Puisi-Puisi Zulkifli Songyanan

LAPANG IBU TINI

Andai kau datangi kampung kami
lewat gang kecil di samping kiri Wisma Dewi
akan kau dapati, dulu, teduh pohon dukuh
sapa ramah Pak Lion dan Bi Acah
juga sebidang tanah tempat main bocah-bocah.

Kami selalu bergembira di situ.
Bernyanyi.
Berteriak.
Lari.
Jatuh.
Dan tertawa.

Meski ada juga kelahi dan tangis sesekali.

Lapang Ibu Tini tidaklah luas, sebenarnya.
Tapi cukup menampung
apa yang dibutuhkan anak-anak kampung.

Lapang Ibu Tini tanahnya merah
meski sedikit agak keras. Di ujungnya
serumpun pohon nanas. Kuburan.
Jalan setapak berkerikil. Rumah kayu.
Juga sebuah sumur
mencucurkan berkah seumur- umur.

Dan di ujung lainnya
ada tembok dan kaca jendela.
Warung kecil ladang usaha
sebuah keluarga.

Tembok, kaca, dan warung itulah sebenarnya
alasan mengapa kami selalu diusir
dan dimarahi
saat-saat tengah asyik main bola.

2017

CATATAN 2002-2017

Aku mencintai Singaparna
meski berkeras
meninggalkannya.

Alir sungai Cimerah
pernah bersekutu
dengan alir sungai darah
dalam diriku.

Tapi hidup tak kunjung
mengalir lancar karenanya.

Meski diselimuti kabut
serta lapisan awan
ketidakpastian
pucuk gunung Galunggung
kadang masih menampakkan
pucuk-pucuk keriangan
dan kebanggaanku.

Yang justru tiada artinya.

Sebuah kolam
di Bunisari yang pemalu
hingga sekarang
ternyata masih menampung
sumber kebodohan
dan kegiranganku.

Lalu hamparan sawah melenakan
sepanjang Leuwisari
Salawu
bahkan Cigalontang
entah sampai kapan
bakal bertahan
menumbuhkan bijian kenang
menenangkan.

Aku mencintai Singaparna
meski berkeras
meninggalkannya.

Gadis-gadis yang kucinta
telah juga pergi
meninggalkannya.
Burung-burung kecil
yang kukagumi
terus lahir dan mati
di dalam dekapannya.

Tapi peristiwa demi peristiwa
yang ingin sekali kulupakan:
semacam cinta monyet
yang kerap bikin malu perasaan
malah abadi seiring tangis
dan senyumannya.

Sebuah taman kota
di depan pasar kaki lima
yang tak kunjung tertata
adalah sebuah taman kota
yang tidak pernah kunjung tertata.

Tak ada bunga-bunga indah di sana.
Tiada pula ayunan
bangku-bangku, air mancur
atau bayang-bayang
senyum manis
kekasihku.

Tapi ajaibnya
seperti halnya keajaiban
di taman-taman kota lainnya
di taman ini—entah mengapa
orang-orang masih bisa tertawa
dan berbahagia.

(Mungkin karena tukang obat
atau tukang ular
tumbuh subur
di sana)

Di antara julangan pohon-pohon palem
deretan delman dan angkutan perdesaan
jajaran toko dan bangunan tua sekolah dasar
ada sebuah jalan yang terus melingkar.

Jalan cukup besar yang tidak pernah mati.

Di situlah aku pertama kali pergi
meninggalkan kota kecil
yang demikian aku cinta.

Sungguh aku gemetar
tiap kali mesti menghadapi kota ini
dengan puisi-puisiku
buku demi buku
jiwaku yang merana
hasrat yang terus menyala
juga kerisauan seorang yatim
akan masa lalu dan masa depannya.

Seorang ibu, tanpa suami
bertahun-tahun kutinggal
seorang diri.
Hanya masa kanakku
hidup di sampingnya.
Sisa hidupku
selanjutnya kekal
di dalam doa
dan kekhawatirannya.

Lantas jika kini aku hidup
dari satu kota ke kota lain
bertahan
dari satu kerisauan
ke kerisauan lainnya
tiada cukup alasan bagiku
mencari jalan pulang.

Hanya, meski tiap penyair
tak memiliki jaminan apa pun
di bumi
maut membayang
ke mana pun diri ini pergi
puisi—tali pusar
sekaligus ikat kafanku nanti
nyatanya, masih mengikat jiwaku
dengan udara dan tanah
cinta dan amarah
Singaparna.

Aku mencintai Singaparna
meski nyaris tidak pernah
merindukannya.

Sebuah layang-layang telah putus
dari benang halus
yang menerbangkannya.
Sebongkah batu telah terhempas
dari rahim gunung
yang memadatkannya.
Dan sebuah kisah baru terpisah
dari mulut seorang juru tutur
yang belum sempurna
menyuarakannya.

Sungguh aku mencintai Singaparna
meski tahu betul
bakal terus mengucapkan
selamat tinggal
kepadanya.

Dan seiring kegugupanku
menggubah madah cinta
aku kerap dilanda perasaan bersalah
sekalinya pulang
kota itu cuma bilang:
kau bukan apa-apa.
Kau bukan siapa-siapa.

2017

Zulkifli Songyanan, lahir di Singaparna, Tasikmalaya, 02 Juni 1990. Alumni program studi Manajemen Pemasaran Pariwisata, Universitas Pendidikan Indonesia. Belajar menulis puisi di Sanggar Sastra Tasik, Arena Studi Apresiasi Sastra, dan Komunitas Malaikat. Kumpulan puisinya yang baru terbit, Kartu Pos dari Banda Neira (Gambang Buku Budaya, 2017).