Si Kabayan: Mencari Tutut

Terjemahan Buku Si Kabayan Karya M.O. Koesman 

1. Mencari Tutut

Seisi rumah sudah bangun semua. Mertuanya sudah berangkat ke huma, istrinya sudah lama berada di dapur, memasak air dan menanak nasi.

Tetapi Si Kabayan masih saja tiduran di kamarnya. Setiap dipanggil istrinya, jawabannya selalu hanya “Nanti sebentar lagi, tanggung lagi mimpi.”

Istrinya merasa jengkel mendengar jawabannya, akhirnya dibiarkan saja.

Semakin dibiarkan, Si Kabayan tidurnya semakin lelap saja, suara dengkurannya terdengar dengan jelas.

Istrinya mengintip di sela-sela lubang bilik, dilihatnya Si Kabayan sedang telentang, tidak memakai baju, perutnya menyembul, rambutnya kusut.

Istri Si Kabayan mengambil joran pancing, tidak berpikir dua kali langsung ditusuknya perut suaminya.

Si Kabayan terbangun karena kaget, sambil berteriak-teriak, “jaga di bawah, hati-hati lepas!”

“Apa yang dijaga di bawah?” Si Iteung membentak.

Si Kabayan lalu bangun, melihat istrinya berdiri sambil membawa joran pancing, “Kamu mengganggu saja! Saya lagi mimpi nangkap ikan mas. Jadi lepas lagi, kamu ganggu, sih!”

“Jangan bicara melantur. Lebih baik sana, cari lauk buat makan! Nasinya sudah matang, memangnya mau makan sama garam saja?”

“Mencari lauk untuk makan ke mana? Hari udah terlalu siang begini”.

“Ke mana saja. Cari tutut saja sana! Kita buat sayur. Buat bumbunya masih ada.”

Si kabayan menggeliat sambil menggaruk-garuk kepalanya dan langsung pergi ke luar rumah sambil menggerutu.  “Lagi enak-enak mimpi, diganggu!”

“Memangnya tidak akan ke kamar mandi dulu?” Tanya istrinya.

“Enggak,” Jawab Si Kabayan, “nanti saja mandinya di sawah, biar airnya hangat.”

***

Si Iteung sudah lama menunggu di dapur, suaminya belum muncul juga.

“Kemana, ya itu makhluk? Lama sekali datangnya!” Si Iteung berbicara sendiri.

Karena Si Kabayan tidak pulang-pulang, akhirnya Si Iteung pergi menyusul.

Terlihat suamiya sedang jongkok di pematang sawah sambil memegang bambu kecil yang panjang.

“Kamu sedang apa Kabayan?”

“Kan lagi mencari tutut. Bukannya mau dibuat sayur?”

“Masa nangkap tutut dikait kayu dari pematang sawah? Turun ke sawah, tangkap!”

“Tidak mau, takut tenggelam. Tuh lihat dalam sekali, sampai-sampai langit saja kelihatan. Memangnya kamu mau jadi janda?”

Si Iteung merasa jengkel. Langsung saja suaminya didorong.

Si Kabayan terjatuh ke sawah yang baru saja ditandur sambil berteriak “Eh, ternyata dangkal…!”

Si Iteung cemberut. Langsung balik badan pulang ke rumahnya sambil menggerutu, “Nanti kalau mencari tutut lagi jangan dikait dengan galah. Tangkap pakai jala!”

 

Diterjemahkan oleh: Taufiq Awaludin