Guru dan Tata Kelola Bahasa Daerah di Jawa Barat

Kamis, 8 Februari 2018, Balai Bahasa Jawa Barat memfasilitasi kegiatan diskusi terpumpun (focus group disscusion) Ikatan Guru Indonesia (IGI) Wilayah Jawa Barat bertema “Peningkatan Kompetensi Guru Bahasa Sunda”. Kegiatan itu dihadiri ekosistem pendidikan di Jawa Barat, antara lain, perwakilan Dinas Pendidikan Kota Bandung, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, MGMP Bahasa Sunda Provinsi Jawa Barat, perwakilan guru bahasa daerah (Sunda), dan mahasiswa UPI.

Hadir sebagai narasumber kegiatan tersebut, Dr. (HC) Hj. Popong Otje Djundjunan. Ceu Popong, panggilan akrab  anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia tersebut, menekankan pen-tingnya penyamaan persepsi tentang po-sisi bahasa daerah (Sunda) dalam spek-trum berbangsa dan bernegara. Alumnus FKIP Unpad (kini UPI) itu mengawali pembicaraan  de-ngan mengurai ta-hapan sejarah pem-bentukan Negara Republik Indonesia. Secara ringkas, tahapan terbentuknya Negara Republik Indonesia terdiri atas lima tahap. Tahap ke-1: pembentukan bangsa atau nation building pada 1908. Kedua, tahap pembentukan karakter bangsa atau character building dalam peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Ketiga, tahap Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Keempat, pendirian negara melalui pengesahan UUD 1945 pada 18 Agustus 1945. Tahap kelima: pemertahanan dan pengisian kemerdekaan negara-bangsa.

“Setiap orang ada waktunya dan setiap waktu ada orangnya”, ujar Ceu Popong. Saat ini, kitalah orang-orang yang hidup pada masa pengisian kemerdekaan bangsa. “Kemerdekaan itu tidak diperoleh dengan cuma-cuma dan bukan hadiah atau pemberian dari bangsa mana pun”, imbuhnya. Dalam periode pengisian kemerdekaan ini di-perlukan manusia-manusia Indonesia yang mampu beker-ja keras, bekerja cerdas, bekerja ikh-las, dan bekerja tuntas. Di antara ci-ri kecerdasan ada-lah kemampuan menguasai lebih dari satu bahasa. Setidaknya manusia Indonesia harus mampu berbahasa daerah, berbahasa Indonesia, dan menguasai satu bahasa internasional. Demikian ikhtisar paparan dan nasihat tokoh Jawa Barat yang sempat mengecap empat zaman itu.

Selepas zuhur, acara dilanjutkan dengan diskusi antarpeserta dengan mengangkat topik tentang permasalahan yang dihadapi para guru bahasa daerah di Jawa Barat. Peserta utama yang berasal dari perwakilan guru bahasa daerah di Jawa Barat (Majalengka, Banjar, Cianjur, Cimahi, Tasikmalaya, Bandung) tampak antusias mengikuti diskusi tersebut. Berbagai persoalan pengajaran bahasa daerah di sekolah diungkap dengan lugas, seperti jumlah jam pelajaran yang tidak memadai, tidak seluruh sekolah di Jawa Barat menerapkan pelajaran bahasa daerah dalam struktur pembelajaran, kurangnya tenaga pendidik mata pelajaran bahasa daerah, dsb. (AB)

Berita terkait:

jabarekspres.com/2018/bahasa-sunda-makin-tergerus/