MIMIKRI DALAM NOVEL DI BAWAH LINDUNGAN KA’BAH KARYA HAMKA

Nia Kurnia*

 

Faruk dan Fouchler (1999) telah melakukan pembacaan yang sama terhadap novel Siti Nurbaya  karya Marah Rusli. Mereka mencoba mengungkapkan peniruan (mimikri) yang terdapat dalam novel tersebut. Mereka mengungkapkan bahwa mimikri merupakan wacana yang ambivalen, yaitu wacana yang di satu pihak membangun persamaan, tetapi di sisi lain mempertahankan perbedaan.

Bhaba (1984) mengungkapkan bahwa mimikri merupakan kompromi yang ironis sehingga mimikri memiliki artikulasi ganda. Faruk (1999) menyatakan bahwa novel Siti Nurbaya seperti berpihak kepada Belanda padahal menentangnya. Tokoh-tokoh utama dalam novel tersebut mempunyai penampilan yang tidak dapat dibedakan dari anak-anak Belanda, tetapi mereka tetap pribumi. Artinya, Ia mengungkapkan bahwa mimikri yang terdapat novel tersebut berada dalam wacana anti kolonial. Namun, Fouchler (1999) tidak sependapat akan hal itu. Ia mengatakan bahwa novel tersebut berada dalam wacana yang ambivalen, yang selalu mendua. Mimikri yang dilakukan Siti Nurbaya dan Samsul Bahri selalu dalam pergulatan antara modernitas dengan kekolotan adat. Mereka melakukan peniruan dalam konteks membangun ke arah dunia modern.

Setelah novel Siti Nurbaya yang diterbitkan oleh Balai pustaka, lahirnya novel-novel yang lain yang menggambarkan wacana kolonial di dalamnya. Novel Di Bawah lindungan Ka’bah (selanjutnya ditulis DBLK) karya Hamka bisa jadi menjadi wacana residu dari sisa-sisa penjajahan.  Akan tetapi, jika dilihat dari tokoh-tokoh yang ada dalam novel DBLK tidak ditemukan tokoh yang mewakili kaum penjajah kolonial.

Novel DBLK menceritakan kisah muda-mudi Minangkabau yang saling jatuh cinta, yaitu antara Hamid dengan Zainab. Cinta mereka tidak terwujud karena Hamid merasa tidak sederajat dengan Zainab. Cinta mereka tidak sempat tersampaikan hingga ajal menjemput mereka.

Terkait dengan mimikri, novel DBLK ini tidak secara gamblang menghadirkan sosok penjajah dengan terjajah. Namun, praktik untuk melanggengkan kekuasaan pemerintah kolonial masih tercermin dalam novel tersebut. Pemisahan kelas sosial bagi masyarakat pribumi pun masih terjadi. Hamid merupakan pribumi kelas rakyat yang mendapat kesempatan untuk sekolah di HIS dan Mulo yang berbahasa pengantar Belanda karena ia dijadikan anak angkat Haji Ja’far yang berstatus pribumi bangsawan.

Dalam hal ini, Hamid melakukan mimikri karena ia mendapat kesempatan sekolah di tempat kaum bangsawan pribumi yang bukan kelas sosial dia. Secara keilmuan Hamid boleh dikatakan mampu melakukan persamaan, tetapi di sisi lain ia tetap merasa berbeda karena teman-teman di sekolahnya tetap membuat jarak dengan cara mengolok-olok Hamid.  Hamid tetap ditempatkan pada status sosial yang berbeda, bahkan Hamid dikenal dengan sebutan si gila agama sehingga membuat Hamid sendiri malu ketika teman-temannya mengetahui kalau setelah lulus Mulo ia akan melanjutkan pendidikan ke sekolah agama.

Berdasarkan konsep fetis yang ditemukan dalam tulisan Faruk (1999), keadaan yang dialami Hamid menunjukkan bahwa pendidikan Belanda yang diterima Hamid tidak mampu mengubah indentitas semula yang dimiliki dia secara sosial dan identitas dia yang mapan dalam kehidupan yang kental dengan nuansa agama Islam. Oleh karena itu, setelah ia menyelesaikan pendidikan Mulo, ia tetap akan melanjutkan pendidikan ke sekolah agama.

Hamid dan ibunya tetap memosisikan diri sebagai rakyat biasa walau Hamid telah mengenyam pendidikan di HIS dan Mulo. Ia tetap memosisikan diri sebagai yang lain bagi keluarga Haji Ja’far. Status Hamid bagi keluarga Haji Ja’far tetap berada di bawah kekuasaan seorang Haji Ja’far sebagai sosok bapak yang memiliki kekuasaan (law of father) dalam keluarga.

Pendidikan yang diberikan Haji Ja’far kepada hamid merupakan proses persamaan terutama dalam kaitannya Hamid sebagai seorang laki-laki yang kelak akan berperan sebagai bapak yang memiliki kekuasaan bagi keluarganya. Akan tetapi, persamaan yang dimiliki Hamid tetap menunjukkan perbedaan, yaitu Hamid tetap saja dianggap sebagai orang luar yang tidak dapat sepenuhnya menunjukkan diri sebagai bagian dari keluarga Haji Ja’far.

Ketika Haji Ja’far meninggal terungkap jelas bahwa Hamid memang yang lain. Ia sudah tidak leluasa masuk ke rumah keluarga Haji Ja’far, bahkan istri Haji Ja’far menunjukkan ketegasan perbedaan itu ketika mengingatkan Hamid bahwa ia telah disekolahkan oleh Haji Ja’far. Akan tetapi, di sisi lain, istri Haji Ja’far menuntut persamaan terhadap Hamid, yaitu untuk menggantikan posisi law of father bagi Zainab setelah Haji Ja’far meninggal. Dalam hal ini Hamid berada dalam pergulatan antara memenuhi keinginan dirinya atau memenuhi keinginan tuannya. Akhirnya Hamid harus memilih persamaan yang telah dibentuk keluarga Haji Ja’far. Ia harus menasihati Zainab supaya mau menikah dengan kemenakan Haji Ja’far sesuai keinginan Haji Ja’far. Akhirnya, ia harus menunjukkan kekuasaanya dengan kata.

Hubungan Zainab dengan Hamid semasa hidup Haji Ja’far dan saat mereka sekolah di tempat yang sama menunjukkan kedekatan. Setelah Haji Ja’far meninggal dan pendidikan Mulo berakhir, mereka menjadi terasing. Haji Ja’far sebagai pemegang kekuasaan, serta yang telah memberikan kesempatan pendidikan yang sama kepada Hamid ternyata telah menjadikan ia sebagai manusia yang terasing. Hamid harus melanjutkan ke sekolah agama, sedangkan Zainab harus kembali pada peraturan adat yang tidak membolehkan perempuan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Zainab harus dipersiapkan menjadi seorang istri. Ia hanya diberi keterampilan menenun, menjahit, dan merenda.

Sebagai anak bangsawan, Zainab tetap tidak bisa mengelak dari dominasi kaum laki-laki yang menempatkan perempuan sebagai warga kelas dua. Zainab tetap diposisikan sebagai wanita Timur yang harus patuh kepada orang tua, harus mengalami masa pingitan, dan menjadi mesin produksi dengan cara melakukan kegiatan menjahit, serta menenun sebelum ia menikah yang pada akhirnya harus bergantung kepada seorang laki-laki.

Namun demikian, penggugatan terhadap dominasi laki-laki telah dilakukan oleh Zainab dengan menolak lamaran kemenakan ayahnya. Hal ini digambarkan dengan diterimanya penolakan itu karena ia termasuk lelaki terpelajar yang tidak mau memaksakan kehendak. Penolakan Zainab bisa dikatakan sesuatu yang hanya bersifat permukaan belaka, tetapi tetap menunjukkan esensi dirinya sebagai mahkluk yang lemah. Oleh karena itu, ia hanya pasrah dan menunggu cinta Hamid sampai ajal menjemput mereka.

Begitu pula dengan Hamid, ia harus berkamuflase menjadi seorang law of father pada saat tertentu, tetapi secara esensi ia tetap seorang laki-laki pribumi kelas rakyat yang tidak mungkin bisa menyatakan perasaan cintanya kepada Zainab yang berbeda kelas sosial. Selanjutnya, Hamid harus bersikap melarikan diri karena pendidikan yang ia terima sebagai bentuk persamaan ternyata telah menghasilkan sebuah kontak yang menumbuhkan rasa cinta yang harus menjadikan dirinya menjadi asing dengan perasaannya sendiri.

Melalui sikap Hamid dan Zainab, novel DBLK telah mengungkapkan bahwa wacana kolonial masih mengungkung mereka. Pembedaan kelas sosial yang telah diciptakan oleh kaum penjajah, serta pembedaan sekolah bagi kaum bangsawan pribumi dan rakyat pribumi telah menyebabkan tokoh Hamid dan Zainab berada dalam wacana ambivalensi dan apa yang dinyatakan Siegel (dalam Faruk 1999) sebagai fetis.

Melalui novel DLBK ini, mimikri yang ditunjukkan oleh tokoh Hamid dan Zainab merupakan mimikri yang sebatas permukaan, tidak menunjukkan perlawanan dengan maksud anti kolonial. Di dalam novel DLBK tersebut justru terungkap posisi manusia terjajah yang manut saja pada wacana dominan. Selain itu juga terungkap posisi manusia terjajah yang tetap mempertahankan wilayah domestik sebagai perempuan dan sebagai pribumi kelas rakyat. Tokoh-tokoh dalam novel ini akhirnya harus pasrah dan menyerahkan perasaan mereka kepada Tuhan.

*Peneliti di Balai Bahasa Jawa Barat