DIKSI PENANDA PERBEDAAN GENERASI

oleh Widiana Shinta Dewi.

Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh manusia sebagai penunjang dalam berinteraksi. Sementara itu, ragam bahasa adalah variasi bahasa yang dapat dibedakan berdasarkan pemakaiannya, seperti berdasarkan topik pembicaraan, hubungan pembicara dengan lawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicaraan (Bachman).

Seiring dengan kemajuan zaman, beberapa hal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari pun mengalami perubahan variasi, termasuk bahasa. Di zaman yang sudah serba maju seperti sekarang ini, tidak sedikit masyarakat yang mengganti variasi bahasa dalam kehidupan sehari-hari, namun tidak mengurangi fungsi dari bahasa itu sendiri.

Dalam bahasa Latin, “remaja” berasal dari kata adolensence yang berarti ‘tumbuh menjadi dewasa’. Secara psikologi, “remaja” adalah suatu masa atau transisi dari remaja awal menuju dewasa awal. Perkembangan ini biasanya dimulai dari usia 10 atau 12 tahun hingga usia 18 atau 22 tahun. Dalam masa inilah beberapa perubahan muncul dalam diri remaja, seperti perkembangan fisik, perkembangan pola pikir, adanya emosi yang meluap-luap, mulai menyukai lawan jenis, memiliki rasa ingin diperhatikan, dan biasanya terikat dengan kelompok.

Selain itu, menjadi remaja secara otomatis menerima beberapa tugas dan tanggung jawab, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun dalam bersosialisasi dengan masyarakat luas. Tugas dan tanggung jawab tersebut di antaranya adalah menerapkan norma-norma dan aturan lain yang berlaku dalam masyarakat, belajar memiliki peran sesuai tingkatan usia dalam hidup bermasyarakat, dan belajar menjadi mandiri dalam upaya proses pencarian jati diri. Dalam proses pencarian jati diri inilah, biasanya remaja mulai bergaul atau berinteraksi dengan lingkungan yang lebih luas. Hal ini biasanya ditandai dengan bergabung dalam kelompok bermain di sekitar rumah atau di lingkungan sekolah.

Bahasa merupakan salah satu ciri pembeda antara kelompok remaja dan dewasa atau orang tua. Para remaja cenderung menggunakan bahasa gaul atau kekinian yang lebih bervariasi dibanding dengan kelompok orang dewasa atau orang tua.

Perbedaan penuturan ragam bahasa antara remaja dan orang tua dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti lingkungan tempat tinggal remaja dan status sosial ekonomi keluarga. Remaja masa kini cenderung menggunakan bahasa Indonesia yang diperpendek pengucapannya dan terdapat pula kasus dalam satu kalimat terdapat alih bahasa yang berasal dari bahasa Indonesia dan bahasa Inggris atau dari bahasa daerah dan bahasa Indonesia.

Penulis melakukan wawancara kepada dua narasumber untuk mengetahui perbedaan penuturan bahasa yang diucapkan oleh remaja dan orang dewasa. Salah satu narasumber tersebut remaja berusia 16 tahun dan narasumber lain dewasa berusia 22 tahun. Dalam proses identifikasi ini, penulis mencoba untuk membedakan ragam bahasa yang digunakan oleh kedua narasumber yang telah ditranskrip seperti berikut.

Narasumber 1 (16 tahun):

A: “Dek, tadi di sekolah kegiatannya apa aja?”
B: “Banyak Mbak.”
A: “Apa aja coba?”
B: “Sebenernya ga ada pelajaran sih tadi tuh Mbak, tapi ekskul, kan mau ada lomba gitu, jadi tadi nyiapin buat lombanya gitu. Asli Mbak itu mah ya capek buanget. Masa dari pagi sampe sore coba kaya ga ada istirahatnya.”
A: “Wah, kok bisa gitu?”
B: “Iya Mbak, secara gitu ya guru ekskulnya tuh killer banget.”
A: “Ah udah biasa yang gitu mah.”
B: “Please ya Mbak ini mah lebay banget, kan dari awal kalo ekskul emang boleh bawa hp ya, masa tadi aku pas istirahat di telfon ibu langsung dimarahin coba, kan ngakak.”
A: “Loh kenapa gitu?”
B: “Ya ga tau aku juga.”

Narasumber 2 (22 tahun)

A: “Kemarin hujannya deres banget ya?”
B: “Ih iya, banjir di Cimahi juga.”
A: “Iya gitu? Sebelah mana?”
B: “Di deket Alun-Alun Cimahi katanya, depan SD kalo ga salah. Itu air dari mana ya? Perasaan di atas mah jarang banjir, tapi kok bisa banjir sampe seperut gitu ya?”
A: “Itu mah selokannya mampet kayanya.”
B: “Iya kali ya, da hujannya juga deres pisan. Cuma sebentar sih emang, tapi deres banget.”
A: “Iya.”
B: “Oh yang banjir parah mah di daerah Antapani atau Cicaheum gitu. Itu mah ya imbasnya teh tadi pagi sampe macet banget yang arah mau ke Cicaheum teh.”

            Dalam percakapan dengan kedua narasumber tadi, dapat diketahui siapa yang cenderung menggunakan lebih banyak variasi gaya bahasa dalam berbicara. Dalam diksi narasumber remaja berusia 16 tahun, terdapat alih bahasa serta gaya bahasa yang tidak biasa dalam bahasa Indonesia, seperti kata asli, buanget, killer, please, dan secara. Beberapa kata tersebut disisipkan dalam sebuah kalimat untuk menyatakan penekanan, seperti pada kata buanget yang berarti sangat.

Walaupun usia 22 tahun belum benar-benar bisa disebut dewasa, namun tetap terdapat perbedaan antara remaja 16 tahun, terutama dalam hal ini adalah penggunaan variasi bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Narasumber remaja berusia 16 tahun lebih banyak menggunakan variasi gaya bahasa daripada narasumber berusia 22 tahun. Dapat dilihat bahwa narasumber berusia 22 tahun lebih sering menggunakan bahasa Indonesia pada umumnya dan tidak terdapat variasi bahasa maupun alih bahasa seperti yang diungkapkan narasumber berusia 16 tahun.

Berdasarkan observasi tadi, dapat disimpulkan bahwa antara narasumber berusia 16 tahun yang lahir pada tahun 2000-an dan narasumber berusia 22 tahun yang lahir pada tahun 1990-an memiliki variasi gaya bahasa yang berbeda. Hal ini dapat terjadi karena beberapa faktor pendukung, seperti faktor sosial dan lingkungan sekitar.

Penulis adalah Mahasiswa UPI Bandung.