi gesit mengeluarkan dua tas besar-besar dari bagasi. “Ngapain tamu bawa tas-tas besar segala?” Deg! Hatiku mulai merasa tak enak. Pintu taksi mulai dibuka dan . . . .jleg! Tamu yang datang itu benar-benar istimewa! Aku sangat mengenalnya. Ya, Dia adalah mertua perempuanku.
Suamiku menyambut ibunya dengan sumingrah di pintu pagar. Dijinjingnya dua tas besar itu, sedangkan aku masih tertegun, “Ada gerangan apa dia ke sini?”
“Rina, apa kabarmu?” “Anak-anak Sehat?”
“Se, sehat, Mih.” Jawabku dengan kaku.

***

Nasi, lauk-pauk, plus semur jengkol kesukaan ibu mertua telah tersedia. Kami meriung di meja makan. Ibu mertua mencoba bersikap manis terhadap anak-anakku. “Sandra, tangannya masih sakit, Nak?” “Dinda masih ngompol enggak?” “Hayoo!” Sementara itu, partanyaanku belum juga terjawab. Masih menari-nari dalam kepalaku, “Mau apa janda tua itu ke sini?” “Apakah hanya berkunjung saja atau apa?”

“Mah, sekarang sudah tahu kan tamu istimewa kita?” Suamiku membuka pembicaraan.
“Iya, Pah, kirain siapa gitu yang akan datang.” “Eh, ternyata Mimih.”
“Oooh, jadi Rangga enggak kasih tahu, Rin, Mimih mau datang?”
“Ah, mungkin kalian pura-pura.” “Padahal, kalian sudah sekongkol.” Gerutuku dalam hari.

“Begini, Mah.” “Papah minta Mimih tinggal di rumah kita.” Kepalaku serasa disambar geledek. Masih terbayang di pelupuk mata, hampir sepuluh tahun silam begitu sengitnya ibu mertuaku menentang perkawinanku dengan Rangga. Sebabnya, ia menghendaki calon menantu dari keluarga kaya. Sejak itu, hubunganku dengan ibu mertua sangat dingin. Sedingin es di Kutub Utara!

“Kita repot tanpa pembantu, Mah” “Anak-anak tak terawasi.” “Rumah kita selalu berantakan kayak kapal pecah,”
“Mamah juga enggak mau punya pembantu kan?”
“Nah, kebetulan Mimih mau tinggal di rumah kita,”
“Ya, sekalian bantu-bantu kita mengawasi si Kakak sama si Dede,”
“Aduh, Papah!” “Mengapa harus ngerepotin Mimih,”
“Kasihan Mimih harus mengawasi anak-anak kita yang hiperaktif,” Aku mencoba menolak dengan halus.
“Tak apa-apa, Rin.”Ibu mertua menimpali ”Mimih enggak merasa kerepotan, kok.”
“Masak sih, ngurus cucu sendiri merasa repot.”
‘Terus, rumah yang ditinggalin Mimih gimana?” “Kalau enggak ada yang ninggalin bakal rusak, loh.” Aku terus menolak dengan halus.
“Nah, soal itu kebetulan ada orang yang berminat mengontrak rumah Mimih, Rin.”
“Kan lumayan buat nambahin ongkos naik haji Mimih, “Rangga terus menguatkan argumennya. Aku tak punya cara lain untuk menolak. Pikiranku serasa buntu. Bibirku seperti digembok.

***

Satu bulan sudah ibu mertuaku tinggal bersamaku. Anak-anak lebih terawasi dan terurus. Keadaan rumah menjadi lebih bersih dan rapih. Berat badan si Kakak bertambah lima kilo. Aku punya cukup waktu untuk membantu mengerjakan PR-PRnya. Si Dede pun mulai kuajari membaca dan mewarnai.

Hubunganku dengan ibu mertua masih saja beku. Kami jarang bertegur sapa. Kami bicara seperlunya saja. Tak pernah ada canda dan tawa di antara kami.
Di bulan kedua, ibu mertua meninggal karena serangan jantung. Anak-anak merasa kehilangan neneknya. Rumah kembali berantakan. Anak-anak kembali tak terawasi.

Suatu hari Rangga mengajak berekreasi ke Puncak untuk merayakan pernikahan kami. Sebuah kamar hotel dengan balkon menghadap langsung ke hamparan luas kebun teh telah ia pesan.

***

Malam itu anak-anak sudah tertidur lelap. Dari balkon kamar hotel lampu-lampu rumah di Kota Bogor tampak berkilauan seperti mutiara yang berserakan.
“Mah, Ada hadiah untuk, Mamah.” Rangga memelukku pinggangku dari belakang. Mataku terpejam menikmati pelukan hangatnya sambil menduga-duga hadiah apa yang akan diberikannya.
“Ini hadiah istimewa, Mah.” Rangga meraih tanganku. Ia meletakkan sesuatu di telapak tangan kananku. Insting perempuanku dapat menduga,” Pasti sebuah kotak perhiasan dan isinya pasti sebuah perhiasan.”

“Makasih, Pah,” Kubalikkan wajah. Kucium pipinya dan kami pun berpelukan dengan mesranya.
“Kotaknya dibuka ya, Pah,” Benar saja dugaanku. Isinya perhiasan. Sebuah kalung emas yang beratnya kira-kira dua puluh ons berliontin safir biru.
“Pah, Mamah suka hadiahnya.” “Cantik sekali kalungnya.” “Pasti harganya mahal.” “Beli di mana?” Rangga hanya tersenyum.
“Mah, di dalamnya ada surat.”
“Iya, Mamah tahu.” “Mamah baca ya, Pah.”

Rangga selalu memberi hadiah disertai lampiran. Ya, sebuah surat yang isinya kata-kata romantis. Layaknya seorang sastrawan, Ia sangat lihai merangkai kata-kata cinta. Ketika pacaran, hatiku seperti terbang mengangkasa, melayang-layang jika membaca kata-kata rayuannya.

“Baca agak keras, Mah.”
‘Iya, iya.”
Sesaat aku tertegun. Aku kurang begitu mengenal karakter tulisan di surat itu. “Mungkinkah Rangga mengubah karakter tulisannya?”
“Ayo, Rin!” Rangga semakin erat memeluk tubuhku. Aku mengambil napas pendek. Ancang-ancang membaca. Sebuah paraggraf yang agak panjang harus kubaca.

“Rina, menantuku.“ Tiba-tiba aku harus berhenti membaca dengan keras.
Sebenarnya, bukan Rangga yang meminta Mimih untuk tinggal di rumahmu, melainkan Mimih sendiri. Mimih ingin merajut silaturahmi di saat-saat akhir usia Mimih dengan harapan kamu dapat melupakan perlakuan Mimih padamu. Mimih tahu luka batinmu belum terobati setelah hampir sepuluh tahun berlalu. Semoga kamu masih membuka pintu maaf untuk Mimih. Kalung ini adalah mas kawin Ayah Rangga untuk Mimih. Semoga kalung ini dapat menjadi penawar kenangan pahit dengan Mimih. Jaga baik-baik Sandra dan Dinda.
Mimih,

Kubalikkan badan dan memeluk Rangga kuat-kuat. Aku terisak-isak di dadanya.***

Ditulis oleh Yusup Irawan