Sulitnya Penerjemahan Sastra

Ditulis oleh Arsenii Shack

Seberapa sering Anda membaca buku dari penulis asing? Apakah Anda membacanya dalam versi asli atau versi terjemahan ke dalam bahasa Anda? Coba kita pikir sejenak: berapa banyak karya sastra yang tidak dapat kita baca tanpa adanya penerjemah, yang siap untuk membukakan dunia virtual yang diciptakan di halaman buku?

Penerjemahan sastra adalah seni; ini merupakan kreativitas yang tidak sesuai dengan ketepatan arti kata. Namun, apa yang terjadi selanjutnya? Bahwa ternyata penerjemah karya sastra sebenarnya seorang penulis yang hampir-hampir menulis ulang dan menciptakan kembali buku bagi pembaca. Dalam hal ini Anda tidak dapat melakukannya tanpa adanya “hadiah dari penulis”. Bukan tanpa alasan, banyak penerjemah menganggap penerjemahan jenis ini menjadi salah satu yang paling sulit dalam profesi ini.

Hal ini tidak dapat dibandingkan dengan penerjemahan negosiasi bisnis karena frasa-frasa resmi harus memberikan informasi yang orang lain harapkan. Hal ini berbeda dengan interpretasi, dimana respon cepat dan kata-kata yang tepat adalah yang paling penting tetapi tidak adanya keselarasan dapat dimaklumi. Terjemahan sastra dari bahasa apapun tetap harus dilakukan dengan cara itu agar suasana cerita, dan gaya penulis tetap dipertahankan.

Omong-omong, apakah Anda pernah berpikir, bahwa ketika Anda membicarakan mengenai kekaguman Anda terhadap seorang penulis asing, Anda sebenarnya mengagumi tingkat keterampilan penerjemah yang menerjemahkan tulisan tersebut untuk Anda? Mampu membuat teks menjadi mudah dibaca dan menarik, serta mempertahankan gaya asli penulis dan menyampaikan gagasan penulis adalah karunia juru bahasa yang mengambil pekerjaan ini. Penerjemah harus menguasai teori dan praktik penerjemahan sastra di sepanjang hidupnya.

Jadi, tidak heran apabila penerjemahan sastra memiliki banyak fitur, dan tentu saja, kesulitan tertentu. Pertama, adalah kurangnya ketapatan arti kata dalam terjemahan. Terjemahan semacam ini tidak dimaksudkan untuk dilakukan secara harfiah, kata demi kata. Itulah sebabnya mengapa terjemahan sastra merupakan sebuah subjek ketidaksepakatan di kalangan akademisi dan penerjemah.

Kedua, penerjemahan kata-kata mutiara dan idiom. Masalah ini awalnya terlihat tidak terlalu rumit tetapi untuk menerjemahkannya memerlukan banyak kosakata dan ketersediaan kamus khusus. Ketiga, permainan kata-kata dan humor. Salah satu momen paling menarik dalam penerjemahan sastra adalah ketika teks yang diterjemahkan memiliki implikasi humor atau ironi. Sangatlah penting untuk memiliki keahlian khusus untuk mengatur dan menjaga permainan kata-kata yang penulis maksud.

Dan keempat, penyesuaian gaya bahasa, budaya dan zaman. Penerjemah teks sastra dalam beberapa hal harus menjadi peneliti. Sulit untuk menerjemahkan teks dari zaman dan budaya yang berbeda, jika Anda tidak akrab dengan fitur-fiturnya. Sekali lagi, kita sampai pada fakta bahwa penerjemah harus berbakat. Jika Anda tidak berbakat, Anda tidak akan pernah menjadi seorang master, yang karya-karyanya akan dibaca dengan riang dan gembira.

 

Diterjemahkan oleh Taufiq Awaludin

Sumber: http://translationjournal.net/October-2015/difficulties-of-literary-translation.html