KUDA: REPRESENTASI JARAK DAN TRANSPORTASI GAIRAH MAGIS PADA SAJAK KARNO KARTADIBRATA DAN UMBU LANDU PARANGGI

Oleh Heri Maja Kelana*

Sekilas apabila memperhatikan kuda memang tidak terlihat mengagumkan atau terlihat istimewa. Percaya atau tidak bahwa kuda adalah simbol dari seks atau kegairahan. Binatang berkaki empat yang memiliki bulu dan kaki indah ini muncul merepresentasikan pilihan pasangan hidup di bawah alam sadar kita. Kuda yang dikenal pekerja keras serta anggun ternyata menyimpan sisi-sisi erotis serta mistik.

Pada sisi yang lain, kuda dapat merasakan perasaan yang kuat terhadap penunggangnya. Oleh karena itu, kuda akan berontak apabila penunggangnya takut atau bahkan tidak siap untuk menunggang kuda. Kepekaan kuda terhadap perasaan manusia dipakai oleh dunia medis untuk menyembuhkan orang autis. Namun ada hal lain dengan kuda yang digambarkan pada puisi Karno Kartadibrata dan Umbu Landu Paranggi.

Karno Kartadibrata, lahir di Garut pada tanggal 10 Februari 1945, telah banyak melahirkan puisi-puisi di antaranya, “Ranjang”, “Kepada Merry Mangunsong”, “Kuda”, “Pragawati Y”, “Kepada Penari Q”, dan lain-lain. Puisi-puisi Karno cenderung naratif dengan bunyi tidak begitu ketat. Karno gemar memainkan personifikasi pada puisi-puisinya. Hal ini tampak juga saat menulis tentang kuda.

KUDA

Kuda putih yang sekali muncul dalam mimpi
akan datanglah lagi di saat kematianku nanti?
Kakinya basah sampai ke lutut
di mulutnya basah sampai ke lutut

Entah ke mana dibawa mayatku nanti
di punggungnya

Bawalah aku ke kemah-kemah orang dulu
jauhkan dari orang-orang kini

1973
(Horison, No. 5, Th. X, Mei 1975)

Kuda pada puisi Karno Kartadibrata diposisikan sebagai media transportasi. Media transportasi dihidupkan oleh aku lirik pada kegelisahan yang muncul dalam mimpinya.

KUDA PUTIH

kuda putih yang meringkik dalam sajaksajakku
merasuki basabisik kantung peluh rahasia
diamdiam kupacu terus ini binatang cinta
dengan cambuk tali anganan dari padangpadangku

Umbu Landu Paranggi, lahir di Waikabubak, Sumba Barat, NTT, 10 Agustus 1943, memandang kuda sebagi representasi tubuh. Kuda dihidupkan oleh gaya personifikasi sehingga menimbulkan efek semangat. Hal ini juga terlihat bagaimana isokronisme subjektif muncul dalam tiap larik puisi Kuda Putih.

“kuda putih yang meringkik dalam sajaksajakku”. Larik pertama pada sajak Kuda Putih, terdapat pengulangan diksi sajak. Pengulangan ini tidak memiliki arti signifikan seperti pada diksi sayur-mayur. Namun, apabila disandingkan dengan kalimat sebelumnya akan memiliki arti yang kuat, bahwa “kuda putih yang meringkik dalam sajaksajakku” sesuatu yang dicintai (berharga) terus berbicara pada sajak.

Kemudian pada larik selanjutnya ”merasuki basabisik kantung peluh rahasia”, larik ini terdapat kemajemukan basa dengan bisik. Basa adalah zat kimia yang mengikat hidrogen, lawan dari asam. Sedangkan bisik adalah suara desis perlahan yang apabila disandingkan menjadi basabisik akan memiliki arti yang berlainan. Apabila menengok pada bahasa lokal, basa itu adalah bahasa. Penulis lebih melihat diksi basa dari bahasa lokal, sehingga kalau diartikan basabisik adalah bahasa suara yang mendesis perlahan. Larik yang utuh dapat diartikan menjadi bahasa yang mendesis perlahan masuk lewat embrio keringat pada sesuatu yang disembunyikan.

Larik ketiga pada puisi “Kuda Putih” terdapat pengulangan yaitu diamdiam. Diksi diam mempunyai arti tidak bersuara, tidak bergerak dan tidak berbuat. Namun, apabila diulang menjadi diamdiam akan mengandung arti mengendap-endap atau bergerak secara perlahan. Pada larik ”diamdiam kupacu terus ini binatang cinta”, diksi pacu mengandung arti benda tajam atau roda bergigi yang dipasang pada tumit sepatu (dipakai oleh penunggang kuda), untuk menggertak kuda supaya berlari kencang. Secara keseluruhan larik mengandung makna kerja, bahwa secara mengendap-endap akan kusuruh terus berlari binatang cinta ini (kuda).

Larik terakhir pada puisi “Kuda Putih” terdapat pengulangan diksi padang menjadi padangpadangku. Padang secara harfiah adalah tanah yang luas dan tidak memiliki pohon-pohon yang besar. Ketika diksi padang menjadi padangpadangku terkesan ingin menunjukkan bahwa lahan dalam diri aku lirik luas atau banyak.

“dengan cambuk tali anganan dari padangpadangku”. Larik terakhir kemudian dapat diartikan menggunakan cambuk tali impian dari lahan yang ada pada diri aku lirik. Apabila diartikan keseluruhan, puisi “Kuda Putih” bercerita tentang kecintaan aku lirik terhadap binatang kesayangannya, yaitu kuda yang kemudian menjadi inspirasi untuk puisi-puisinya. Untuk aku lirik sendiri, puisi serta kuda adalah darah pada tubuhnya. Puisi dan kuda adalah dua hal yang selalu dicintainya.

Puisi “Kuda Putih” secara eksplisit menceritakan aku lirik yang mencintai binatang kesayangannya, yaitu kuda. Namun, kuda yang diceritakan oleh aku lirik kemudian dikaitkan dengan sajak dan tubuh. Tubuh yang terdapat pada puisi ini merupakan subjek sekaligus objek. Begitu pula dengan sajak. Pada puisi ini tidak ada orang kedua atau ketiga.

Kuda merupakan energi aku lirik untuk sajak-sajaknya. Kuda dan sajak sama-sama memiliki persamaan yaitu menyimpan misteri, dalam bahasa aku lirik dikatakan dengan rahasia. Fenomena ini kemudian menjadi menarik kerena bersinggungan dengan tubuh. Kuda, sajak dan tubuh kemudian menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Kuda menginspirasi aku lirik, sedangkan sajak adalah kuda yang terus berontak pada tubuh.

Lesapnya subjek dan objek pada puisi ini mengakibatkan misteri jarak antara benda di luar tubuh terhadap tubuh. Jarak ini menjadi samar, bisa dikatakan lebur karena otoritas yang berada di luar tubuh adalah visual yang sudah disistematiskan. Seperti ketika melihat pemandangan yang indah, atau melihat perempuan cantik, semua itu sudah diset dalam pikiran manusia yang sudah menerima masukan dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Fenomena ini tidak dapat lepas dari wawasan aku lirik.

Secara garis besar puisi “Kuda Putih” menceritakan kecintaan aku lirik terhadap sesuatu yang dapat membangkitkan inspirasinya, dalam hal ini yaitu kuda putih. Kecintaan terhadap kuda sama dengan kecintaan terhadap puisi. Dua hal tersebut tidak dapat terpisahkan dari tubuh aku lirik.

Tubuh adalah potensi yang luar biasa. Tubuh juga bisa berada di titik realis dan di titik lain (imaji atau gaib). Dengan demikian, tubuh juga bisa dikatakan berada di ruang antara atau dengan kata lain ada potensi imaji dalam tubuh yang akan mengajak ke alam lain di luar realitas.

Inspirasi kuda adalah semangat karena kuda adalah binatang yang tangguh dan pekerja keras. Sedangkan puisi adalah buah intelektual dan padang-padangku adalah metafora dari tubuh.

Media Transportasi Transendental Puisi Karno

Kebahagian seorang penyair tentunya apa yang ia pikirkan menjadi karya (puisi) yang selesai. Saya melihat bahwa puisi Karno Kartadibrata adalah puisi yang selesai. Keindahan kuda memang terlihat secara visual, namun lain hal dengan kuda pada puisi yang ditulis oleh Karno. Kuda dipandang sebagai alat transportasi magis, entah kenapa? Yang jelas puisi salah satu alat penyampai ide.

Naluri alamiah pada tubuh Karno telah membuka paradigma lain terhadap kuda. Kuda yang biasa dipandang indah, bertenaga, dan menjadi alat transportasi darat menjadi lain, seperti di bawah ini

Kuda putih yang sekali muncul dalam mimpi
akan datanglah lagi di saat kematianku nanti?

Proses imaji muncul sebenarnya tidak terlalu rumit, penempatan subjek (kuda), menjadikan puisi ini menjadi tidak biasa. Karno memilih kuda bukan berarti karena ia sering melihat kuda, mungkin kuda menyimpan misteri atau mungkin kuda memang alat transportasi menuju alam lain. Ketergantungan pada imaji mengakibatkan puisi ini di luar batas kewajaran seorang manusia.

Kuda, mimpi, dan kematian menjadi penting untuk saya amati lebih lanjut. Ketiga kata itu dapat mewakili dunia realis, simbolik, dan imajiner.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Pada dunia penafsiran, ketiga kata tersebut dapat ditafsirkan menjadi apa saja tergantung titik masuk atau pembahasan oleh pengkaji. Saya menempatkan ketiga kata tersebut menjadi titik psikologi seorang aku lirik menuju sublimasi psikologi pada puisi “Kuda” ini. Kekuatan kata tersebut tidak dapat tercapai apabila tidak adanya kehadiran kata-kata lain yang menyandinginya. Apabila dalam pantun terdapat sampiran dan isi, maka puisi Karno terdapat kunci dan pintu. Pintu adalah ruang antara ruang A dan B yang hanya dapat dibuka dengan kunci.

Kuda akan berhubungan dengan transportasi, mimpi berhubungan dengan imaji dan perasaan, sedangakan kematian berhubungan dengan alam lain. Secara garis besar puisi Karno ini menceritakan kecemasan sekaligus perlindungan seorang aku lirik menuju ke alam lain. Seperti yang dikatakannya pada dua larik terakhir di bawah ini

Bawalah aku ke kemah-kemah orang dulu
jauhkan dari orang-orang kini

Dari uraian tersebut, dapat dikatakan bahwa Umbu Landu Paranggi dan Karno Kartadibrata telah membuat transportasi transendental dengan caranya sendiri-sendiri.

Biodata penulis:
Heri Maja Kelana adalah pengelola Rumah Baca Taman Sekar Bandung.