Malam 1000 Bulan

Malam 1000 Bulan adalah kumpulan sajak 11 0rang penyair Bandung. Kumpulan sajak ini diterbitkan oleh CV Jayaperkasa Utama pada tahun 1997 di Bandung. Kesebelas penyair Bandung tersebut ialah Acep Zamzam Noor, Agus R. Sarjono, Beni R. Budiman, Diro Aritonang, Herwan FR, Juniarso Ridwan, Kurnia Effendi, Moh. Syafari Firdaus, Moh. Wan Anwar, Nenden Lilis, dan Soni Farid Maulana.

Kumpulan sajak penyair Bandung ini memuat 97 sajak. Sajak-sajak itu ialah (1) “Lautan, (2) “Kasidah Sunyi 1”, (3) “Kasidah Sunyi 2”, (4) “Kasidah Sunyi 3”, (5) “Arafah”, (6) “Jabal Rahmah”, (7) “Tarian”, (8) “Sujudmu Kuikuti”, dan  (9) “Para Kekasih”. Sembilan sajak itu merupakan karya Acep Zamzam Noor.

(10) “Saat Menjelang Subuh”, (11) “19 Ramadan, Anakku Sayang”. (12) “Puisi Berduka di Hadapan Ali”, (13) “Sebatang Pohon Kurma”, (14)”Bilal”, (15) “Inilah Jantungku, Makanlah”, (16) “Domba Betina” merupakan sajak karya Agus R. Sarjono.

(17) “Tahajud Sepanjang Kata”, (18) “Sepanjang Dzikir”, (19) “Kasidah Embun”, (20) “Kepasrahanku Dinyanyikan Ilalang”, (21) “Doa Mawar”, (22) “Maka Ramadan pun Usai”, (23) “Ke Jazirah Kupu-Kupu”, (24) “Inilah Tadarusku”, (25) “Mi’raj Burung-Burung” karya Beni R. Budiman.

(26) “Hikmah Puasa”, (27) “Tobat”, (28) “Dzikir”, (29) “Sajak Rindu”, (30) “Shalat Jumat di Mesjid Niu Jie”, (31) “Air Mata di Mesjid Huaisheng”, (32) “Malam Rajab”, (33) “Baitul Haram”, (34) “Baitul Mukaddas”, (35) “Quryat Arba”, (36) “Doa di Raudoh” karya Diro Aritonang.

(37) “Lanskap Malam”, (38) “Romantisme yang Merindukan”, (39) “Kucuri Kesadaran tentang Kematian”, (40) “Catatan Lelaki Tua Pengembara”, (41) “Di antara Lampu Damar dan Tikar Pandang”, (42) “Metamoefosa Waktu”, (43) “Instrumentalia Malam dalam Nada Mayor”, (44) “Pada Akhirnya”, (45) “Kucari Diri di Kesunyian”, (46) “Variasi Nada C Mayor” karya Herwan FR.

(47) “Masjid Al Aqsa”, (48) “Masjid Nabawi”, (49) “4 Macam Makhluk”, (50) “Degradasi Kegelapan”, (51) “Perjalanan Subuh”, (52) “Antara Shafa dab Marwah”, (53) “Sajak Melempar Jumrah”, (54) “Gua Hiro”, (55) “Antara Muzdalifah-Mina, (56) “Jabal Rahmah”, (57) “Arafah” karya Juniarso Ridwan.

(58) “Waktu untuk Cahaya” (59) “Lihat dan Dengarlah”, (60) “Engkau Maha Kasih Sayang”, (61) “Ingin Aku”, (62) “Zamzam”, (63) “Teringat Nuh”, (64) “Tanda-Tanda”, (65)I tikat” karya Kurnia Efendi.

(66) “Lewat Pukul Satu Dini Hari”, (67) “Witir”, (68) “Hujan”, (69) “Seusai Kubur”, (70) “Pesta Hujan III”, (71) “Senja itu Bernama Eva”, (72) “Fitri”, (73) “Saat Subuh Adzan Itu”, (74) “Komposisi karya Moh. Syafari Firdaus.

(75) Menziarahi Waktu”, (76) “Irama Tiang Gantungan”, (77) “Surat dari Si Fakir”, (78) “Sajak Pengembara, (79) “Wukup Dalam Diri” karya Moh. Wan Anwar.

(80) “Kutinggalkan Suara Daun-Daun”, (81) “Selepas Subuh”, (82) “Sebuah Cintaku, Kekasih”, (83) “Goa”, (84) “Engkau Selalu Bersamamu”, (85) “Pada Suatu Hari yang Teduh”, (86) “Sajak Anggur”, (87) “Pada Setiap Pertemuan, karya Nenden Lilis.

(88) “Panorama Ramadhan”, (89) “Kudengar Anak-Anak Mengaji”, (90) “Membangun Sujud”, (91) “Kembang Api”, (92) “Idul Fitri”, (93) “Sebutir Pasir”, (94) “Anakku Belajar Membaca Syahadat”, (95) “Syair Miras 1, (96) “Syair Miras 2”, (97) “Goresan Angin” karya Soni Farid Maulana.

Judul-judul sajak dalam kumpulan sajak Malam 100 Bulan ini membayangkan kesamaan tema sajak, yaitu sajak-sajak yang bertemakan keagamaan.