Ruang Sejarah

Jubilee Swift

 

“Ruang tunggunya pasti ini!” Kelly yakin dan masuk begitu saja. “Kamu tunggu di sini, aku mau ke toilet dulu. Kalau ada pak bos, bilang saja kalau kamu adikku.”

Aku mengangguk. Sebagai teman kecilnya, aku bangga pada Kelly, diterima menjadi pembuat animasi bergengsi dengan reputasi yang akan melonjak hingga dunia internasional.

“Brianna!” panggil Kelly pelan dari arah belakang. “Lihat deh, ini bukan toilet. Ada ruangan dan ada ruangan bawah tanahnya!”

“Kelly, jangan ke sana! Enggak sopan, itu ruangan orang lain!” Aku melarangnya dengan cepat, namun Kelly tidak menjawabku. “Kelly?”

Kelly tidak menjawab lagi. Itulah Kelly, selalu membuat orang lain khawatir. Terpaksa, aku menyusulnya dengan hati-hati.

“Brianna, lihat ini,” ujar Kelly pelan. Tubuhnya memaku di hadapan akuarium raksasa dengan penghuninya yang dibaluti ikatan-ikatan kabel “Makhluk apa ini?” Kelly mengerutkan alis bingung. “Ini bukan manusia, ini monster.”

Dia—dia amat besar. Bulu kudukku meremang, melihat wajah Kelly berubah pucat karena benda di hadapannya.

Aku terdiam seribu bahasa, bingung. Karena terlalu lama termenung, tanganku dengan sendirinya menyenggol salah satu tombol di dinding kaca yang membuat akuarium itu menyala terang. Buru-buru aku menekan tombol lain yang sama sekali tidak aku ketahui fungsinya dengan harapan semuanya bisa kembali seperti semula.

“Brianna! Biarkan saja, ayo lari!” Kelly panik diiringi larian cepatnya keluar.

Aku masih belingsatan. Ditambah, makhluk itu bangkit dari mimpinya, menampar-nampar kaca akuarium dengan emosi yang meledak-ledak.

Dan kini, ledakan cahaya yang begitu terang menghantamku dari arah depan. Mataku terpejam rapat beberapa detik, dan semuanya menjadi putih.

Kubuka mata perlahan, berharap tidak tereliminasi dari dunia hanya karena kecerobohanku sendiri. Dan di sini, di hadapanku, pohon-pohon besar menanti diriku dengan senyuman licik, seolah-olah berkata “selamat datang” di dunia yang tidak pernah aku kunjungi sebelumnya. Kutatap kegelapan yang menyaput hutan ini. Di dalamnya terlintas bayang-bayang yang seolah-olah mengintip satu jiwa ini untuk dipaksa tinggal menemani mereka.

Akupun berjalan, perlahan dengan keberanian yang dibesar-besarkan. Air liur sudah berkali-kali kutelan, dan tatapanku tetap lurus, tak mau terganggu. Meskipun kutahu, kunang-kunang cantik mengelilingiku dengan hangat.

“Hey, dia manusia,” bisik seseorang dari belakang, seperti memulai percakapan. Akupun membalikkan badan dan kunang-kunang itu melebur, berpencar ketakutan.

“Siapa di sana?” tanyaku dengan suara yang dikeraskan. “Ayolah, aku tersesat.”

Tidak ada jawaban.

“Tolong.” Aku hampir menangis,

“Ayolah Koukou, kasihan dia,” ujar seseorang sambil mencoba untuk menampakkan dirinya. Ternyata itu mereka, kunang-kunang cantik yang selama ini ada di belakangku. Mereka bisa berbicara!

“Kalian … bisa bicara?” mataku terbelalak lebar.

“Bagaimana kalau kita antar dia ke rumah Gigarafiel?” ajak salah satu kunang-kunang yang disusul anggukan teman-temannya. “Baik.” Dia menarik napas dalam dan melirik ke arahku. “Nona, sebaiknya kita berbincang-bincang di rumah Gigarafiel, kerabat kami yang sudah seperti saudara, bagaimana?” tawarnya sambil menirukan gaya prajurit kerajaan.

Akupun setuju, meskipun sebenarnya masih ragu. Di perjalanan, kami bercerita banyak. Baru kali ini aku menemukan kunang-kunang yang amat ramah.

“Ini dia rumahnya.” Dia terbang ke arah pintu dan mengetuk pintu rumah pohon itu dengan kaki kecilnya. Akupun tertawa menggelitik, melihat usaha polosnya.

Derap kaki dari dalam sudah mulai terdengar, dan ketika pintunya terbuka, jantungku hampir berhenti karena apa yang aku lihat adalah lelaki berkepala manusia, namun bertubuh kuda, ditambah kain hitam yang membelit tubuhnya.

Kami pun tercengang hebat bersamaan.

“Ini kan, manusia? Kenapa kalian membawanya ke sini?” tanyanya panik.

“Bahaya kalau kita berbicang di luar. Pors sedang berkeliaran di mana-mana. Lebih baik kita masuk,” usul salah satu kunang-kunang sambil masuk tanpa izin.

Akupun dipersilakan duduk dan disuguhi minuman keruh dengan lipatan daun sebagai gelasnya.

Gigara nama manusia bertubuh kuda itu. Dia memperlihatkan sesuatu, sebuah baju yang sepertinya terbuat dari besi lengkap dengan tudung kepalanya. Akupun memakai baju besi itu di balik bilik anyaman dari sarang laba-laba tebal dekat dapur. Sungguh aneh, tapi nyata. Di samping itu, aku mengintip dan berusaha menguping percakapan antara Gigara dan Kunang-kunang itu di luar. Selalu terbesit di pikiranku, kenapa mereka bisa menggunakan Bahasa Indonesia?

“Ayo, kita berangkat!” ajakku semangat.

Gigara mendelik. “Kalau ada apa-apa, cari aku di gunung Gorn,” pintanya

“Siap komandan!” jawabnya dengan sigap dan serentak.

Aku terus melangkah dengan sabar. Gigara bilang kita akan singgah saat simbol-simbol perdamaian dapat ditemukan. Simbol yang paling suci, katanya.

Gagak-gagak hitam ditembakkan menembus kabut senja seperti peluru perang besar-besaran. Setelah sorakan dari gagak-gagak hitam itu, keheningan kembali menengokku dan Gigara. Di perjalanan panjang ini, dialog seakan mati, lebih tepatnya tidak pernah diciptakan.

“Karena sudah larut, kita istirahat dulu di gua ini, sampai besok pagi.” Akhirnya Gigara memecah keheningan.

Aku mengangguk pelan dan meletakkan kepala besi ini di atas bebatuan kasar.

“Gigara!” teriak seseorang buru-buru dari arah utara dan melesat dengan cepat, tepat di depan wajah Gigara. Ternyata beberapa dari kunang-kunang tadi sore.

“Gigara, rumahmu… di acak-acak para Pors!” adunya panik.

“Apa! Kenapa kalian enggak melawan, sih?” Matanya membelalak, terkejut. “Nah, ‘kan, ini semua gara-gara kamu! Dari awal aku tahu kalau manusia itu hanyalah sumber masalah!” Intonasinya dua kali lipat lebih tinggi, memarahiku.

Aku terdiam. Baiklah, kuakui, aku kaget melihat Gigara memarahiku seperti itu. Namun, alasan terbesarku terdiam karena itu, di belakang Gigara. Pedang logam mengapung tinggi di udara, menargetkan kepala Gigara sebagai tancapannya dan dikendalikan oleh makhluk yang paling seram menurut pengakuan mataku.

“Gigara, menunduk!” teriakku spontan.

“Astaga, Para Pors!” Gigara lari terbirit-birit, bersembunyi dan mencari perlindungan.

Perhatian para makhluk besar itu dengan cepat teralihkan kepadaku. Mereka sama sekali tidak menghiraukan keberadaan Gigara.

“Kamu,…manusia?” Si pembawa pedang mendekatkan wajahnya dengan mata yang disipitkan, seperti tidak percaya apa yang dia lihat.

“Bawa dia!” perintahnya.

“Gigara, jangan keluar, tetap sembunyi!” perintahku pada Gigara.

Dia mengangkatku ke atas dengan cengkaraman dendamnya. Aku benar-benar tidak bisa bergerak. Air mata panas meleleh menuruni pipiku. Cengkraman itu semakin kuat sampai-sampai jantungku terasa hampir hancur. Kucoba berteriak, namun tubuh ini terdesak terlalu hebat. Rasanya seperti malaikat maut sudah ada di ambang pintu perbatasan dimensi, tidak sabar merenggut jantung ini.

“Ini hukuman.” Cengkramannya merenggang ketika seseorang melesatkan anak panah ke tubuh makhluk besar ini.

“Awas!” mereka berlarian karena melihat pemimpinnya mati terpanah.

Aku tersungkur hebat dengan tubuh yang lemas. Seseorang itu menolongku kembali, uluran tangannya mengambang di depan wajahku. Dia membawa mata secoklat tanah basah. Diskoneksinya dengan dunia di sekitar membuatnya tampak sangat luar biasa. Tulang terasa kembali membeku ketika aku melihatnya lebih dalam. Mata itu sangat memukau. Dia, begitu tampan.

“Brianna! Kamu tidak apa-apa, ‘kan?” Gigara keluar dari tempat persembunyiannya, memecah lamunanku. “Maaf aku sembunyi.”

“Iya, enggak apa-apa.” Aku tersenyum. “O, halo, namaku Brianna. Ini temanku, Gigara. Terima kasih atas bantuannya.” Aku mengalihkan dialogku kepada si tampan itu.

“Aku Barailborn, Baraon saja.” Dia mengulurkan tangannya lagi sambil tersenyum kecil. “Hai Anna,” ujarnya pelan dengan tatapan yang dalam.

“Brianna,” potongku membenarkan.

“Tapi aku lebih suka manggil kamu Anna.” Jantungku seperti ingin melompat-lompat ketika senyum tipisnya terukir kembali di bibir itu.

“Ikut aku ke samudra, kamu perlu obat. Masa hidup kamu akan tersita banyak karena ulah dari Pors tadi,” paparnya.

“Masa hidup?” aku heran. “Maksudnya?”

“Maaf,” Gigara angkat bicara dan menghelakan napas. “Sebenarnya …” Gigara melirik ke arah Baraon dan menelan ludahnya.

“Nanti saja,” ujar Baraon sambil memejamkan matanya beberapa detik.

Kami berpetualang kembali. Perjalanan terus kami lalui. Dari hitamnya malam, hingga fajar datang, aku tidak tidur. Aku bersabar sampai akhirnya mentari benar-benar sudah terbit dan menjadi saksi bisu bahwa aku sudah melewati sang malam di sini.

“Kita sampai. Aku mau mencari Alean, penguasa kerajaan samudra. Dia hanya bisa bertemu denganku saja,” ujar Baraon disusul kepergiannya dengan langkah yang lebar.

Aku dan Gigara duduk, termenung. Merasakan keringat yang mengalir di wajah.

“Brianna, maaf, ya,” Gigara memecah lamunanku lagi. “Aku harap kamu berhasil, bisa pulang ke rumah.” Gigara menurunkan pandangan.

“Memangnya kenapa sih?” aku mengerutkan alis, Gigara terdiam. “Gigara?”

“Sebenarnya ini rahasia, sih. Tapi, kalau menurutku kamu juga harus tahu.” Gigara menghelakan napas panjang. “Dulu… kerajaan Trion dan Palm bersahabat. Raja Trion menikah dengan manusia. Seperti kamu saja, raja enggak bisa lama lama di sana, begitupun ratu. Jadi mereka enggak bisa bersama…”

“Kok, bisa, sih?” potongku heran. “Bukannya….”

“Enggak. Raja memang bisa nikah dengan siapa saja, asalkan bisa nerima resikonya.” Gigara tersenyum kecil. “Nah, mereka dikaruniai anak yang menetap di dunia manusia, bahkan pertama kali dia ke sini, dia menculik ratu dari kerajaan Palm secara diam-diam. Katanya, otak sang ratu akan dilumpuhkan lalu dijadikan metode terbarunya untuk membuat animasi. Aku juga enggak mengerti, tapi dari sanalah dunia ini jadi semu, tanpa warna. Kemiskinan di mana-mana, banyak rakyat yang mati. Tepatnya, besok, akan ada perang besar-besaran antara kerajaan Trion dan Palm.”

Aku menyimak pidato dramatis Gigara, namun tetap membuatku ikut kecewa. Ternyata dia baik, tidak seperti yang aku pikirkan sebelumnya.

Tak lama, Baraon datang dengan sesuatu di kepalan tangannya.

“Anna,” panggilnya lirih. “Minumlah, kamu akan dapat perlindungan. Ada juga mutiara titipan dari Alean. Cahayanya sama seperti bulan. Aku akan pergi, mau bersiap-siap untuk satu urusan. Semoga kita bisa bertemu lagi.” Dia tersenyum, namun kali ini senyumannya berbeda, senyum menahan pahit.

“Terima kasih banyak, Baraon. Percaya, deh. Kita akan bertemu lagi,” Kataku sambil meminum air bening itu.

“Gigara, ini tanggung jawab kamu untuk menjaga dia. Berjanjilah kalau kamu akan mengembalikannya ke dunia manusia.” Baraon merusak lamunan Gigara.

“O, iya,” jawab Gigara yang baru tersadar dari lamunannya itu.

Mata coklat itu, baru kemarin aku terpikat, membuat semua ketakutanku hambar. Namun sekarang, kedua bola mata itu pamit, ingin pergi membawa kepekatannya.

“Briana…Kamu, semakin dingin.” Gigara menepuk pundakku. “Dan pucat,” katanya serius.

“Gigara, aku… aku harus ikut perang!”

“Apa kamu…hey, mereka kuat! Dan kini kerajaan Palm dibantu bangsa Pors, juga kerajaan hitam, Rameriem!” Gigara tidak percaya. “Apalagi kamu…”

“Aku manusia. Aku enggak takut, kok. Bangsa Pors menghasut kerajaan Palm, begitupun kerajaan hitam yang ikut campur. Kalian sebagai rakyat yang dijadikan korban, kenapa tidak turun tangan? Jadi sekarang aku. Aku saja yang memperjuangkan kalian dan nama bangsaku sebagai sumber masalahnya. Jika aku harus mati di sini, tidak apa-apa, asalkan aku benar-benar bisa membuktikan.”

Gigara menatapku dalam dengan perasaan takut, tidak percaya.

Aku berlari cepat dengan napas yang terengah-engah, berdenyit seperti pintu film horor. Mega mendung datang, pertanda langit akan menangis. Aku terus berlari, di atas kerikil-kerikil kecil. Di sini aku berdoa—berdoa dengan debaran jantungku yang terdengar. Aku akan berkomunikasi dengan sang raja, memperjuangkan persahabatannya.

“Cepat, naik!” pinta Gigara agar aku menungganginya. Kini aku terdiam. Prajurit sudah semakin perkasa dengan baju besinya, demikian juga para wanita yang telah terlindung di bawah tanah. Namun di mana raja? Hari sudah semakin senja dan pasukan dari kerajaan Palm sudah menembus benteng penghalang.

“Raja ada di gedung atas!” teriak Gigara buru-buru. “Cepat naik!”

“Yang Mulia, kerajaan Palm sudah hampir sampai. Pemimpin pasukan lapangan sudah menyiapkan barisannya, namun pasukan pemanah atas belum terkondisikan secara sempurna,” ujar pemimpin pasukan buru-buru.

“Kondisikan sekarang juga! Buat strategi baru dengan menambahkan pasukan panahan di balkon menara!” perintahnya dan pemimpin itu bergegas pergi.

“Yang Mulia, hamba membawa pedang dari roh kegelapan. Restui hamba untuk membinasakan pemimpin bangsa Pors dengan tangan hamba sendiri. Hamba berjanji,” pintaku kepada sang raja.

“Baiklah. Hati-hati, dia tidak semudah apa yang kamu pikirkan, Nak!”

Akupun mengangguk dan pergi ke bawah menunggu kehadiran pasukan lawan. Menunggu benang perbatasan, antara mati dan hidup.

Gemuruh sangsakala kerajaan Palm telah berkumandang sangat keras di seberang sana. Pasukan kuda bersenjatanya begitu gagah, berkarisma. Perawakannya tidak berseberangan jauh dari orang-orang di kerajaan Trion. Mereka memang seharusnya bersatu, bukan saling membunuh seperti ini.

“Siapkah kalian untuk mati hari ini?” teriak pemimpin lapangan itu emosi, diiringi sorakan keikhlasan dari pasukannya. “Siapkah kalian untuk memberi mereka penggalan kepalamu sendiri?” tambahnya, “Ingat! Kematian lebih cepat daripada tidur. Jika hidupmu sampai di sini, tariklah napas sedalam-dalamnya, rasakan hembusan udara terakhirmu di sini! ” sorakan itu kembali terdengar menyedihkan. Aku di sini, di formasi paling depan, bersama Gigara menyaksikan tiupan sangsakala itu sekali lagi.

“Hidup untuk mati!” teriak pemimpin itu, berlari, menghantam badai pasir.

Semuanya bersorak, berharap teriakan ketakutan itu akan berubah menjadi sorak kemenangan esok pagi. Teriakan kuda, gemuruh pasir, dan seretan pedang, itulah…

Semua orang berteriak merasakan jantungnya yang tertusuk. Mata-mata terbuka bisa melihat usus mereka tumpah ke tanah dalam beberapa detik. Semua seperti lautan darah dengan kepala yang terpenggal sebagai ikannya. Kerajaan Trion hampir tenggelam dalam kekalahan. Semua terguncang kembali dalam sangsakala kedatangan bangsa Pors. Mereka haus akan pertolongan.

“Gigara, Pors datang!” seruku cepat. “Bagaimana ini? Kita kekurangan pasukan!”

Gigara terdiam, menyaksikan bangsa Pors yang sudah merayap memakan sisa-sisa mayat dan menghabisi jasad orang-orang yang masih hidup. Mereka bertambah, kita berkurang. Aku dan Gigara saling menatap, merenungkan jeritan-jeritan bergema.

“Brianna, di belakangmu.” Gigara tersenyum, menahan napas. Sangsakala baru terdengar, kini berasal dari pihak kerajaan Trion. Aku baru mendengar sangsakala ini, entah siapa.

Kemudian…

“Baraon!” teriakku dengan air mata yang sudah terbendung di kedua kelopak mata ini. Aku masih bisa melihatnya, Baraon. Dia kemari bersama spesiesnya. Namun dia tetap menjadi yang paling istimewa, dan paling berani.

“Ambil ini, Pors tidak akan mati tanpa anak panah ini,” perintah Baraon buru-buru. “Kamu bisa melesatkannya sesuka hati kamu.”

Akupun melesatkan anak panah ini pada para makhluk besar itu bersamaan dengan Baraon. Anak panahnya selalu melesat dengan sempurna hanya dalam hitungan detik. Makhluk besar itu kini sudah mulai berkurang, berceceran di tanah gersang ini.

“Pemimpin Pors sudah mulai datang,” gumamnya.

Akupun berlari, menghampiri makhluk buruk rupa itu dengan keberanian yang benar-benar besar. Pemimpin itu menampakkan dirinya. Pedang hitam sudah kugenggam erat, mengikuti irama gerak-geriknya. Lantas…

“Kamu tidak akan bisa membunuhku, manusia!” geramnya sambil menginjak-injak tubuhku. Muntahan darah membanjiri baju perangku. Samar-samar, kulihat Gigara. Berlari, keluar dari formasi. Berkhianatkah dia? Berlarikah dia dari kepercayaanku? Aku menjerit keras, kali ini bukan hanya karena kesakitan, tapi karena amarah. Gigara benar-benar menghilang. Dia memang jahat, sama dengan apa yang ada di pikiranku.

Kutusukkan pedang ini di betis Pors itu. Dia menggeram kesakitan. Darahnya bercucuran tak berhenti. Aku mendorong badannya yang berat, memanjat ke atas kepalanya dan…, “Argh!” kepalanya kutusuk berkali-kali smapai akhirnya dia benar-benar mati.

Kerajaan  Palm menyerah dan kerajaan Trion menang. Tangis haru mengisi suasana. Aku menangis, bahagia, tanpa Gigara. Mereka berdamai.

Kini aku diizinkan pulang dengan catatan mengembalikan ratu Palm. Aku menyetujuinya.

Mata Baraon sudah kembali di sini, tinggal Gigara. Aku tak tahu di mana dia.

“Brianna!” suara Gigara terdengar dari sini. “Tunggu, ambil ini!” katanya sambil melemparkan baju besinya.

“Gigara!” Aku memeluk Gigara erat. “Kamu sahabat terbaikku, Gigara.” Air mataku berlinang.

“Hati-hati,” ucapnya lirih dengan mata berkaca-kaca. “Jangan lupakan kunang-kunang,” tambahnya.

Aku tersenyum pahit, menahan air mata. Dia kembali untukku.

“Gigara, kapan-kapan aku ke sini lagi, perang lagi,” ujarku yang disusul tawaan kecil.

Akupun pergi, kembali ke dunia manusia. Bersiap menyajikan cerita untuk mereka.

 

Biodata Penulis

Jubilee Swift lahir di Garut, 17 Juni 2002. Sekolah di SMAN 1 Garut, kelas XI IPS 3. Tinggal di Perum Baleendah No. 157, RT. 03 RW.06, Kec. Tarogong Kidul, Kab. Garut, Jawa Barat. Kontak yang dapat dihubungi adalah instagram: @swipjubileu13.