Kupetik Setangkai Tulip Biru Belanda

Adzkia Nida

 “Tidak, tidak, tidak! Pita warna biru tidak cocok dengan warna kulitmu, Hazel!” si gadis berkulit sehangat kopi tersebut dengan gerakan yang cepat mengganti pita yang telah mengikat rambutku dengan pita lain yang berwarna merah. Tidak hanya berhenti di situ, Kate terus mengoceh tentang betapa buruknya selera panitia penyelenggara lomba dalam memilih sepatu bot yang terlihat tidak serasi dengan blazer yang kugunakan.

“Kate, lebih baik kau kembali saja ke Atlanta atau aku akan mendapat migrain selama kau menjadi asistenku!” balasku. Kate hanya terkekeh mendengar ucapanku, terutama di bagian ketika aku menyebutkan kota kelahiran kami. Kate selalu tertawa setiap aku berkata ‘Atlanta’ karena menurutnya, caraku menyebut huruf ‘T’ adalah hal yang lucu.

“Seluruh peserta lomba diharuskan berada di Startgate bersama kudanya masing – masing dalam 3 menit ke depan karena perlombaan akan dimulai dalam 5 menit. Penunggang dan kuda yang tidak berada di lintasan tepat waktu akan dinyatakan Scratch.” Instruksi dari pengeras suara di lorong ruang ganti terdengar sangat jelas.

Aku dan Kate dengan langkah seperti orang kerasukan keluar dari ruang ganti. Kami telah sampai dalam waktu kurang dari semenit kemudian dengan kecepatan Kate yang luar biasa saat ia memasangkan helm, kaca mata, dan memberiku cemeti di menit berikutnya. Dengan bantuan Gate Master, aku menaiki Athena, kuda dengan ras American Quarter berambut pirang keemasan yang telah menjadi kuda pacuan tercepat yang kumiliki dalam tiga tahun terakhir.

Athena, berdasarkan mitologi Yunani adalah dewi kebijaksanaan dan strategi, aku berharap saat menungganginya, aku bisa membuat strategi yang baik serta bijaksana dalam menghadapi keadaan sulit sekalipun. Kurasa keputusanku menamainya Athena adalah hal yang tepat.

Kejuaraan tingkat nasional ketigaku ini adalah hal yang telah kupersiapkan dari jauh–jauh hari. Bila bisa memenangi lomba ini, aku bisa mewujudkan mimpiku untuk pergi ke Eropa dan mengikuti pacuan kuda kelas tertinggi dengan lawan dari seluruh penjuru dunia. Di dua kejuaraan tingkat nasional sebelumnya, aku selalu finish di urutan kedua. Hal tersebut mengakibatkanku tak bisa melaju ke tingkat internasional.

“Di lintasan nomor 2, gadis 19 tahun berambut coklat pemegang medali emas di pertandingan tingkat regional tiga tahun berturut–turut, dengan koleksi dua perak di tingkat nasional, lima emas di tingkat regional, dan dua emas di kejuaraan pacuan kuda terbuka 2017 dan 2018, Hazel Reinehart dengan kudanya Athena!” Suara pemandu acara memenuhi seluruh stadion saat namaku dipanggil. Namun, kamera yang meliput hanya bisa merekam Athena karena tubuhku tertutup oleh Startgate.

Setelah pembawa acara di perlombaan ini selesai menyebut setiap nama peserta dari tiap lintasan, Startgate mulai disterilkan dari para Gate Master maupun panitia serta asisten atlet seperti Kate yang diarahkan pergi menuju bangku penonton. Aku membetulkan pijakan pada sanggurdi, mengeratkan pegangan tangan pada tali kekang dan membuat tangan kananku yang memegang cemeti lebih rileks sebelum hitung mundur dimulai sebagai persiapan terakhir.

“3….. 2…… 1….. Mulai!” Pintu Startgate langsung terbuka pada hitungan ketiga. Aku mengarahkan cemetiku pada Athena. Athena berlari dengan kencang. Aku terus fokus pada lintasan dengan memacu Athena agar berlari lebih cepat lagi. Aku tidak menghiraukan keadaan sekitar dan hanya peduli pada ritme lari Athena yang semakin cepat.

Setelah kami melewati garis finish, barulah aku mengalihkan perhatianku pada lingkungan sekitar. Kami adalah peserta yang pertama kali mencapai garis finish dengan catatan waktu dua menit lima belas detik yang otomatis membuatku memimpin klasemen sementara. Aku turun dari Athena untuk membiarkannya dibawa kembali ke stargate untuk semifinal.

Aku menoleh ke bangku penonton dan melihat ibu, ayah, Kate, bahkan walikota Atlanta naik ke atas kursi mereka dan larut oleh euforia kemenanganku. Mereka berteriak dan terus meneriakkan namaku. Aku melambaikan tangan kepada mereka.

Setelah diberi waktu dua puluh menit untuk rehat, kami langsung dipersiapkan untuk kembali bertanding di babak semifinal. Kali ini aku start di lintasan nomor 1. Seperti sebelumnya, aku kembali memastikan bahwa diriku dan Athena telah siap. Setelah hitung mundur, aku memacu Athena dengan semangat melebihi sebelum–sebelumnya. Athena terus berlari dengan kencang agar kami menjadi yang tercepat sampai di garis finish dan masuk ke babak final. Beberapa saat sebelum mencapai garis finish, aku menoleh ke belakang dan mendapati tidak ada satupun peserta yang berada di dekatku untuk menyusul dan hal tersebut memastikan bahwa aku akan menjadi yang pertama melewati garis finish seperti sebelumnya dan masuk ke babak final untuk memperebutkan medali emas.

Benar saja, aku dan Athena berhasil finish di urutan pertama dengan catatan waktu yang bahkan lebih baik daripada tahun lalu. Bahkan, catatan waktu ini merupakan rekor tercepat dari seluruh pertandinganku. Aku turun dari Athena kemudian segera pergi ke ruang ganti untuk bertemu seluruh keluarga, kru, dan orang–orang yang mendukungku.

Di ruang ganti, semua orang telah berkumpul bersama dan memberiku pelukan dengan rasa bangga di antara bentangan tangannya. Kami diberi waktu jeda untuk rehat lebih lama dari sebelumnya untuk beristirahat sebelum babak final dimulai. Ayah, ibu, dan Kate yang berada di ruang ganti bersamaku setelah semua orang kembali ke tempat duduknya masing–masing.

Ayah adalah penggemar terbesarku, begitu pula aku. Aku adalah penggemar terbesar ayah. Ia selalu menjadi yang pertama memberiku ucapan selamat, tak lupa disertai dengan sebuket bunga tulip biru kesukaanku dengan sepucuk surat berisi catatan yang mengundang gelak tawa.

Ayah berkata padaku bahwa setiap orang harus memiliki simbol kebanggaannya sendiri-sendiri. Dalam tradisi keluarga Reinhart, bunga tulip belanda adalah simbol kebanggaan dan keberhasilan seseorang. Itulah mengapa ayah selalu memberiku sebuket tulip biru belanda.

Tak kuduga, lampu di ruangan berubah menjadi berwarna merah dan suara sirine darurat berbunyi dengan lantang menghentikan tawa kami. Kami berempat segera berlari untuk keluar dari ruang ganti dan meninggalkan gedung. Ayah berada di paling depan menuntun kami untuk pergi melalui pintu darurat.

Semua orang yang ada di sekitar arena berkumpul dengan kebingungan di lapangan terbuka yang terletak di barat daya arena, khususnya di daerah yang memiliki tanda titik aman untuk berkumpul. Asap hitam mengepul di udara dari arah lain arena. Mobil–mobil pemadam kebakaran semakin mendekat ke arah datangnya asap. Kemungkinan besar, terjadi kebakaran atau korsleting listrik dari tempat timbulnya asap. Asap tersebut berasal dari bagian utara arena, mungkin dari sekitar tempat kandang kuda para peserta. Kandang kuda! Athena!

Aku melepaskan pegangan tangan ayah dan segera berlari menuju arah datangnya asap. Athena tidak boleh terluka! Ia harus bisa melalui babak final bersamaku, aku tidak boleh lagi kalah! Tidak tahun ini! Aku harus memenangi kejuaraan tahun ini dan pergi ke Eropa! Aku tidak mengindahkan teriakan ibu, ayah, dan Kate di belakangku, yang terpenting Athena selamat. Aku berlari dengan kencang mendekati kandang kuda.

Benar saja, kandang kuda yang ditempati kuda pacu para peserta telah terbakar hampir setengahnya. Kuda–kuda berlari keluar dari sana dengan pekikan yang menyakitkan. Manusia maupun kuda yang ada di sini kalang kabut akibat api yang berkobar semakin kencang seiring angin yang berhembus dengan kencang. Aku menghalau tiap orang yang menghalangi langkahku mendekati kandang kuda. Aku terus mencari keberadaan Athena di antara kepulan asap.

Akhirnya aku melihatnya. Aku melihat Athena, berlari dengan kaki yang terbakar sambil terus memekik dan meloncat–loncat. Aku berlari ke arah Athena. Athena malah berlari menjauh dari area yang terbakar. Dengan kaki yang terbakar, Athena berlari dengan kesulitan menuju arah timur, menuju jalan raya!

Lariku semakin cepat saat menyadari arah lari Athena. Lari Athena memang tidak secepat saat di arena karena keadaan kakinya sehingga Athena masih ada dalam jarak pandangku. Athena mulai memasuki jalanan dan sekali lagi aku mengerahkan segala kekuatanku untuk mengejarnya. Saat aku merasa jarakku dan Athena mulai menipis, aku mendengar suara klakson yang sangat panjang dari arah kiri. Aku menoleh dan melihat mobil pemadam kebakaran yang melaju dengan cepat dan berada pada jarak yang sangat dekat melebihi jarak antara aku dan Athena.

Suara benturan yang sangat keras terdengar dan di saat yang bersamaan aku merasakan tubuhku melayang dengan rasa sakit yang menyerang di setiap inci tubuhku. Aku bahkan tidak kuat hanya untuk sekadar membuka mata. Kemudian aku merasakan diriku mendarat pada sesuatu yang keras, entah itu tanah ataupun batu, tapi aku merasakan diriku tidak lagi berada di udara. Tak sampai di situ, aku kembali merasakan sesuatu yang sangat besar menimpa tubuhku. Kemudian, semua ini berhenti, tapi tidak dengan rasa sakitnya. Aku merasakan semua ini. Lalu aku pergi dibawa oleh kegelapan.

Aku membuka mata secara perlahan kemudian mengedarkan pandangan pada ruangan yang kutempati.  Dinding putih, bau alkohol, labu infus, dan selang oksigen. Tentu saja, aku berada di rumah sakit. Aku sendirian di ruangan ini, aku menoleh dan melihat jam menunjukkan pukul sebelas malam, mungkin siapapun yang berada bersamaku di sini telah pergi tidur.

Tenggorokanku yang terasa seperti Gurun Sahara ini memaksaku untuk pergi mengambil segelas air putih dari kulkas yang berada di samping televisi yang berhadapan dengan ranjang. Aku menyingkap selimut dan melihat kakiku yang tidak tertutupi dikarenakan pakaian pasien yang berbentuk rok ini hanya mencapai lututku. Aku melihat seberapa parah cidera yang dialami oleh kakiku. Ini benar–benar buruk. Kakiku memiliki banyak luka, beberapa di antaranya telah memudar, namun aku tak memperhatikan kakiku lama–lama, tenggorokanku sudah tidak bisa diajak kompromi.

Dengan mengenyahkan segala pikiran buruk yang sempat terlintas di kepala, aku membawa tubuhku untuk menuruni ranjang rumah sakit. Mungkin karena tubuhku yang baru saja bangun dari tidur, aku merasa berat sekali rasanya hanya untuk duduk di pinggiran ranjang.

Aku mencoba berdiri dan melangkahkan kaki. Tapi kemudian aku malah terjatuh seakan kakiku adalah sehelai kapas yang bisa terbang kapan saja. Aku mencoba bangkit dan menggerakkan kakiku. Tidak terjadi apapun. Aku mencoba sekali lagi untuk sekadar menggeser kakiku. Gagal. Aku mencubit bagian samping kakiku, tidak terasa apa–apa.

Aku tidak bodoh untuk tidak menyadari hal ini bukan dikarenakan obat bius atau obat apapun yang mengakibatkan aku tak bisa merasakan sentuhan dan kendali atas kakiku. Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Tidak!

Aku mencoba sekali lagi menggosok–gosokkan tangan, bahkan memukulkannya pada kakiku berharap merasakan sedikit saja rasa sakit. Nihil. Aku tak merasakan apapun. Aku berteriak dan menangis sekencang yang bisa kulakukan. Berharap tangisanku dapat mengembalikan fungsi kaki dan membiarkanku untuk tetap menjadi atlet pacuan kuda di sepanjang hidupku.

Aku merasakan semua pelukan dan ucapan menenangkan dari orang–orang di sekitarku tak berapa lama setelahnya. Tapi aku tidak membutuhkan itu! Aku hanya butuh kakiku. Aku menyadari bahwa hidupku telah berakhir dengan hilangnya kesempatanku meraih mimpi.

Aku tidak tahu, ini adalah hari keberapa semenjak malam saat aku menemukan bahwa hidupku berubah.  Setiap hari selalu sama. Aku bangun, pergi ke kamar mandi menggunakan kursi roda untuk membersihkan diriku dengan bantuan ibu, kembali ke ranjang untuk duduk dan sarapan pagi, menonton televisi menyaksikan acara olahraga kesukaanku, sesekali ada teman atau kerabat yang menjenguk dan berbincang sekejap, kemudian pergi tidur pukul sembilan malam.

Aku telah melakukan hal monoton tersebut selama dua bulan belakangan ini. Aku menjadi manusia yang selalu memerlukan orang lain  untuk melakukan hal–hal sekecil mengambil air minum dari kulkas. Aku benar–benar tak berguna. Aku lebih banyak memilih diam dan bermonolog dengan diriku sendiri.

Secara perlahan pula, aku tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku melalui pembicaraan antara ibu atau ayah dengan dokter yang memeriksaku saat aku berlagak tidur. Saat hari ketika kecelakaan terjadi, tubuhku terpental menuju pembatas jalan di samping lajur, kemudian karena mobil pemanam kebakaran yang menabrakku turut menabrak pembatas jalan yang sama denganku, beberapa reruntuhan mengenai tubuhku. Aku tidak sadarkan diri selama hampir seminggu.

Fakta saat punggungku menghantam pembatas jalan dengan keras dan mengakibatkan cedera tulang belakang mengakibatkan aku kehilangan kendali gerak serta kehilangan sensor motorikku dari pinggang hingga ujung jari kaki. Aku tak akan bisa lagi berjalan sepanjang hidupku. Tidak akan ada lagi acara menunggang kuda di akhir pekan bersama ayah, lari pagi mengelilingi lingkungan rumah sebelum latihan dimulai, usaha habis–habisan sebelum mengikuti kejuaraan pacuan kuda. Tidak akan ada lagi. Tidak akan ada Athena lagi.

Namun, hal yang paling menyedihkan adalah: Tidak ada lagi harapan untuk pergi ke Eropa dan pulang sebagai pemenang dengan sertifikat internasional.

Pagi ini aku memutuskan mendorong kursi rodaku sendiri menuju taman bunga di belakang rumah sakit. Aku memarkirkan kursi roda di bawah sebuah pohon besar. Dengan membawa sebuah buku catatan kecil, aku mulai menulis segala hal yang kurasakan dalam bulan–bulan terakhir ini dalam bentuk kata dan frasa puitis. Rasa sakit dan penderitaanku tercurah begitu saja ke dalam tulisan itu.

“Hazel Reinhart, lintasan nomor 2?” Seorang wanita tua bertanya kepadaku dengan tiba–tiba. Aku mengangguk.

“Aku tidak percaya bisa melihatmu ada di sini. Kau luar biasa! Semua orang di sini menontonmu bertanding!” ucapnya dengan antusias.

“Terima kasih. Tapi, kau tidak akan melihatku lagi untuk bertanding di sisa hidupku. Aku bahkan tidak bisa pergi ke Belanda untuk ikut pertandingan lagi,”

“Ada 1001 jalan menuju roma. Aku tahu keadaanmu, tapi semua itu tak akan berarti bila kau tidak menyerah. Kau masih muda, cidera kaki saja tidak boleh menghentikanmu, jadikan hal ini sebagai alasanmu pergi ke Eropa.” Wanita tua itu kemudian menyerahkan sebuket bunga tulip belanda berwarna biru persis seperti yang sering ayah berikan, “Ini untukmu. Kau adalah pemenang. Tapi, hanya kau sendirilah yang menentukan kau pemenang karena apa.”

Aku tertegun dengan perkataannya. Aku kembali dengan segera menuju kamar perawatanku. Aku menulis semua ceritaku. Semua resah, patah hati, dan mimpiku. Berminggu–minggu aku habiskan untuk menulis. Aku mengirim tulisanku ke berbagai media massa.

Mimpiku belum usai.

Kehilangan kesempatan pergi ke Eropa atas nama pemenang lomba pacuan kuda nasional bukanlah segalanya.

Teman–teman pembaca sangatlah luar biasa. Setiap pagi aku selalu mendapat surat baru dari para pembaca. Mereka melihat bahwa karyaku adalah hal yang indah dan berbekas di ingatan. Tanpa mereka tahu, rasa sakitku adalah hal yang membangun semua keindahan tersebut.

Dalam jangka waktu beberapa bulan, sudah tak terhitung jumlah banyaknya karya tulisan yang kukirimkan ke berbagai media massa. Hingga hari ini, aku memutuskan untuk menerbitkan sebuah buku setebal 125 halaman yang berisi kumpulan dari berbagai karya tulisan yang pernah kubuat.

Pagi ini, 13 Desember 2018, aku berdiri di hadapan ratusan orang untuk menceritakan kisahku. Aku menjadi pembicara di acara ini dan sedikit banyak membahas isi buku yang kuterbitkan.

Hari ini juga, terhitung genap setahun semenjak kecelakaan yang menimpaku. Aku masih tetaplah aku. Bunga–bunga tulip biru itu datang kepadaku bukan karena aku berdiri di atas podium kemenangan, tapi karena aku duduk di atas kursi roda dan menginspirasi banyak orang.

Setelah hari yang cukup sibuk, pergi dari satu seminar ke seminar lain, wawancara dengan media massa, dan menggalang dana sebagai misi kemanusiaan, aku mendorong kursi rodaku berkeliling taman kota. Di ujung taman ini, terdapat hamparan bunga tulip biru belanda. Aku menghampirinya.

Kupetik setangkai tulip biru belanda langsung dari taman ibu kota Belanda. Aku berdiri di tanah Eropa sebagai seorang pemenang. Bukan pemenang lomba pacuan kuda, tapi pemenang atas semua rasa sakit dan keputusasaan di masa lalu.

Untuk apa mencari tulip hingga ke Eropa bila tulip–tulip itu bisa datang kepadamu tanpa perlu mencari–cari?

 

Biodata Penulis

 Adzkia Nida lahir di Garut, 1 Mei 2003. Hobinya adalah membaca novel, mendengarkan musik, menonton film, menulis sepatah dua kata baik dalam bentuk puisi atau cerita pendek. Bersekolah di SMAN 1 Garut, kelas X MIPA 9. Kini tinggal di Jalan Kaum No. 8, RT. 03 RW. 02, Desa Cimanganten, Tarogong Kaler,  Garut.  Kontak yang dapat dihubungi adalah ponsel nomor 082321625544 dan pos-el: nidaadzkia1523@gmail.com.