BIMA ARYA DAN GANJAR KURNIA RAIH ANUGERAH KAWISTARA 2017

Walikota Bogor, Dr. Bima Arya, mendapatkan penghargaan Kawistara 2017 untuk kategori pejabat publik. Penghargaan ini diraihnya setelah sepak terjangnya selama ini sebagai walikota yang peduli terhadap pemartabatan bahasa Indonesia mendapatkan apresiasi dari dewan juri. Sebagai pemenang, Bima Arya menyisihkan para nomine lainnya, yaitu Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi; Bupati Cirebon, Sunjaya Purwadisastra; Walikota Cirebon, Nasrudin Azis, dan Walikota Tasikmalaya, Budi Budiman.

Walikota Bogor, Bima Arya saat memberikan sambutan sebagai peraih Anugerah Kawistara 2017 dari Balai Bahasa Jawa Barat.

Bagi Bima Arya, penghargaan ini menjadi pelecut semangatnya untuk mendukung gerakan pemartabatan bahasa negara di ruang publik. Melalui kewenangannya sebagai Walikota, ia bahkan sudah mempersiapkan draf peraturan tentang penggunaan bahasa di wilayah Kota Bogor. Di akhir pidato sambutan sebagai pemenang, ia kemudian berjanji akan mengubah penamaan salah satu tempat yang telah menjadi ikon Kota Bogor yang asalnya berbau asing menjadi berbahasa Indonesia.

Selain kepada Bima Arya, Balai Bahasa Jawa Barat melalui keputusan dewan juri juga memberikan Anugerah Kawistara 2017 kepada Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA untuk kategori tokoh legenda bahasa dan sastra. Kepeduliannya selama ini, baik saat menjabat sebagai rektor Unpad maupun setelahnya, terhadap bahasa dan sastra membuatnya mendapatkan apresiasi yang tinggi dari Balai Bahasa Jawa Barat.

Ganjar Kurnia sebagai peraih Anugerah Kawistara 2017 untuk kategori legenda pegiat bahasa dan sastra.

Selain kepada dua tokoh Jawa Barat tersebut, Balai Bahasa Jawa Barat memberikan Anugerah Kawistara 2017 kepada RRI Bandung untuk kategori lembaga dan TBM Bina Kreasi Muda Sumedang untuk kategori komunitas literasi. Selama ini, Balai Bahasa Jawa Barat memang telah bekerja sama dengan RRI Bandung dalam bentuk siaran Pembinaan Bahasa Indonesia. Adapun TBM Bina Kreasi Muda dipilih berdasarkan kiprahnya selama ini dalam kegiatan literasi di wilayah Sumedang.

Untuk tahun 2017, Balai Bahasa Jawa Barat mempercayakan penilaian kepada tiga juri, yaitu Prof. Dr. Cece Sobarna, Abdullah Mustafa, dan Imam Jahrudin Priyanto. Pemilihan dewan juri ini berdasarkan kapasitas mereka di bidangnya masing-masing.

Kegiatan penganugerahan ini dilaksanakan di Hotel Prime Park, Jalan P.H.H. Mustofa No. 47/67, Bandung, Rabu 1 November 2017. Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Prof. Dr. Dadang Sunendar, M.Pd. tampak hadir dalam kesempatan itu. Bahkan, bersama Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, Prof. Dadang Sunendar terlibat dalam gelar wicara yang dipandu oleh Gira Mayang Septantia, Duta Bahasa Jawa Barat 2008.

Dalam kesempatan gelar wicara tersebut, Kepala Badan Bahasa menegaskan bahwa bahasa Indonesia adalah anugerah yang luar biasa bagi bangsa ini. Untuk itu, bahasa Indonesia perlu dijaga dan dipelihara bukan hanya oleh pihak pemerintah melainkan juga oleh seluruh masyarakat Indonesia. “Yang dijaga dan dirawat bukan hanya bahasa Indonesia, melainkan juga bahasa dan sastra daerah,” Ujarnya menegaskan.

Gelar wicara di sela-sela acara Anugerah Kawistara 2017 menghadirkan Kepala Badan Pengembangan Bahasa, Prof. Dr. Dadang Sunendar, M.Pd. dan Ketua Dewan Kebudayaan Jawa Barat, Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA dan dipandu oleh Duta Bahasa Jawa Barat Tahun 2008, Gira Mayang Septantia.

Dalam kesempatan yang sama, mantan rektor Unpad yang sekarang menjabat sebagai ketua Dewan Kebudayaan Jawa Barat, Ganjar Kurnia menyoroti penggunaan bahasa asing di ruang publik. Menurutnya, selama ini di Indonesia sedang berlangsung penjajahan oleh bahasa. Bahasa Indonesia yang sejatinya adalah bukti kedaulatan dan kehormatan bangsa kini seakan tidak berdaulat lagi. Mengenai maraknya penggunaan bahasa asing ini, Ganjar mengatakan: “Saya curiga ini adalah suatu kesengajaan untuk menghilangkan ciri-ciri keindonesiaan.” Untuk mengatasi mengatasi keadaan ini, Ganjar lebih mendorong kepada komitmen pemerintah untuk lebih serius menjalankan amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 Tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan.

Selepas gelar wicara, kegiatan dilanjutkan dengan penjelasan ketua dewan juri, Cece Sobarna terkait hasil penilaian untuk Anugerah Kawistara 2017. Di hadapan para undangan yang berasal dari berbagai unsur masyarakat, seperti mahasiswa, dosen, komunitas literasi, media massa, Forum Bahasa Media Massa, duta bahasa Jawa Barat, dan para budayawan Jawa Barat, Cece menyebutkan bahwa pada dasarnya semua nomine memiliki kepedulian yang sama terhadap upaya pemartabatan bahasa dan sastra Indonesia dan daerah.

Kepala Balai Bahasa Jawa Barat, Drs. Sutejo saat memberikan sambutan dalam acara Penghargaan Kebahasaan dan Kesastraan “Anugerah Kawistara” 2017 di Hotel Prime Park, Rabu, 1 November 2017.

Dalam sambutan saat mengawali kegiatan ini, Drs. Sutejo sebagai Kepala Balai Bahasa Jawa Barat mengatakan bahwa Anugerah Kawistara merupakan wujud apresiasi dan penghormatan yang diberikan oleh Balai Bahasa Jawa Barat atas dedikasi dan konsistensi pihak-pihak yang peduli dan komitmen dalam pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra Indonesia dan daerah di Jawa Barat. Dalam kesempatan itu, Drs. Sutejo yang baru menjabat sekitar tiga bulan sebagai Kepala Balai Bahasa Jawa Barat menyatakan komitmennya pula untuk siap melayani sepenuh hati masyarakat Jawa Barat dalam bidang bahasa dan sastra.

Adapun berdasarkan rilis yang diterima dari panitia, kegiatan Anugerah Kawistara ini memiliki lima tujuan, yaitu (1) memberi dorongan yang positif dan membangun kepada para pejabat publik agar mereka lebih peduli lagi terhadap bahasa Indonesia dengan mewujudkan pembuatan perda atau kebijakan lain terkait dengan bahasa Indonesia dan daerah, (2) membangun komitmen seluruh organisasi (instansi) di Jawa Barat agar tetap peduli atau memperhatikan dan memberikan ruang khusus untuk bahasa dan sastra, (3) merangsang lahirnya tokoh legenda baru yang memiliki perhatian dan dedikasi dalam pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra Indonesia dan daerah serta mempunyai pemikiran atau visi misi terhadap bahasa Indonesia dan daerah sebagai bahasa nasional serta lambang identitas dan martabat bangsa, (4) memberi semangat terhadap komunitas agar tetap berkarya dan beraktivitas secara konsisten, dan (5) mempertahankan, menumbuhkan, dan memperkuat tradisi berbahasa dan bersastra di Jawa Barat.**MSH