Numbuk di Sue

Numbuk di Sue ‘Selalu Sial’ merupakan novel karya Moh. Ambri. Buku ini diterbitkan oleh Balai Pustaka, Jakarta. Cetakan ketiga tahun 1964, sedangkan cetakan pertama dan kedua tanpa tahun dengan tebal 102 halaman.

Dalam novel ini pengarang mengemukakan sikap para pelaku yang sungguh-sungguh melaksanakan niatnya meskipun banyak sekali rintangan. Novel ini mengungkapkan suasana kehidupan dan keadaan alam yang dialami oleh tiga anak remaja, yang berumur 13—16 tahun dalam perjalanan dari Bandung menuju pantai Cilauteureun, Pameungpeuk, Garut.

Novel ini menceritakan tentang tiga orang anak yaitu Emang, Momo, dan Dace yang telah berjanji apabila mereka lulus ujian, mereka akan pergi besma ke pantai Cilauteureun di daerah Garut Selatan. Emang berangkat dari Bandung, sedangkan Momo dari Leles, dan Dace dari Cisompet.

Sejak dari Bandung Emang sudah bernasib sial. Ketika ia jajan sate, uangnya ketinggalan di rumah. Kembalilah ia ke rumah dengan terburu-buru sambil menanggung malu. Demikian pula ketika ia telah berangkat dari Bandung sampai di stasiun Leles, ia ketinggalan bungkusan di kereta api. Untunglah bungkusanitu dapat ditemukannya kembali. Sesampainya di rumah Momo, nasib sial pula karena Momo sedang tidak ada di rumah. Rencana pergi ke Cisompet terpaksa diundur tiga hari.

Sebelum berangkat ke Cisompet, Emang dan Momo mampir ke rumah Dace di Garut. Berangkatlah mereka bertiga disertai Marhim pembantu Dace. Dari Garut ke Cikajang mereka naik delman. Dari Garut ke Cisompet mereka tempuh dengan berjalan kaki karena memang tidak ada kendaraaan apa pun meskipun semula Dace telah berjanji bahwa mereka kan dijemput dengan kuda tunggang. Ternyata nasib sial pula yang ditemui mereka, kuda-kuda tunggang yang telah dijanjikannya itu ternyata sudah dipakai rombongan dalem yangmau berburu.

Tiba di Cisompet ternyata keluarga Dace pun sedang tidak ada di rumah. Ayahnya seorang camat sedang ikut berburu dengan romobongan dalem, demikian pula inunya sedang berada di pesanggrahan, di rumah itu hanya ada seorang nenek ditemani seorang opas kecamatan. Sambil menanti datangnya malam dan mengurangi rasa kesal, mereka bermain menuju hutan tempat orang berburu badak. Di hutan itu hampir saja Emang dipatuk ular.

Keesokan harinya mereka merencanakan berangkat ke pantai naik kuda, tetapi kuda-kuda yang dijanjikannya itu ternyata belum kembali dari perburuan.Mereka mencoba menunggang kudalain yang ditangkap oleh opas kecamatan. Nasib sial pula yang didapat karena kuda yang satu masih perlu diajari dan tidak kuat ditunggangi.

Kira-kira pukul lima sore mereka baru sampai di Pameungpeuk setalah menempuh perjalanan jauh melewati hutan dan jalan yang naik turun. Sampailah mereka ke pantai Cilauteureun. Akibat kecapaian dan berbagai kesialan yang telah mereka alami dapat terbayar dengan keindahan ombak yang memecah, berkejaran menyusur pantai. Selepas isya mereka baru kembali. Di perjalanan perut mereka terasa lapar, bekal telah habis, warung pun tidak ada karena jauh dari kampung.

Pagi harinya Emang dan Momo berpamitan mau pulang. Meskipun pribumi menahannya, mereka tetap memaksa ingin cepat kembali. Hari masih pagi, pada awal bulan puasa langka tersedia makanan untuk sarapan pagi. Untunglah Embok Mandor masih punya nasi sisa yang sudah kering, bubuk ikan asin dan sambal, serta petai yang masih mentah. Di tengah perjalanan perut mereka terasa tida k beres, sakit melilit. Semalaman mereka berjalan dari Cisompet ke Cikajang sambil mata kepayahan menahan kantuk. Dari Bayongbong ke Garut mereka naik delman. Di sanalah Emang dan Momo berpisah.