Diksi Unik di Sekitar Kita

oleh

Rosiana Febriyanti 

Dalam perjalanan menuju Pantai Anyer, ada hal yang menggelitik pikiran saya, yaitu terpampangnya tulisan, “NASI UDUK TEMPO DOELOE & CHINESE & SAEFOOD”. Tulisan tersebut sempat membuat saya terbahak sejenak. Namun, saya pikir mungkin itu hanya salah penulisan. Mungkin supaya terkesan “vintage”. Mungkin juga pemiliknya keturunan Cina yang bernama Sae atau bisa jadi “sae” artinya ‘baik’ dalam bahasa Sunda.

Terdapat tiga hal yang saya cermati setelah mengamati tulisan tadi. Pertama, tulisan “doeloe” mengikuti Ejaan van Ophuhysen atau yang juga dikenal dengan ejaan Balai Pustaka yang digunakan sejak tahun 1901 hingga bulan Maret 1947. Disebut Ejaan van Ophuysen karena ejaan itu merupakan hasil karya dari Ch. A. van Ophuysen yang dibantu oleh Engku Nawawi. Ejaan ini dimuat dalam Kitab Logat Melayu. Disebut dengan Ejaan Balai Pustaka karena pada waktu itu Balai Pustaka merupakan suatu lembaga yang cukup berjasa dalam sejarah perkembangan bahasa Indonesia.

Kedua, penggunaan kata “Chinese” sepertinya mengacu pada bahasa Inggris untuk kata Cina yang lebih populer di telinga orang Indonesia. Walaupun setelah munculnya Keppres 14 Maret 2014, yang dikeluarkan SBY, istilah Cina itu dihapus dan kembali ke istilah etnis Tionghoa. Tidak terbatas pada penyebutan etnis Tionghoa, penyebutan Republik Rakyat Cina juga diubah menjadi Republik Rakyat Tiongkok. SBY juga menjelaskan, sehubungan dengan pulihnya hubungan baik dan semakin eratnya hubungan bilateral dengan Tiongkok, maka dipandang perlu sebutan yang tepat bagi negara People’s Republic of China dengan sebutan negara Republik Rakyat Tiongkok.

Ketiga, penulisan kata “Saefood”. Mungkin maksudnya adalah seafood atau makanan yang tersedia berasal dari laut. Apakah ini kesalahan tipografi atau kesengajaan penulis sebagai suatu proses kreatif dengn menggabungkan kata sae dan food? Kalau memang benar, artinya usaha pembentukan kata dengan menggabungkan kata sae dan food bisa saya apresiasi sebagai bentuk kreativitas. Hanya saja, saya tidak melihat adanya konsistensi dalam diksi. Sebaiknya, diksi atau pemilihan kata disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Asumsi saya, mungkin maksud atau arti dari penulisan tersebut secara harfiah adalah rumah makan yang menyediakan nasi uduk tradisional yang dikenal sejak zaman dahulu, menyediakan masakan khas Tiongkok, dan menyediakan jenis-jenis makanan yang berasal dari laut. Sebenarnya, bagi pencinta makanan seperti saya, tulisan tersebut tidak dipermasalahkan  selama pembeli masih dapat membayar dan masih sesuai lidah mereka. Namun, secara kebahasaan, terutama diksi yang digunakan, penulisannya tidak konsisten. Kalau mau menggunakan bahasa Inggris sebaiknya gunakan kaidah penulisan bahasa Inggris yang baik dan benar. Sebaiknya, dalam rangka pemartabatan bahasa negara, sebaiknya gunakanlah bahasa nasional, Bahasa Indonesia. Kalau terjadi percampuran seperti tadi, sudah terjadi interferensi bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia.

Pelajaran yang dapat saya petik pada hari itu bahwa kalau kita mau menulis, sebaiknya mengikuti kaidah kebahasaan yang baik dan benar. Namun, sepertinya generasi muda zaman sekarang tidak terlalu memperhatikan hal tersebut. Oleh karena itulah saya memberanikan diri menorehkannya di sini.

Penulis,  Guru SMAIT Al– Kahfi, Lido, Kabupaten Bogor.