Kepada Penyair Anjing

kepadapenyairanjing_1Kepada Penyair Anjing merupakan kumpulan puisi karya Matdon yang diterbitkan oleh penerbit buku Ultimus Bandung pada tahun 2008. Kumpulan karya Matdon ini memuat 80 judul puisi. Pada umumnya, puisi-puisi yang terdapat dalam kumpulan puisi Kepada Penyair Anjing merupakan protes sosial terhadap permasalahan yang terjadi di masyarakat, baik yang terjadi di Bandung maupun di Jawa Barat.

Puisi-puisi yang terdapat dalam kumpulan puisi Kepada Penyair Anjing ia dedikasikan untuk para seniman yang berpikir realistis yang tidak menjual harga dirinya kepada pemerintah atau pengusaha yang nyata telah membuat rakyat sengsara, pemerintah yang telah menghina kesenian dan menganggap seni adalah sampah. Kemudian berpura-pura membuat event/festival seni untuk sekedar sembunyi dari dosa.

Menurut Acep Iwan Saidi, Matdon adalah penyair pengembara yang ketika kembali ke dalam sajak sebagai rumahnya selalu membawa bermacam oleh-oleh.Kadang ia datang dengan senyum dikulum, kadang tertawa, kadang mengeluh, melenguh, dan tidak jarang juga berteriak marah. Semua pengalaman itu ia tumpahkan seakan tanpa kecuali. Sajak telah menjadi benar-benar tempat mengadu, tentu dengan begitu lebih dari sekedar rumah tempat berteduh.

Sajak-sajak dalam kumpulan puisi Kepada Penyair Anjing ini menunjukkan sebuah gelegak membuncah seorang penyair yang memiliki energi besar dalam mengartikulasikan pengalaman sepanjang petualangannya.  Sajak-sajaknya yang pendek menunjukkan betapa Matdon tidak pernah bisa berdiam lama dalam sebuah situasi. Kegelisahannya seakan terus mendorong agar ia melangkah dan meronta terus. Ia tidak berhenti berlari, keluar-masuk dari realitas ke dalam sajak dari sajak ke kompleksitas realitas, demikian seterusnya.

Acep juga mengungkapkan bahwa beberapa sajak Matdon dalam kumpulan puisi ini bernada humoris, tetapi sekaligus menjadi tali yang menarik ke berbagai ikhwal serius. Beberapa sajaknya juga berbicara soal realitas sosial yang disaksikannya menjadi semacam penilaian yang tergesa-gesa dilontarkan, bahkan pada beberapa sajak ia seperti sedang marah, seperi sajak “Tuhan di Gedung Sate”.