Nyiar Lumar: Sebuah upaya Pelestarian Budaya

Wayang Landung Panjalu yang ikut menyemarakkan acara Nyiar Lumar sedang menunggu giliran tampil di depan panggung.

Sabtu, 28 Juli 2018 di kecamatan Kawali, kabupaten Ciamis, Jawa Barat telah diselenggarakan Seni Helaran Nyiar Lumar yang ke-10. Tujuan Nyiar Lumar ini, yaitu untuk mendekatkan masyarakat dengan alam dan melestarikan budaya yang nantinya akan menjadi sebuah tradisi jika terus dilaksanakan hingga 90 tahun. Nyiar Lumar berasal dari dua kata, yaitu Nyiar dan Lumar. Nyiar berarti ‘mencari’ dan lumar berarti ‘jamur bercahaya’. Godi Suwarna, selaku penggagas Nyiar Lumar, mengatakan bahwa kegiatan tersebut diibaratkan sebagai orang yang mencari cahaya untuk bekal hidup dengan belajar dari sejarah.

Nyiar Lumar adalah acara kesenian dua tahunan yang digagas oleh sastrawan Sunda Godi Suwarna, Dadang Q Mos, Eddy Rusyana, dan Pandu Radea. Nyiar Lumar pertama diselenggarakan pada tanggal 20 Mei 1998, sehari sebelum kelengseran Presiden Soeharto. Pada saat itu, Godi Suwarna dan Dadang Q Mos khawatir adanya pembubaran acara dan penangkapan panitia karena di tengah-tengah acara ada beberapa pengunjung yang berteriak “Gantung Soeharto!”. Akan tetapi, kekhawatiran tersebut tidak terjadi karena acara berlangsung hingga selesai dan keesokan harinya Presiden Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya.

Nyiar Lumar pertama sampai dengan ketujuh masih diprakarsai oleh para pelaku seni di Ciamis dan didukung oleh mahasiswa. Akan tetapi, sejak Nyiar Lumar kedelapan, kegiatan ini mulai menjadi agenda dua tahunan Pemerintah Kabupaten Ciamis melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Menurut Godi Suwarna, hal tersebut dilakukan agar acara Nyiar Lumar menjadi acara yang penyelenggaraannya berasal dari rasa kebermilikan masyarakat. Selain mengharapkan sumbangsih dari masyarakat, acara tersebut juga mengharapkan dukungan dari DPRD Kabupaten Ciamis, Disbudpora Kabupaten Ciamis, dan Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis.

Bebegig Sukamantri ketika sedang mengisi acara Nyiar Lumar di Kawali, Kabupaten Ciamis (Sabtu, 28/07/2018).

Nyiar Lumar diadakan di Kantor Kecamatan Kawali dan Situs Astana Gede. Acara tersebut diadakan di kecamatan Kawali karena dulu tempat tersebut adalah pusat pemerintahan Kerajaan Sunda Galuh. Situs Astana Gede dipilih karena dalam situs tersebut terdapat petilasan dan abu jenazah Raja Linggabuana dan Putri Dyah Pitaloka. Selain itu, terdapat pula sendang dan sungai Cikawali tempat Putri Dyah Pitaloka mandi.

Nyiar Lumar terdiri atas tiga rangkaian acara, antara lain Sidekah Sanduk, Pra Nyilum, dan Nyiar Lumar. Acara Pra Nyilum terdapat beberapa helaran dan atraksi. Beberapa helaran dan atraksi, yaitu Buta Kararas dari Panjalu, Bebegig Baladewa dari Sukamantri, Wayang Landung dari Panjalu, Kesenian Pontrangan dari Cimaragas, dan Debus Mojokerto sebagai penutup acara Pra Nyilum.

Dialog budaya dalam rangka Nyiar Lumar dihadiri pula oleh Mantan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi.

Rangkaian acara dilanjutkan dengan Nyiar Lumar. Nyiar Lumar terbagi atas tiga bagian, yaitu Ngawalan, Lalampahan, dan Magelaran. Ngawalan dibuka dengan sambutan dari Ketua DPRD Ciamis, Bupati Ciamis, dan Ketua dewan Kabudayaan. Kemudian Tari Topeng Cirebon, dialog budaya, prosesi lalampahan dan pagelaran Calung Sekar Hanjuang sebagai penutup dari rangkaian Ngawalan. Selanjutnya, lalampahan dibuka dengan pergelaran Genjring Ronyok, Karinding Nyengsol, Sanggar Pacikrak, Bebegig Sukamantri, Seremonial Penampilan Kuncen, Tutunggulan Goropak, Sang Hyang Jaran Bali, Komposisi Tari dari Studio Titik Dua Ciamis, dan Karinding Mudawangi. Terakhir, Magelaran dibuka dengan Teater Taneuh Bereum Karawang, Teater Jagat SMAN 5 Ciamis, Postheatron Garut, Lapak Sastra, Komposisi Neng Peking, Rampak Kendang SMAN 1 Ciamis, Pertunjukan teater Perang Bubat, dan ditutup dengan Ronggeng Gunung Bi Raspi.

Dalam acara tersebut terdapat acara puncak dari rangkaian Nyiar Lumar, yaitu Ronggeng Gunung sehingga menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu. Dalam tampilan Ronggeng Gunung, penonton dapat menari bersama dengan Bi Raspi, Sang Maestro Ronggeng Gunung yang masih tersisa, mengelilingi api unggun. Dengan demikian, acara tersebut, selain dapat melestarikan budaya, juga mampu mempererat persaudaraan bukan hanya sesama orang Sunda melainkan juga seluruh lapisan masyarakat yang hadir pada saat itu. Antusiasme penonton pun tidak luntur, terbukti ketika mereka tetap bertahan hingga acara berakhir menjelang Subuh.***PKL&MSH