Langit Katiga ‘Langit Kemarau’

Langit KatigaLangit Katiga ‘Langit Kemarau’ adalah kumpulan sajak karya Juniarso Ridwan. Juniarso Ridwan, lahir pada tanggal 10 Juni 1955 di Bandung. Semasa menjadi mahasiswa di Institut Teknologi Bandung (ITB) aktif di Grup Apresiasi Sastra (GAS) dan Studi Teater Mahasiswa (Stema), kini ia mengelola Forum Sastra Bandung, sebuah lembaga nonprofit. Tulisannya tersebar di berbagai media massa, seperti Pikiran Rakyat, Kompas, Mandala, Pelita, Media Indonesia, Suara Karya, Aktuil, Bandung Pos, Suara Merdeka, Galamedia, Mangle, Galura, Kania, Republika, Horison, Ulumul Qur’an dan lain-lain. Pernah baca puisi atas undangan sesama penyair, di Purwokerto, Solo, Yogyakarta, Depok, Garut, Indramayu, Cirebon, Tasikmalaya dan Jakarta (Taman Ismail Marzuki). Sempat pula baca puisi di Den Haag, Belanda. Kumpulan puisinya, antara lain, Dua Penyair di Depan (1976), Penipu Waktu (1979), Robocop (1994), Tanah Terluka (1996), dan Air Mengukir Ikan (2000). Karya-karyanya yang lain terpublikasikan pula dalam antologi Orba (1994), Malam 1000 Bulan (1994), Cermin Alam (1996), Dari Bumi Lada (1996), Songket I (1996), Sajak Kudus (1997) dan Tangan Besi (1997) serta berbagai antologi lain. Selain menulis puisi dalam bahasa Indonesia ia juga dikenal sebagai penyair Sunda yang potensial.

Buku kumpulan puisinya yang terbit dalam bahasa Sunda adalah Lalaki Langit ‘Lelaki Langit’ (1987) dan Langit Katiga ‘Langit Katiga’ (1996). Karyanya terpilih sebagai puisi terbaik oleh Lembaga Basa jeung Sastra Sunda (LBSS) pada tahun 1995. Buku anak-anak karyanya adalah Budak Motekar ‘Anak Pintar’ (1984) dan Pengalaman Regu Macan (1984). Namanya juga tercatat dalam Ensiklopedia Sunda (2000). Pekerjaan yang pernah digelutinya, antara lain, pernah menjadi surveyor di pedalaman Kalimantan Tengah (1980), wartawan (1979-1987), anggota DPRD (1987-1992), dan sekarang di samping aktif menulis puisi, cerpen dan esai juga tercatat sebagai Kepala Dinas PU Bina Marga Kota Bandung.

Kumpulan sajak tersebut diterbitkan pertama kali tahun 1992 oleh CV Geger Sunten Bandung. Secara berturut-turut Langit Katiga cetakan ke-2 diterbitkan tahun 1997 dan cetakan ke-3 tahun 2007.

Dari segi fisik, Langit Katiga terdiri atas 54 sajak. Salah satu dari kumpulan sajak tersebut berjudul “Langit Katiga” yang juga dijadikan sebagai judul kumpulan sajak. Secara lengkap sajak “Langit Katiga” adalah sebagai berikut.

geus ditarjamahkeun sora langit
lauk gurame ngalayang dina hujan
jeung saniskara kekembangan mere
isarah ku angin nu kaluar tina sungutna:
keur ngabarkeun kajadian nu bakal
kalarung. Sasatoan pada gumati, netepkeun
jangjina, mega-mega pada ngadareuheus
malahmandar tina sungapan ngucur geutih
keur kahirupan nu dianti-anti.
genclang cireumis, cadas jeung dangdaunan
harewosna maratan jajantung langit
mere tangara bari ngaraketkeun antara
bangkong maksa kembang eceng ligar
saha nu kabulusan dina panas? Laleur
nu nyeseup cimata dina mabokna terus
ngadangding mulan-mulan

(daging nu karerab jadi hawa,
Mumbul ka awang-awang disantokan manuk;
Babakan geus ilangdangiang
Ngan amparan batu purba nu sepa)
1989-1990

 

‘ sudah diterjemahkan suara langit
Ikan gurame melayang dalam ujan
Dan beragam bunga-bungaan mberi
Isyarat oleh angin yang keluar dari mulutnya:
Sedang mengabarkan kejadian yang bakal
Terjalani. Binatang pada taat janji, tetapkan
Janji, awan-awan yang menghadap
Datang dari sumber ngucur darah
Untuk kehidupan yang dinanti-nanti
sinar air embun, cadas dan dedaunan
bisiknya melebihi jantung, langit
mberi tanda sambil merekatkan antara
kodok maksa bunga eceng mekar
siapa yang kedinginan dalam panas? Lalat
yang nyeseup cimata dalam mabuknya terus
menyanyi terus-menerus

(daging yang terserap jadi udara,
Mengepul ke udara, dipatuk burung
Tegalan ilang gemanya.
Hanya hamparan batu purba yang pucat)

“Langit Katiga” ‘Langit Kemarau’ menggambarkan suasana alam pada musim kemarau. Digambakan bahwa pada musim kemarau penghuni alam seperti ikan, tumbuh-tumbuhan, dan satwa lainnya mengharapkan air sebagai sumber kehidupan. Setitik embun yang hadir di pagi haripun begitu dinanti-nanti. Namun, musim kemarau yang panas di satu sisi, di sisi lain memberikan hawa dingin yang menusuk tulang sumsum di malam dan pagi hari. Lalu, timbul pertanyaan siapa yang kedinginan dalam panas?