Si Kabayan: Memetik Nangka

2. Memetik Nangka

SI Kabayan sedang sibuk dari pagi, dia duduk di dekat kapuk yang disimpan dalam keranjang besar.

Si Kabayan ternyata sedang membuat damak  untuk menyumpit di sawah.

Damak baru selesai satu, kapuk sudah berserakan.

Mertuanya berbicara, “Kabayan, nangka yang di dekat selokan sudah matang, tadi Bapak lewat sana, wanginya tercium harum sekali: coba tolong petikkan, takut ada yang maling.”

“Kenapa bukannya langsung Abah petik saja, kalau tahu sudah matang?” Jawab Si Kabayan sambil berdiri.

“Justru itu susah. Tadi pikulan sudah penuh,” kata mertuanya.

Si kabayan turun dari rumah, lalu pergi menuju pohon nangka yang di pinggir selokan. Tidak ditunda-tunda lagi, Si Kabayan langsung naik ke atas pohon. Diinjaknya nangka yang sudah matang tadi. Tidak susah.

Nangka langsung jatuh ke selokan yang airnya sedang deras mengalir. Nangka itu hanyut terbawa air. Si Kabayan berteriak dari atas pohon, “Sana, kamu pulang duluan saja ya nangka! Kamu kan sudah tua, masa tidak tahu jalan ke rumah!”

Lalu Si Kabayan turun. Tetapi tidak cepat-cepat pulang, karena dia akan ke kebun dulu untuk mencari buluh tamiang untuk dibuat menjadi sumpit.

Ketika datang ke rumahnya, Si Kabayan ditanya oleh mertuanya, “Mana nangkanya, Kabayan?”

SI Kabayan menjawab, “bukannya sudah pulang duluan dari tadi juga. Saya ke kebun dulu mencari buluh tamiang, nangkanya pulang sendiri lewat selokan.”

Mertuanya tidak menjawab, hanya terheran-heran saja sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Tersesat mungkin Kabayan, ke rumah orang lain” kata mertuanya.

“Iya mungkin! Biar saya cari.” Jawab Si Kabayan sambil pergi hendak mencari nangka yang sudah disuruhnya untuk pulang duluan tetapi tidak sampai ke rumah.

Di pinggiran kampung Si Kabayan bertemu dengan seorang anak angon.

“Jang, tidak lihat nangka?” Si Kabayan bertanya.

“Nangka?” Jawab anak angon. “Tadi Abah Asik yang terlihat memanggul nangka. Tuh itu, yang rumahnya di bawah pohon melinjo.”

Si Kabayan langsung pergi menuju rumah Abah Asik. Tetapi terlihat di rumahnya sedang tidak ada siapa-siapa. di halaman rumahnya ada seekor kambing yang sedang memakan kulit nangka. Tanpa berpikir panjang, kambing itu langsung dituntun oleh Si Kabayan, dibawa pulang.

“Bah, nangkanya habis dimakan kambing , kambing aja buat gantinya!” kata Si Kabayan kepada mertuanya. Lalu kambing tersebut dibawanya ke belakang rumah.

Tidak lama berselang, yang punya kambing datang. Baru saja masuk ke halaman rumah, Si Kabayan langsung menegurnya, “Bah Asik, nangka saya tersesat ke rumah Abah. Tadi sudah disuruh pulang duluan tapi lupa jalan pulang ke rumah, malah belok ke rumah Abah. Sama Abah bukannya ditunjukkan ke mana jalan ke rumah saya, eh malah dipotong.

Abah Asik tidak menjawab, tetapi malah balik bertanya, “Ada kambing Abah ke sini?”

“Tidak tahu kambing Abah atau kambing siapa, tadi ada kambing masuk ke pekarangan rumah. Sepertinya tersesat, tidak tahu jalan. Ah, tidak banyak pikir lagi, langsung saja saya potong. Lumayan buat lauknya nasi.”

“Aduh, Jangan Kabayan, kambing hanya satu-satunya! Biar nanti nangka, Abah ganti sama yang lebih besar.”

“Petik saja dulu nangkanya, lalu bawa ke sini sama Abah, takut tersesat lagi! Mudah-mudahan kambingnya belum dipotong sama mertua saya.”

Abah Asik cepat-cepat pulang ke rumahnya. Beberapa saat kemudian sudah datang kembali dengan membopong dua buah nangka yang sudah matang. Lalu diletakkannya di atas tangga depan rumah.

“Nih Kabayan, nangkanya! Kalau kambing Abah sudah disembelih?”

“Belum, Bah. Kebetulan tadi golok mertua saya ketinggalan di huma. Sekarang juga mertua sayanya belum pulang dari mengambil goloknya.”

“Syukur Kabayan, kalau belum disembelih.”

Abah Asik pulang dengan menuntun kambingnya. Sedangkan Si Kabayan masuk ke dapur sambil membopong dua buah nangka yang besar-besar.

Mertuanya hanya bisa menahan tawa di belakang pintu, mendengar Si Kabayan berbantahan dengan Abah Asik.

 

Diterjemahkan oleh : Taufiq Awaludin