Media Sosial sebagai Media Komunikasi Tertulis

oleh:

Dini Khoerunnisa

 Ponsel yang terhubung dengan media sosial dewasa ini seolah-olah menjadi sebuah keharusan untuk dimiliki. Gawai seolah-olah menjadi kewajiban primer yang wajib dimiliki oleh  anak-anak, remaja, bahkan usia lanjut baik sekadar untuk swafoto, maupun update di media sosial yang saat ini semakin tumbuh subur.

Arus teknologi informasi kini kian tak terbendung. Semakin hari banyak media sosial baru bermunculan yang menarik minat para pengguna media sosial. Jika dulu kita hanya mengenal friendster dan pos-el sebagai media komunikasi di media daring, kini terdapat lebih banyak lagi media sosial yang dapat dimanfaatkan untuk berkomunikasi di media sosial, seperti  facebook, whatsapp, line, instagram, dan telegram.

Kemajuan media informasi ini memiliki dampak bagaikan dua buah mata pisau: positif dan negatif. Media sosial tentu memudahkan kita dalam berkomunikasi dengan orang terdekat atau dengan siapa pun dalam waktu singkat tanpa merasa dibatasi oleh jarak. Namun, dibalik itu, kemajuan media informasi ini juga tak pernah luput dari dampak negatif seperti kesalahpahaman yang timbul karena miss communication dan penyalahgunaan media sosial.

Kebanyakan media sosial menggunakan bahasa tulisan untuk medianya. Bahasa tulisan merupakan bahasa yang diungkapkan melalui media tertulis yang artinya tidak diungkapkan secara langsung oleh alat ucap. Bahasa tulisan ini tentu memiliki perbedaan yang cukup signifikan dengan bahasa lisan yang diungkapkan dengan bertatap muka. Dalam bahasa lisan kita mengenal adanya bahasa tubuh dan nada suara sebagai aspek yang mendukung bahasa. Melalui kedua aspek tadi, dapat diketahui bahwa si penutur sedang mengungkapkan rasa marah, senang, dan sebagainya. Sementara itu, dalam bahasa tulisan kita tidak mengenal kedua aspek tersebut. Walaupun dalam bahasa tulisan dibantu dengan simbol-simbol dan tanda baca, namun hal tersebut tetap saja masih kurang membantu sehingga tidak jarang muncul kesalahpahaman yang berakibat fatal.

Dalam berkomunikasi secara lisan, bahasa tubuh dan nada suara sangatlah penting untuk memperjelas dan mendukung maksud penutur. Misalnya jika dua orang sedang berkomunikasi dan salah satu penuturnya berbicara dengan intonasi tinggi, itu menandakan bahwa dia sedang marah. Akan tetapi, jika seseorang berbicara dengan tersenyum dan wajah berbinar-binar, itu artinya dia sedang bahagia.

Dalam berkomunikasi tertulis via media sosial kita tak akan mampu membedakan mana yang menandakan marah atau bahagia. Untuk sebuah tanda baca seperti tanda seru saja, dapat diartikan sebagai ‘seruan atau perintah’, ‘gambaran kesungguhan’, ‘ketidakpercayaan’, atau ‘rasa emosi yang kuat’. Oleh karena itu, berkomunikasi lisan secara langsung akan lebih bermakna lengkap daripada melalui tulisan.

Memanfaatkan media soaial memang tidak ada salahnya. Hal tersebut merupakan tuntutan zaman karena kita sekarang hidup di zaman millenial. Namun, kita jangan sampai melupakan komunikasi secara langsung atau secara lisan karena sebagai makhluk sosial kita pun harus berinteraksi dengan orang lain. Selain untuk menghindari kesalahpahaman dalam memaknai tuturan orang lain, berkomunikasi secara langsung pun membuat kita menjadi peka kepada sesama.

Penulis, Mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia.