Langit Sendu

Indria Ayu Wulandari

Perlahan gadis kecil itu membuka mata sendunya. Ia menggerakkan sedikit kepalanya lalu menengok ke sebelah kanan, tak ada siapapun. Ia tengok sebelah kiri lalu melihat botol dan selang infus yang tersambung ke tubuhnya. Sungguh malang gadis ini. Selang oksigen yang dipasang di hidungnya serta alat–alat medis yang tidak dia kenali menempel di tubuh mungilnya itu.

“Tidak ada siapa–siapa.” gumamnya dalam hati.

“Ibu? Ayah? Nila? Di mana mereka?”

Pusing yang masih terasa di kepalanya, rasa ngilu di sekujur tubuhnya. Ia hendak menggerakkan tubuhnya tapi masih sulit karena terasa sakit. “Haus….haus…” pikir anak itu. Tenggorokannya sungguh terasa kering. Tak lama kemudian, datanglah tujuh orang asing ke ruangan gadis itu. Tiga orang memakai jas berwarna putih, dua orang memakai seragam berwarna biru yang sama, sedangkan dua orang lagi memakai pakaian biasa. Mereka menyinggungkan senyum hangat lalu menyapa anak yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit itu.

“Selamat pagi, Nabila.” sapa salah seorang wanita berjas putih dengan senyuman hangatnya.

“Gimana keadaan kamu? Masih terasa sakit?” sambung dokter itu.

Gadis yang bernama Nabila itu tidak menjawab.

“Biar kami periksa dulu, ya.”

Mereka mulai memeriksa detak jantung Nabila, denyut nadinya, suhu badannya, dan pemeriksaan lainnya.

“Kamu merasa bosan, ya? Mau kami bantu duduk?”

Nabila mengangguk lemah mengiyakan.

Salah satu dokter yang ada di ruangan itu membantu Nabila bangun.

“Perkenalkan, nama Kakak, Dokter Farah. Yang di sebelah kanan Dokter Farah ini adalah Dokter Aryo dan sebelah kiri ada Dokter Burhan.” Dokter Farah memperkenalkan diri dan rekan–rekannya kepada Nabila nada suara yang lembut.

“Dokter Farah, Nabila ingin minum. Tenggorokan Nabila terasa sakit.” Nabila merengek.

Dokter Farah mengangguk lalu meminta salah satu perawat yang ada di belakangnya untuk membawakan segelas air putih.

Nabila langsung meneguknya hingga habis.

“Mau minum lagi?”

Nabila mengangguk lalu perawat memberikan satu gelas air putih lagi untuk Nabila. Gadis mungil itu meneguk habis lagi air yang ada di dalam gelas.

“Nabila sarapan dulu, ya. Lalu minum obat agar cepat sembuh.” Dokter Aryo memberi instruksi kepada Nabila dan Nabila pun mengangguk.

“Dokter, di mana Ayah, Ibu, dan Nila?” tanya gadis kecil itu.

“Ayah, Ibu, dan Adik kamu pasti ada di rumah sakit lain. Kamu berdoa saja, ya. Supaya dapat bertemu kembali dengan keluarga kamu.” Dokter Aryo mengusap pundak Nabila.

TV di ruangan Nabila menyala. Gadis kecil itu terlihat sedang memijit remote, mengganti channel beberapa kali hingga Ia menemukan sebuah berita. “Gempa bumi dan tsunami di Palu kini telah memakan 1.424 korban jiwa.” Tulisan itu terpampang jelas di TV. Ya, Kota Palu. Tempat Nabila tinggal bersama Ayah, Ibu, dan Adiknya, Nila. Dia tidak bisa mengingat dengan jelas apa yang terjadi. Tapi, yang diingatnya hanyalah waktu ia sedang tertidur bersama Adik dan Ibunya kala hujan besar mengguyur kediamannya.

Tak lama kemudian, datang seorang wanita berkacamata bersama seorang pria. Mereka adalah Paman dan Tante dari Nabila yang tinggal di Jakarta. Mereka juga datang bersama para dokter pagi tadi.

“Halo, Nabila. Bagaimana keadaannya? Sudah enakan?” tanya Tante Tina

Nabila tidak menjawab.

“Kami datang ke sini ingin menemani Nabila. Takutnya kamu kesepian.” Lanjutnya.

“Tante, dari tadi rasanya ada yang aneh dengan kaki Nabila. Tidak bisa digerakkan.” Nabila membuka selimut yang menutupi kakinya lalu berusaha untuk menggerakkan kakinya tapi tidak bisa. Kakinya tidak bergerak sedikitpun.

Tina menatap Irfan. Ia khawatir. Tahu bahwa gadis kecil itu kini tak bisa berjalan lagi.

“Apakah Nabila sekarang lumpuh?” Nabila bertanya.

“Kamu yang sabar, ya, Nabila.” Irfan berusaha menenangkan gadis kecil itu.

“Jadi Nabila tidak akan bisa berjalan lagi?”

Tina mengangguk mengiyakan.

“Tapi kamu tenang saja. Kamu tidak akan sendirian. Kami akan selalu di samping Nabila.”

Tetes air mata jatuh di pipi Nabila. Dia menangis, menghadapi kenyataan bahwa kini Ia tak tidak akan bisa berjalan lagi. Tina memeluk tubuh mungil Nabila. Mengusap punggungnya lalu mengatakan,

“Tidak apa–apa. Om dan Tante akan selalu di samping Nabila. Jangan sedih, ya.”

Sore itu hujan deras mengguyur Kota Palu disertai angin yang besar. Suara petir terdengar sangat keras. Di tengah rumah, Nabila sedang menulis puisi di bukunya sedangkan Nila sedang menggambar sesuatu di buku gambarnya. Nabila memang gemar menulis puisi, sedangkan adiknya, Nila gemar sekali menggambar.

“Kak, ayo tebak apa yang sedang Nila gambar?” Nila menghentikan aktivitasnya sejenak lalu menyembunyikan buku gambarnya di punggungnya.

Nabila juga menghentikan aktivitasnya lalu memperhatikan adiknya.

“Tidak tahu. Memangnya apa yang sedang kamu gambar?”

“Nila menunjukkan hasil gambarnya kepada kakaknya.

“Tadaaa…!”

“Wah, ternyata kamu sedang menggambar Kakak, ya.”

Nila mengangguk dengan senyumnya yang sangat menggemaskan.

“Bagus sekali gambar buatanmu.” Nabila mengusap puncak kepala adiknya.

Tiba-tiba terdengar suara petir yang sangat keras. Nila langsung berlari menghampiri kakaknya.

“Kakak, petirnya sangat keras. Nila takut.” ucap Nila sambil memeluk kakaknya.

“Jangan khawatir. Tidak akan terjadi apa–apa.” Nabila menenangkan adiknya yang ketakutan.

“Di mana Ibu?” Nila bertanya sambil menatap kakaknya dengan matanya yang bulat dan jernih itu.

“Ibu sedang berjualan di pasar.”

“Lalu Ayah? Kapan Ayah pulang?”

“Kakak juga tidak tahu. Ayah sedang merantau mencari ikan untuk menafkahi kita. Kita doakan saja agar Ayah diberi keselamatan dan cepat pulang.”

Nila mengangguk.

“Nila masih merasa takut?”

Nila mengangguk lagi tanpa melepaskan pelukannya.

“Bagaimana kalau kita pergi ke kamar dan bersembunyi di markas agar merasa aman?”

Mereka pun pergi ke kamar, kemudian bersembunyi di bawah selimut. Ya. ‘markas’ yang mereka sebut adalah di bawah selimut. Setiap mereka merasa ketakutan terhadap sesuatu, mereka akan bersembunyi di ‘markas’ mereka ini.

Suara petir yang menggelegar terdengar sekali lagi. Nila yang merasa ketakutan mulai menangis sambil memeluk kakaknya di bawah selimut. Nabila pun ikut menangis. Mereka berdua terisak di bawah selimut.

Tak lama kemudian terdengar suara pintu yang berdecit. Terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah mereka.

“Nabila? Nila? Sedang apa kalian di situ?” Suara lembut itu langsung memberikan ketenangan. Nabila membuka selimutnya dan melihat sosok Ibunya di depan pintu.

“Ibu! Kami takut sekali!” Nabila merengek pada Ibunya.

Nila langsung berlari menghampiri Ibunya dan memeluknya. Begitupun dengan Nabila.

“Sudah. Jangan menangis lagi. Ibu ada di sini.” Ibunya mengusap kepala kedua anaknya itu sambil tak henti–hentinya Ia menenangkan malaikat–malaikat kecilnya dan mengusap air mata yang ada di pipi manis Nabila dan Nila.

“Bagaimana ibu bisa pulang? Di luar sedang hujan deras sekali.” Nabila melepaskan pelukannya sejenak dan bertanya kepada Ibunya.

“Ibu cepat–cepat menutup kios dan pulang walaupun hujan deras sekali karena ibu khawatir pada putri kecil Ibu ini.”

Gadis kecil itu kembali memeluk erat Ibunya.

“Kalian pasti capek, ‘kan? Tidurlah. Jika kalian tidur, kalian tidak akan mendengar suara petir yang menakutkan lagi. Kalian akan tertidur pulas tanpa mengkhawatirkan apapun.”

Kedua gadis kecil itu mengangguk lalu naik ke tempat tidurnya.

“Biar Ibu nyanyikan lagu pengantar tidur kesukaan kalian.”

“Ibu tidak boleh pergi kemana–mana, ya. Temani kami di sini.” ucap Nila sambil memegang erat tangan ibunya.

“Ibu tak akan kemana–mana, sayangku. Nanti, jika hujannya sudah berhenti, Ibu akan bangunkan kalian.”

Nabila dan Nila pun tertidur dengan lelap sambil dinyanyikan lagu pengantar tidur oleh ibunya. Lagu yang dinyanyikan dan pelukan dari Ibunya memang selalu bisa membuat hati mereka tenang bagaimanapun kondisinya.

Setelah menunggu beberapa saat, hujan mulai mereda. Udara terasa sejuk, bau tanah yang terkena air hujan masih tercium oleh hidung. Langit Kota Palu saat itu masih terlihat gelap. Suasananya berbeda dari hari biasanya.

Nabila, Nila, dan Ibunya terbangun dari tidurnya. Mereka merasakan ada guncangan keras yang menghampiri mereka.

“Ibu, guncangan apa ini?” Nila masih menggosok matanya yang masih terasa kantuk.

“Ibu! Ada gempa bumi!” teriak Nabila yang juga baru terbangun dari tidurnya.

“Ayo, Bu! Kita keluar!” Nabila dan Nila menarik tangan Ibunya.

Terdengan suara benda yang pecah dari arah ruang tamu. Dengan keadaan saling merangkul, mereka pergi menuju ruang tamu lalu melihat figura foto keluarga mereka kini telah pecah berserakan di lantai.

Guncangan datang kembali dan kali ini terasa lebih besar. Barang–barang yang ada di rumah mulai berserakan akibat guncangan itu.

“Yaa Allah, Allahu Akbar!” Ibunya panik dan langsung menggiring anak–anak untuk keluar dari rumah.

“Ibu, bagaimana ini?!” Nabila semakin erat merangkul Ibunya.

Nila mulai menangis, Kakaknya pun ikut menangis.

Orang–orang di lingkungan tempat tinggal mereka pun panik dan mulai berhamburan keluar rumah sambil berteriak “Allahu Akbar!” “Gempa!” Anak–anak yang ada di sana juga menangis dengan kencangnya. Suasana semakin tidak karuan saat beberapa rumah warga mulai roboh, termasuk rumah milik keluarga Nabila.

Saat sedang berlari untuk menyelamatkan diri, pegangan tangan Nila terlepas dari Ibu dan Kakaknya. Dengan segera, Ibu langsung kembali untuk menyelamatkan Nila. Saat Nabila dan Ibunya menghampiri Nila, tiba–tiba reruntuhan bangunan terjatuh. Ibu yang menyadarinya langsung melindungi kedua putri kecilnya dengan merangkul mereka dan akhirnya reruntuhan bangunan itupun mengenai kepala dan badannya.

“Ibu! Ibu tidak apa–apa?!” Nila langsung menggoyangkan tubuh Ibunya yang sudah tergeletak tak berdaya. Di samping Ibunya, Nila juga terlihat tidak sadarkan diri dengan darah yang tercecer dari kepalanya.

“Tidak! Ibu! Nila! Ayo bangun! Kita harus segera lari! Hiks…Ayo, Bu…bangunlah.” Nabila terus menggerakkan tubuh Ibu dan Adiknya sambil menangis. ’Mengapa mereka tidak bergerak juga? Bukankah kami harus segera menyelamatkan diri?’ pikirnya dalam hati.

“Hiks….Nila, Ibu….Ayo, Hiks…kita harus selamatkan diri…”

Saat itu juga, reruntuhan bangunan kembali jatuh menghantam kaki Nabila. Anak itu menjerit kesakitan. Sambil terus berusaha membangunkan Ibu dan Adiknya, Ia tak henti–hentinya menangis.

Seorang wanita dan seorang pria yang tampak seperti ayahnya menghampiri Nabila. Mereka juga terlihat sedang berusaha menyelamatkan diri, tetapi saat mereka melihat Nabila, mereka langsung menghampirinya untuk membawa serta gadis kecil malang itu.

“Ayo cepat, Nak! Ikut kami!” Laki–laki itu melihat runtuhan bangunan yang menimpa kaki Nabila. Dengan sigap, ia langsung menyingkirkannya.

“Ayo, cepat! Biar kugendong!”

Nabila menggelengkan kepalanya,

“Ibu dan Adikku tidak mau bangun, tolong bangunkan mereka…” Nabila memelas kepada lelaki itu. Lelaki  itu lalu memeriksa napas sang Ibu dan Nila.

“Kita tidak bisa menolongnya. Ayo! Biar kugendong! Kita harus cepat lari dari tempat ini.”

Pandangan Nabila terlihat kabur, kakinya semakin terasa lemas. Pandangannya kini menjadi gelap, tak terlihat apapun. Gadis kecil itu langsung tergeletak tak sadarkan diri.

Nabila terbangun dari tidur siangnya. Ia melihat Tina sedang menelepon seseorang.

“Tante.” panggil Nabila.

Tina menoleh ke arah Nabila lalu menutup sambungan teleponnya.

“Kamu sudah bangun?” Tina menghampiri Nabila dengan senyum hangat di bibirnya.

Setetes air mata turun membasahi pipi gadis kecil ini.

“Nabila, kenapa kamu menangis?” Tina mengusap pipi Nabila.

“Tante, Nabila ingat semuanya, hiks…”

Tina terdiam sesaat lalu memeluk tubuh mungil gadis di hadapannya itu.

“Ibu dan Nila…. mereka tidak selamat.”

“Sudah, tidak apa–apa. Ibu dan Nila pasti sudah bahagia di sisi Tuhan.” Tina mengelus tengkuk gadis kecil yang ada di pelukannya.

Nabila terus menangis. Tina pun ikut meneteskan air matanya. Kakaknya satu–satunya dan keponakannya, Nila, kini telah berpulang ke hadapan Tuhan. Dia menghapus air matanya. Ia menyadari bahwa Ia tak boleh terlihat lemah di hadapan Nabila. Nabila pasti lebih terpukul akibat kepergian Ibu dan Adiknya.

“Sudah, jangan menangis lagi. Ibu  dan adik kamu pasti sedih jika melihat kamu seperti ini.”

“Sebentar lagi Ayah akan tiba di sini. Kamu tidak boleh sedih lagi, ya.”

Nabila mengangguk sambil menghapus air matanya.

Malam harinya, sang Ayah datang menghampiri putrinya yang kini sedang menatapnya dengan mata sendunya.

“Ibu dan Nila sudah pergi, Yah.”

Ayah lalu memeluk Nabila. Mereka saling berpelukan dalam tangis.

“Maafkan Ayah karena datang terlambat. Maafkan Ayah karena keterlambatan Ayahmu ini, kakimu menjadi seperti ini.” Mereka terisak sambil berpelukan.

Tina dan Irfan yang berada di ruangan itu pun ikut menangis.

Malam itu dilalui dengan isak tangis. Bukan hanya mereka, tetapi semua korban bencana alam di sana. Bahkan Langit pun ikut menangis melihat penderitaan orang–orang.

Semua orang di seluruh Indonesia, bahkan di dunia ikut berduka melihat penderitaan Kota Palu.

-TAMAT-

 

Biodata Penulis

Indria Ayu Wulandari lahir di Garut, 22 Februari 2002. Kesehariannya diisi dengan kegiatan belajar, membaca novel, dan mendengarkan musik. Siswa SMAN 1 garut, kelas XI MIPA 1 ini tinggal di Kp. Cikamiri RT. 02 RW. 02, Samarang, Garut. Kontak yang dapat dihubungi adalah ponsel nomor 082118094964 dan pos-el: indriawulandari4@gmail.com.