PAPAGON, NYANGKU, DAN PERILAKU KITA

“Mangan Karna Halal, Pake Karna Suci, Ucap Lampah Sabenere”. Tulisan ini terpampang di depan pintu gerbang Taman Borosngora, alun-alun Kecamatan. Tulisan tersebut merupakan sebuah papagon atau nasihat dari leluhur Panjalu untuk warganya dan menjadi sebuah pandangan hidup bagi warga Panjalu. Arti dalam bahasa Indonesianya kurang lebih: makan karena halal, menggunakan karena suci, ucapan dan perilaku sebenarnya.

Papagon Panjalu yang terpampang di pintu gerbang Taman Borosngora adalah nasihat leluhur bagi warga Panjalu.

Memakan makanan yang halal, memakai pakaian yang suci yang bersih dari najis, serta berperilaku dan berkata jujur adalah tiga hal yang sampaikan leluhur Panjalu terhadap warganya. Ketiga hal tersebut adalah hal-hal baik yang mestinya menjadi perilaku keseharian warga Panjalu khususnya, masyarakat pada umumnya. Sudah semestinya warga Panjalu memegang teguh nasihat tersebut. Pertanyaannya, Masihkah kearifan lokal tersebut masih menjadi bagian keseharian dan tetap memeliharanya saat zaman semakin berubah?
Nyangku adalah semacam upaya penyadaran diri terhadap perilaku kita selama ini. Kegiatan yang dilakukan setiap bulan Rabiul Awal ini mengandung arti nyaangan Laku, menerangi perilaku. Artinya, melalui Nyangku diharapkan agar masyarakat yang mengikuti prosesi ini dapat mengingat kembali nasihat baik dari para leluhur terkait perilaku yang semestinya menjadi adat keseharian.

Warga Panjalu memadati Taman Borosngora saat prosesi Nyangku Tahun 2018 berlangsung, Senin 3 Desember 2018.

Nyangku tidak semata-mata hanya membersihkan benda pusaka peninggalan leluhur atau bentuk penghormatan kepada para leluhur saja. Dalam sambutannya saat pelaksanaan Nyangku Tahun 2018, Ketua Yayasan Borosngora, Johan Wiradinata mengatakan bahwa Nyangku menjadi sebuah peristiwa untuk mengevaluasi diri agar di masa depan bisa lebih baik lagi. Nyangku bukan hanya membersihkan pusaka, melainkan juga membersihkan diri , membersihkan perilaku. Jika selama ini warga Panjalu ada yang melenceng dari nasihat leluhurnya yang telah berjasa menyebarkan kebaikan melalui agama Islam, Nyangku adalah wadah untuk kembali kepada jalan yang benar sesuai dengan ajaran leluhur, agama, maupun norma-norma lainnya.

Papagon dan Nyangku adalah dua dari sekian banyak kearifan lokal yang dapat kita temui di Panjalu. Jika mengikuti rangkaian acara yang bertajuk Nyangku Festival Budaya Panjalu yang puncaknya di hari Senin, 3 Desember 2018 ini, kita dapat memahami betapa kayanya warisan budaya dan bahkan kreativitas budaya yang ada di daerah utara Kabupaten Ciamis ini. Setidaknya di bidang kesenian pertunjukan yang menjadi bagian dari festival ini, sejumlah nama akan menjadi tidak asing lagi di telinga kita karena semakin dikenal di khalayak yang lebih luas. Buta Kararas dan Wayang Landung adalah dua nama yang telah tercatat sebagai pertunjukan budaya yang cukup terkenal di luar Panjalu, tidak hanya di Jawa Barat saja, melainkan di Indonesia, bahkan negara-negara Asia Tenggara.

Wayang Landung adalah bentuk kreativitas budaya yang diciptakan oleh Mang Ganda, seorang warga Panjalu yang telah mendapatkan penghargaan di tingkat Asia Tenggara.

Peristiwa Nyangku yang berlangsung setiap tahun ini telah menjadi peristiwa budaya yang ditunggu-tunggu oleh warga Panjalu. Nyangku adalah salah satu wadah untuk bersilaturahmi, baik itu silaturahmi budaya maupun silaturahmi dengan handai taulan. Pada hari itu semua orang bertemu, berpapasan, dan bertegur sapa. Mereka memadati tempat-tempat yang selama ini identik dengan Panjalu sebagai tempat wisata ziarah andalan Ciamis. Mereka memadati Bumi Alit, Taman Borosngora, jalanan desa, dan dermaga di pinggiran Situ Lengkong Panjalu. Di tempat-tempat itu mereka bercengkrama, menghibur diri, dan ada juga yang ngalap berkah, seperti yang dapat dilihat utamanya di tiga tempat, yaitu Bumi Alit, Taman Borosngora saat prosesi pencucian benda pusaka berlangsung, dan Nusa Larang tempat leluhur Panjalu dimakamkan.

Perahu di Situ Lengkong Panjalu

Pada akhirnya, Nyangku adalah kemeriahan sesaat, sama dengan peristiwa mudiknya penduduk Panjalu saat Idulfitri. Dua peristiwa tahunan ini menjadi bagian dari upaya pembersihan diri dan membuat ramai kota kecil ini. Selepas itu, Panjalu kembali sepi. Warga Panjalu kembali kepada rutinitas kesehariannya, berjuang mengarungi hidup, bekerja di tanah kelahiran ketika kesempatan kerja semakin sempit atau mengembara ke luar desa. Di sisi lain, kesepian tampak di udara, ketika ribuan kelelawar tak terlihat lagi bergerombol di atas pohonan yang ada di Nusa Larang seperti sekian tahun yang lalu. Konon mereka, kelelawar itu, menyusut keberadaannya karena tempat mereka mencari makan sudah berubah akibat ulah manusia dan mereka pun diburu untuk kepentingan manusia. MSH