Tentang Puisi yang Tumbuh dari Impresi-Impresi Kenangan dan Cinta: Membaca Puisi Moh. Syarif Hidayat*)

Membaca puisi-puisi Moh. Syarif Hidayat dalam buku puisinya Tentang Bunga yang Tumbuh di Pinggir Kolam, memaksa saya menggali dan mengingat-ingat lagi perjumpaan awal saya dengan puisi-puisi Moh. Syarif Hidayat ini. Sebanyak 70 puisi dan 16 haiku dalam buku ini terentang antara tahun 1996 hingga 2016, artinya sepanjang 20 tahun masa kepenyairannya.

Puisi pembuka “Hegemoni” (1996) mempertanyakan tentang ketakberdayaan aku lirik. Perhatikan kalimat “Dan aku kecut sendiri” kemudian kalimat “Perlukah kita ikuti arus?”. Larik tersebut mencerminkan sikap diri yang mungkin agak kurang heroik, terkesan pengecut dan keraguan, kegamangan. Bagaimana posisi individu bertanya dengan kehendak lain di luar diri yang menghegemoni. Ini puisi tentang pencarian jati diri dalam menentukan sikap (state of mind).

Sementara puisi terakhir dalam puisi yang bertitimangsa September 2016 “Berkunjung ke Kotamu” juga menampakan pertanyaan-pertanyaan. Di sini aku lirik selalu tampak gamang, atau pertanyaan-pertanyaan ini sesungguhnya adalah refleksi yang berkelanjutan dari respons atas setiap peristiwa yang dialami. Siapa sebenarnya “mu” yang dimaksud oleh penyair tak benar-benar tegas. Namun, agaknya kita harus menelusurinya dari teks-teks yang lain dari puisi ini yang saya kira ada benang merahnya.

Mengapa saya berpijak pada puisi awal dan akhir dalam dalam buku ini? (saya mengesampingkan dulu ke-16 haiku yang menurut hemat saya sebaiknya tidak dimasukan ke dalam buku ini) karena saya ingin melihat ada napas apa yang tersisa dari rentang waktu 20 tahun kepenyairan Moh. Syarif Hidayat.

Pembacaan Awal

Sebetulnya saya agak sedikit sungkan ketika harus membahas puisi-puisi Moh. Syarif Hidayat ini karena beberapa sebab. Pertama, saya agak sukar membuat jarak antara objek puisinya dan penyairnya di masa silam. Kami tumbuh bersama dalam satu komunitas yang sama. Hal ini bisa jadi hal yang cukup berat untuk membahas puisi-puisi Moh. Syarif Hidayat. Namun, di sisi lain banyak jejak-jejak misteri dan beberapa bocoran-bocoran teks yang barangkali makna yang dimunculkan lebih mudah saya dapati karena memang saya ikut dan alami bersama.

Puisi-puisi awal yang mudah saya kenali jejak sidik jarinya, justru adalah puisi-puisi macam “Mungkin Ini Catatan Harian Seorang Tentara”, “(Mungkin) Ini Suara Hati Soni” (1999). Puisi ini adalah puisi yang satir. Juga menyindir. Puisi “(Mungkin) Ini Suara Hati Soni” adalah semacam ruang ingatan yang diciptakan penyair terhadap Soni (Soni Farid Maulana?) dan Cep (Acep Zamzam Noor?).

Kalau kita coba kelompokan secara tematik puisi-puisi dalam buku puisi ini adalah pertama renungan peristiwa-peristiwa yang dipantulkan oleh puisi yang syarat pertanyaan. Kedua, puisi-puisi cinta. Agaknya cinta yang dihadirkan dalam puisinya itu bernada muram, hati yang luka, dan cinta yang bikin ngeri. Seperti dapat kita baca pada puisi “Kepada Kekasih” (1997). Ketiga, puisi-puisi yang ia tulis kepada orang-orang tertentu, dan ini jumlahnya cukup banyak, tercatat nama-nama semacam Aliya, Lasya, Sri Maryati, Yulianti, Teitri Lulistian, Popo Iskandar, BRB (Beni R. Budiman), Moh. Wan Anwar, Naila, Srimar, Sagar Yoeli. Keempat, puisi-puisi yang terkesan sebagai catatan atas kunjungan ke sebuah tempat misalnya pantai, beranda Al-Furqon, Garut, Pangandaran, Depok, tepian sungai, pantai Losari. Kelima, pencatatan atas keseharian dan alam, Misalnya waktu, angin, lembayung, pepohonan, rintik hujan, laron, pagi, dan senja.

Sesungguhnya di luar itu, napas dari puisi ini adalah puisi-puisi cinta. Sebagaimana dapat kita baca pada sub judul awal buku ini bahwa memang Moh. Syarif Hidayat mendominasi buku puisi ini dengan puisi-puisi cinta.

Terlepas dari beberapa kekurangan dari buku ini, misalnya ketiadaan halaman yang dicantumkan dalam daftar isi buku dan juga pemilihan font pada judul yang tidak konsisten antara judul puisi dan judul (semacam) haiku. Buku ini layak dicatat sebagai dokumentasi puitik dari seorang penyair yang berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan peneliti bahasa di Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat.

Akhir kata, semoga Moh. Syarif Hidayat tetap produktif dalam berkarya dan menerbitkan kembali buku-buku berikutnya yang tentunya dapat menambah khazanah perpuisian dan kepenyairan yang beragam dari Jawa Barat Ini.

***

Ujianto Sadewa

*)Tulisan sebagai bahan pengantar kegiatan diskusi dan peluncuran buku puisi Moh. Syarif Hidayat Tentang Bunga yang Tumbuh di Pinggir Kolam di toco.buruan.co Kebun Seni Jalan Tamansari Bandung pada 18 Desember 2016.

Catatan Admin:
1. Tulisan ini sudah disunting seperlunya
2. Tulisan serupa oleh penulis lain dapat dilihat di      http://www.buruan.co/homospesifitas-peristiwa-puisi-moh-sarif-hidayat/
3.  Profil lengkap penulis dapat dilihat di http://ujiantosadewa.blogspot.co.id/ dan akun FB https://www.facebook.com/ujianto.sadewa