Melodi Sang Idola

Semburat mentari September diterpa angin kemarau berhamburan menyapa sesosok gadis yang tengah berdiri di atas panggung meriah. Ia terhanyut dalam menghayati setiap penyampaian bait-bait puisi yang dilantunkannya. Sesekali kakinya melangkah perlahan ke depan dan ke samping, juga tangannya seolah ia tengah menepis pelan sesuatu di udara.
Tampak seorang pemuda dengan gitar yang disampirkan di bahu, tengah mengamati gadis pelantun puisi itu. Kelopak matanya tak sekalipun berkedip. Sudut bibirnya sedikit membentuk lengkungan ke atas, lalu ia menepuk kedua tangannya ketika gadis tadi usai membawakan puisinya. Riuh tepuk tangan dari penonton lain pun terdengar bersautan. Tapi tak lama setelahnya, pemuda tadi tiba-tiba meninggalkan area panggung. Ia seolah tersentakkan oleh sesuatu dari dalam dirinya sendiri. Sesuatu yang selalu membuatnya tak pernah meyakini bahwa dirinya mampu untuk melakukan apa yang gadis pelantun puisi tadi lakukan.

***

Beberapa hari ke depan sekolahku menyelenggarakan sebuah acara Pentas Seni. Tepat hari ini adalah hari pertama pementasan karena acara tersebut akan diselenggarakan selama 4 hari berturut-turut. Salah satu partisipan acara tersebut adalah aku. Tepat beberapa detik yang lalu aku selesai membawakan puisi ciptaanku sendiri. Berdiri menyampaikan sebuah puisi di atas panggung yang dipenuhi ratusan siswa memanglah sesuatu yang sangat membanggakan bagiku. Meskipun sebelumnya keraguan akan kepercayaan diriku sempat menghantui. Namun, sejauh ini aku bersyukur dapat melakukannya sesuai harapan.
“Wah, selamat ya, Intan. Kau memang bertalenta. Boleh kami berfoto denganmu?” Ucap teman-temanku ketika aku turun dari panggung. Aku pun tersenyum menanggapi mereka.
Lalu mereka pun mulai memotret.
“Terima kasih semua. Tapi, sebetulnya aku ingin izin ke toilet.” Ucapku tanpa bermaksud menyinggung mereka.
Aku pun keluar dari kerumunan mereka, dan langsung menuju toilet. Setelah itu, entah mengapa pohon rindang yang menjulang ke balkon belakang lantai atas yang berada tepat di depanku, tiba-tiba menarikku untuk menuju ke sana. Aku baru menyadari ketika aku sudah berdiri di atas balkon tersebut dengan disambut semilir angin dari ranting-ranting pepohonan.
Kuhirup udara sejuk sekitar, lalu kuhembuskan perlahan. Aku berjalan untuk menepi dan sekadar melepas peluh. Ketika kakiku melangkah mendekati sudut lobi, terdengar alunan melodi mengapung di udara. Aku sempat tak menghiraukan karena mungkin suara tersebut berasal dari bawah. Tapi, setelah langkah kaki semakin mendekat, aku semakin yakin bahwa suara tersebut berasal dari seseorang yang memainkan alat musik di lantai ini.
Dugaanku ternyata tak meleset. Ketika kutengok ke sudut lain, seorang pemuda terduduk dengan jemarinya yang tengah memetik dawai gitar. Juga sesekali ia bersenandung pelan di tengah-tengah irama. Entah keberanian dari mana, aku menghampirinya begitu saja.
“Ehem,” ucapku tanpa bermaksud mengganggunya.
Dia sedikit terkejut, namun ia mampu menyembunyikannya.
“Eh.., kau..?” Ucapnya.
“Ya, aku. Maaf jika mengganggu.” Ucapku dengan nada sedikit bersalah.
“Tidak. Tak masalah.” Ucapnya singkat.
“Ehmm, boleh aku duduk?” Tanyaku santun.
“Tentu, silahkan.” Lalu ia memberiku ruang untuk duduk di sampingnya.
“Jika tak salah, kau murid kelas A 4, kan?” Tebakku.
Ia mengangguk, “Ya,” jawabnya singkat.
Ia terdiam beberapa saat sambil kedua tengannya yang tampak membetulkan poros senar gitar. Dia memutar-putar sumbunya, lalu mencoba memetik-petik tali senar tersebut.
“Hmm, kenapa kau diam di sini, Intan?” Gumamnya tanpa menoleh ke arahku dan masih sibuk membetulkan gitarnya.
“Kau kenal aku?” Nadaku kubuat bersahabat.
“Tentu saja. Siswa mana yang tak kenal gadis bertalenta yang satu ini dengan puisi andalannya?” Ucapnya.
“Wah, ternyata kau pandai memuji.” Ucapku menghangatkan suasana.
“Kenapa kau di sini? Bukankah biasanya kau sudah dinantikan oleh teman-temanmu?”
“Ya, kali ini aku berusaha menjauh dari mereka.” Jawabku.
“Kenapa? Bukankah enak rasanya menjadi seorang idola?” Tanyanya.
“Itu tak seperti yang kau pikirkan.” Ucapku jujur.
“Lalu, bagaimana bisa kau mampu melakukan semua itu di atas panggung?” Tanyanya dengan nada penasaran.
“Kurasa, aku hanya melakukannya sesuai apa yang ingin kusampaikan.”
“Tapi, apa kau tak berpikir bagaimana rasanya menegangkan berdiri di atas panggung?” Ia bertanya seolah ia tengah merasakan apa yang ia katakan.
“Kau berpikir aku tak memikirkannya? Dugaanmu keliru. Sebenarnya semua itu bisa hilang jika kita sepenuhnya meyakini apa yang akan kita lakukan. Percayalah semuanya akan berjalan dengan semestinya.” Ucapku tanpa terdengar kesan mengajarinya.
“Lagipula tak ada yang bisa kuperbuat lagi selain melantunkan puisi. Setidaknya aku tak hanya diam saja hidup di dunia ini.” Tambahku.
Dia terdiam meresapi ucapanku.
“Oh ya, tadi permainan gitarmu menurutku sangat bagus, itu membuatku terhanyut. Hehehe. Suaramu pun tak kalah bagus. Kau berpartisipasi dalam acara Pentas Seni kali ini kan?” Ucapku.
“Terimakasih atas pujianmu. Tapi kurasa saat ini aku belum bisa melakukannya.”
Aku sempat tak mengerti kendala apa yang tengah ia alami.
“Kalau boleh aku tahu, memangnya apa yang terjadi padamu?” Tanyaku perlahan.
“Ini terdengar memalukan, terlebih saat ini aku sedang berhadapan dengan perempuan.” Ucapnya dengan senyuman hambar.
Ia diam sejenak seperti sedang memilah kata untuk ia ucapkan, “rasa percaya diriku tak setinggi rasa percaya yang ada dalam dirimu.” Ucapnya singkat dengan wajah datar.
“Apa maksudmu? Dari mana kau tahu tanpa kau membuktikannya terlebih dahulu?” Ucapku memancingkan.
“Kau tak akan tahu tanpa mencobanya. Jadi, kurasa kau harus mencobanya. Dan aku yakin kalau performamu jauh lebih baik dariku.” Tambahku.
“Percuma saja, panitianya sudah menutup antrean daftarnya jauh-jauh hari.” Ucapnya dengan sedikit kekecewaan pada raut wajahnya
“Tenang saja. Aku bisa bicara pada panitianya. Bukankah salah satu panitianya adalah kakakku?” Ucapku.
Sejenak matanya membulat, lalu seketika ia tersenyum riang. Aku bisa melihat pancaran kebahagiaan pada wajahnya.
“Baiklah, sekarang aku akan bicara pada kakakku.” Ucapku.
“Bukan, bukan. Jika perlu aku akan memaksa kakakku untuk melakukan perpanjangan masa pendaftaran.” Ucapku dan berhasil membuatnya tertawa.
“Terima kasih, Intan. Perbincangan ini tak akan aku lupakan, kau benar-benar sangat membantuku.” Aku hanya mengangguk senang.
“Kalau begitu aku ke bawah dulu, ya.” Aku beranjak dari tempat duduk.
“Intan,” Cegahnya ketika aku sudah berjarak beberapa langkah darinya.
Aku pun menoleh.
“Daftarkan namaku ya, Davi Dzafari.” Ucapnya setengah berteriak.
Aku tersenyum, “Aku sudah tahu.”

***

Keesokannya, Davi benar-benar menunjukkan kemampuannya di atas panggung. Semua siswa yang mendengar petikan gitar dengan alunan suara merdunya, seketika mengaguminya. Tak jauh dari panggung, sosok gadis yang telah mempengaruhi Davi tengah tersenyum lepas. Dalam hati gadis itu tumbuh kebahagian akan keterkabulan harapan Davi. Kau sudah membuat impianmu menjadi nyata, Dav! Hati gadis itu berbicara diiringi kebahagiaan yang tak terhingga.

Biodata:
ratna-juwitaRatna Juwita. Lahir tanggal 29 Mei 2000, di Kp. Kibodas RT 07/07, Ds. Pasirhuni, Kec. Cimaung, Kab. Bandung. Saat ini tengah mengenyam pendidikan di bangku kelas XI IPA 5 di SMAN 1 Banjaran. Bergabung dengan ekstrakurikuler Pers Sekolah SMAN 1 Banjaran. Beberapa karyanya pernah dimuat di media massa, seperti puisi berjudul “Roda Religi” dimuat di salah satu koran di Jawa Barat, juga satu karyanya dalam bentuk novel dicetak oleh CV. Pena House (Blitar, Jawa Tengah). Ia juga berhasil meraih juara 2 Kompetesi Esai tingkat Nasional dengan judul “Padjadjaran Penebar Virus Literasi” yang diselenggarakan oleh Universitas Padjadjaran dalam ajang PEF (Padjadjaran Education Festival) 2016, dengan mengusung tema one step closer to your dreams (satu langkah lebih dekat dengan mimpi-mimpimu).
Punya seribu lebih impian, dan sekarang ia perlahan menapakkan langkahnya untuk mewujudkan satu per satu impiannya.