Maryamah

Cerpen Linda Ayu Lestari*

Ketika berusia dua belas tahun, Maryamah kerapkali membayangkan bagaimana rasanya seorang perempuan melahirkan manusia. Sakitkah? Sebab Ibunya selalu mengatakan “Suatu saat kau akan rasakan betapa perihnya mengeluarkan seorang manusia dari rahimmu”. Maryam, sang ibu, mengatakannya secara berulang-ulang sembari memasukkan sesuap nasi ke dalam mulut Maryamah melalui sudut-sudut jarinya yang kotor.

Menurut pengakuan ibunya, ketika melahirkan Maryamah, tak ada seorang pun yang membantu proses persalinan, bahkan tak ada satu orang pun yang membantu mencucikan kain yang penuh noda darah persalinan hingga Maryam membiarkannya berkerak. Maryamah bergidik ngeri, takut membayangkan betapa panas dan perihnya sang ibu melahirkan sendirian, tanpa bantuan seorang dukun beranak di kampungnya.
***

Maryamah tak pernah merengek untuk minta dilahirkan. Namun ketika dirinya lahir tanpa keinginan siapapun_bahkan perempuan yang meminjamkan rahim untuk dirinya bersembunyi ketika masih menjadi janin, Maryamah nelangsa. Karena ia terlahir dengan stempel haram dalam dirinya. Kini usianya hampir delapan belas tahun, dan ia tidak punya teman laki-laki. Ibunya seorang perempuan penumbuk padi. Bapaknya? Ah entahlah, barangkali ia tak pernah punya bapak, sebab ia tak pernah mengenal seorang laki-laki. Ibunya, Maryam, yang setiap hari menyembunyikan kutu rambutnya di balik kain usang dan topi caping itu tak pernah mengenalkannya pada laki-laki. Sejak dulu, Maryam selalu mencekoki Maryamah dengan kata-kata “Dengar, Maryamah! semua laki-laki itu bajingan. Anggap saja mereka itu sebuah dosa sehingga kau tak perlu mendekatinya.”

Ah, Maryamah. Parasnya elok dan berlesung pipi, namun ada sedikit gingsul di gusinya akibat gigi borok yang tak pernah tercabut. Di mata Maryamah, dirinya adalah seorang perempuan. Perempuan Jawa tulen yang ayu, begitu kata neneknya sebelum meninggal akibat guna-guna yang dikirim oleh seseorang. Namun ketika bercermin, ia ngeri melihat wajahnya sendiri; alisnya yang tidak simetris, giginya yang gingsul, dan dadanya yang rata. Ah! Seburuk inikah diriku? Pikirnya. Lalu ia memandang potret Tyas Mirasih yang elok memakai atasan tanpa lengan dengan pose punggung tangan yang diletakkan di bawah dagu, dan bentuk bibirnya yang merah; yang selalu seperti minta dicium. Maryamah tertawa cekikikan sendiri. Dari pawon , terdengar ibunya berteriak minta dimasaki nasi.
***

Ketika berjalan, Maryamah harus terlebih dulu mengangsurkan kaki kirinya untuk melangkah sebab musabab penyakit polio yang pernah dideritanya di masa kecil yang juga tak kunjung mendapatkan pengobatan. Puskesmas jauh, kata ibunya. Rumah sakit, mahal biaya, katanya lagi. Untuk itulah ia perlu mengerahkan segenap tenaga dan memeras rasa malu yang berkepanjangan hingga ia tumbuh dewasa.
Maryamah tak pernah mengerti, barangkali ia tak harus mengerti; tak pernah tahu, barangkali ia tak boleh tahu alasan semua orang di kampungnya yang tak kunjung henti berbisik-bisik ketika ia berjalan terseok-seok melewati segerombolan perempuan penumbuk padi, nenek-nenek penjual sayur bosok yang berjejer di bibir jalan, serta pedagang yang menjajakan ikan di pasar pelelangan yang menyeruakkan bau amis bercampur busuk. Mungkin ia hanya dapat menangkap satu-dua kata yang menggaung dari bisik-bisik mereka; “__anak haram” kemudian hening sejenak, dan berlanjut dengan “__korban perkosaan.”
***

Satu-satunya lelaki yang Maryamah kenal hanya Karsa, seorang lurah di kampungnya. Karsa adalah pria yang memasuki tahun ke-lima puluh dalam kehidupannya, berbadan gempal, dengan rambut yang dicukur ke belakang sehingga kepala bagian depannya terlihat botak. Karsa menganggap Maryamah seperti puterinya sendiri. Namun, perasaan Maryamah berbeda. Mungkin karena hanya Karsalah satu-satunya lelaki yang mau dekat dengannya.

Entah mengapa laki-laki itu begitu baik padanya. Sejak Maryamah masih kecil, seringkali dibelikannya ia makanan ringan, jajanan, dan gula-gula yang dapat dibentuk menyerupai tubuh angsa, buaya, dan binatang lainnya. Itu dulu, sebelum Karsa masih ngojek sana-sini. Sekarang, ia sudah jadi lurah, kaya, dan punya istri cantik, namanya Jeng Farida. Jeng Farida dari dulu pemalas, maunya semua pekerjaan rumah tangga, pembantu yang kerjakan. Ia selalu ingin dipanggil Jeng, kalau dipanggil Yu , dia tidak mau. Maklum, gaulnya bukan dengan ibu-ibu di kampung yang suka rumpi sana-sini dan minum jamu keliling yang dijual Yu Darmi. Jeng Farida mainnya sama ibu-ibu konglomerat yang suka buat arisan jutaan rupiah dalam satu kali kocok. Padahal, dulunya Jeng Farida adalah seorang penjual emas keliling yang suka dikreditkan kepada ibu-ibu di kampung. Tapi sekarang, sejak menjadi istri Pak Lurah, ia menunjukkan dirinya yang sesungguhnya.
***

Satu minggu sekali setiap Rabu, Karsa menemui Maryamah di rumahnya. Sebelum Karsa datang, Maryamah harus memastikan dahulu bahwa ibunya telah pergi menengok ladang di sawah. Jika ia mendengar kata-kata “Aku pergi menengok ladang dulu. Nasi dan lauk harus sudah siap ketika aku kembali”. Saat itulah Maryamah akan mengenakan pakaian terbaiknya, yakni baju atasan putih berenda yang telah menguning di bagian ketiaknya.

Beberapa jam setelah itu, Karsa akan datang mengetuk pintu dan membawa makanan yang enak-enak. Makanan yang tidak dapat dibeli Maryamah di pasar dan di warung-warung sekitar rumahnya yang kebanyakan hanya jual kopi dan mie instan. Kemudian, Maryamah akan menceritakan hari-hari yang dilaluinya memasak dan menyiapkan nasi dan lauk-pauk untuk ibunya di sore hari dengan penuh kebosanan. Karsa sangat penyabar dan memiliki sifat kebapakan yang kuat. Ia menyayangi Maryamah. Rasa sayangnya terhadap Maryamah sangat tulus, sama tulusnya seperti sebuah taubat untuk penebusan dosa kepada Tuhan. Berada di samping Karsa, membuat Maryamah merasa nyaman. Ia seperti menemukan sebuah kunci untuk membuka pintu yang lama tertutup. Ketika Maryamah tertawa, Karsa juga ikut tertawa bersamanya, dan ketika Maryamah menceritakan sebuah kisah sedih, wajah Karsa yang seperti selalu tersenyum memudar dan garis-garis di sekitar matanya semakin tampak. Di lain tempat, Yu Asih, seorang wanita berbadan gemuk dan bermata juling tengah sibuk dengan telepon genggamnya.

“Halo, Jeng. Dia datang lagi, nih. Cepat ke sini ya!” Suaranya berbisik seakan takut akan ada orang yang mendengar. Di seberang telepon, seseorang lekas-lekas menutup sambungan.
***

Beredarnya desas-desus kedekatan Maryamah dan Lurah Karsa semakin santer di seantero kampung. Jeng Farida yang sejak awal mulai curiga dengan gerak-gerik suaminya, kini mulai geram karena banyak bukti yang mengiyakan bahwa Karsa, suaminya yang tak muda lagi itu, berhubungan gelap dengan Maryamah. Ia datangi rumah Maryam yang sudah tak kokoh lagi itu. Ia gedor pintu sekeras-kerasnya.
“Keluar kau, Maryamah! Berani-beraninya anak ingusan sepertimu main serong dengan suamiku!” Teriak Jeng Farida.

Dari dalam rumah, keluarlah Maryam mengenakan sarung batik yang melingkar di pinggulnya.
“Ada apa kau buat gaduh di depan rumahku?”
“Sombong sekali kau, Maryam. Memang kau punya apa berani bicara seperti itu kepadaku?” Jeng Farida mulai menantang dan terus menyerocos.
“Anak harammu itu, mana dia? Berani-beraninya dia menggoda suami orang. Keluar, kau Maryamah! Dari lahir sudah haram, sampai besar pun kau tetap haram, keluar!”

Mendengar keributan di sekitar rumahnya, Maryamah keluar dan menatap wajah ibunya yang merah padam dan penuh amarah. Ketika tahu Maryamah dekat dengan seorang lelaki, terlebih lagi lelaki itu adalah seorang lurah di kampungnya, ibunya berang. “Kau sudah tak sayang padaku lagi, Maryamah!”
“Maafkan Maryamah, Bu. Maryamah hanya ingin dekat dengan Lurah Karsa. Ia begitu baik. Mengapa selama ini Ibu melarangku untuk dekat dengan laki-laki?”
“Tak tahukah kau, aku begitu menderita melahirkanmu, anak sundel! Aku hanya tak ingin kau menderita sepertiku.” Maryam mulai memaki anaknya. Air mata menggenang di pelupuk matanya.

“Wanita ini.” Maryam menunjuk tepat ke arah jantung Jeng Farida. “adalah wanita pemalas! Tahukah kau, delapan belas tahun yang lalu aku bekerja untuknya? Aku mencuci baju-baju kotornya, celana dalamnya, bahkan aku pula yang menggosok lantai kamar mandinya. Tapi, suaminya yang bejat itu adalah bapakmu! Bapak kandungmu! Dan sekarang kau bilang bahwa kau ingin dekat dengannya? Apa kau sudah gila?” Seperti petir, Maryam menyambung kata-katanya dengan bibir yang bergetar.

“Kau tahu, Lurah Karsa itu laki-laki yang menghamiliku….” Ketika mengatakannya, Maryam seperti sedang menceritakan sebuah gosip yang tak pernah diketahui kebenarannya. Maryamah tak berkata-kata, bungkam. Dadanya sesak. Maryamah menangis. Bahagia? Entahlah. Penyesalan, barangkali.
Maryam masuk ke dalam rumah, membiarkan Jeng Farida dan Maryamah berdiri mematung di teras. Selang beberapa menit kemudian, dari dalam rumah, terdengar suara jerit kesakitan. Jerit yang rasanya sama seperti sesuatu yang tertusuk. ***

*Biodata penulis

Linda Ayu Lestari lahir di Indramayu, 10 Oktober 1994. Karena suka minta dibelikan majalah Bobo setiap minggu, ia mulai menulis sastra sejak usia Sekolah Dasar. Pecinta motif leopard (macan tutul), pembelajar bahasa Spanyol, dan suka nonton film drama percintaan yang kedua tokohnya tidak dapat hidup bersama.
Linda yang bercita-cita menjadi pengajar BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing) ini menggemari puisi-puisi Goenawan Mohamad dan Pablo Neruda. Tulisan pertamanya yang dimuat di media massa adalah cerpen yang berjudul “Aku dan Dia” (KaWanku Magazine edisi April 2012).
Saat ini Linda Ayu Lestari tercatat sebagai mahasiswa aktif Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Wiralodra. Berinteraksi langsung dengan Linda dapat menghubunginya di :
Hp : 085759803420
Pos-el : diary.linda@gmail.com
Instagram : @lalestaridalin
Alamat rumah : Blok Jembatan Cilendot RT 001/007 No. 03, Desa Rajasinga, Kecamatan Terisi, Kab. Indramayu, Jawa Barat 45262.