Drama Sunda dalam Catatan

Sarip Hidayat*

Berbeda dengan pembicaraan mengenai genre-genre sastra dalam sastra Sunda, pembicaraan terkait dengan drama Sunda akan menemui kesulitan tersendiri. Salah satunya adalah data tulisan yang berhubungan dengan perkembangan drama Sunda secara khusus agak sulit diperoleh. Naskah-naskah drama yang masuk dalam khazanah sastra Sunda umumnya adalah naskah drama lepas yang tidak dibukukan. Biasanya naskah ini dibuat hanya untuk kepentingan pementasan saja, bukan benar-benar naskah drama layaknya buku kumpulan puisi, cerpen, maupun novel yang memang diperuntukkan bagi masyarakat luas, dapat dibaca dan diapresiasi oleh para pembacanya. Saking langkanya buku drama Bahasa Sunda, penerbit yang selama ini menerbitkan buku-buku sastra berbahasa Sunda, Kiblat Buku Utama lebih memilih untuk menerbitkan ulang karya drama yang berasal dari periode awal kemunculan drama dalam sastra Sunda, yaitu drama Sang Kuriang karya Utuy Tatang Sontani yang sebelumnya terbit pada tahun 1962 oleh penerbit Bhatara. Memang ada pula buku lain yang pernah diterbitkan, seperti Jeblog. Perlu diketahui bahwa Jeblog adalah buku kumpulan drama pemenang Pasanggiri Penulisan Naskah Drama Sunda yang digagas oleh Teater Sunda Kiwari pada tahun 2007. Artinya, buku ini lebih terkesan sebagai buku proyek dokumentasi, bukan buku yang memang sengaja diterbitkan oleh pengarangnya secara mandiri.

Langkanya buku drama Sunda yang terbit di setiap tahun bahkan di setiap dekade sebenarnya sangat memprihatinkan. Keprihatinan lainnya adalah bahwa hanya karya drama yang selama ini belum menjadi pemenang Rancage. Meskipun bukan satu-satunya ukuran sebagai penguji kualitas buku sastra Sunda, Rancage setidaknya menjadi barometer bagi perkembangan buku Sunda di setiap tahun.

Minimnya naskah drama berbahasa Sunda yang terbit, baik sebagai naskah pertunjukan dan apalagi sebagai buku diakui sendiri oleh penggiat drama Sunda yang memimpin Teater Sunda Kiwari, Dadi P. Danusubrata. Menurut Dadi (2009), kelangkaan ini seiring dengan langkanya pementasan drama Sunda. Akibat keadaan tersebut, para pengarang kemudian enggan menulis naskah drama karena hasil karyanya kecil kemungkinan dapat dipentaskan. Pada akhirnya, mereka lebih memilih menciptakan karya yang secara ekonomis lebih menjanjikan, seperti membuat cerpen atau membuat naskah sinetron.

Berbeda dengan karya sastra lain, seperti puisi, cerpen, dan novel yang lebih mudah dipublikasikan, baik dalam bentuk buku maupun dimuat di dalam koran atau majalah, naskah drama lebih identik dengan kebutuhan akan pementasan. Artinya naskah drama akan dibuat dengan maksud untuk dipentaskan. Dengan demikian kondisinya akan berbeda dengan tiga genre lain yang setiap saat dapat dibuat kemudian dipublikasikan.

Hal ini setidaknya dapat dilihat dari sejumlah sastrawan maupun karya-karya drama yang pernah dibuat yang pada akhirnya lebih populer dalam pementasannya dibandingkan sebagai karya sastra dalam bentuk buku misalnya. Bahkan, ada sejumlah naskah drama yang sejatinya merupakan jenis karya sastra lain yang kemudian dijadikan naskah drama untuk selanjutnya dipentaskan. Hal ini misalnya terjadi pada cerpen “Geus Surup Bulan Purnama” (2005) karya Yous Hamdan, novel Sandekala (2007) karya Godi Suwarna. Bahkan Sandekala dibuat dua versi drama (berbahasa Sunda dan Indonesia) untuk kepentingan perluasan penonton karena pertunjukannya diselenggarakan bukan hanya di wilayah Jawa Barat melainkan juga di DKI Jakarta.

Sang Kuriang memang bukan drama Sunda pertama yang hadir dalam kesusastraan Sunda. Sang Kuriang pun tidak dapat disebut sebagai karya asli karena sebenarnya merupakan terjemahan dari drama aslinya yang berbahasa Indonesia. Beberapa tahun sebelum lahirnya Sang Kuriang, ada beberapa karya drama yang telah dihasilkan oleh para pengarang Sunda. Sebut misalnya drama berjudul ”Jaomal Qiamat” karya R.A.F.(1959), ”Takbir jeung Takdir” karya Dede Tarkajat (1959), ”Dua Utusan” karya Wahyu Wibisana (1959), ”Kucubung” karya Wahyu Wibisana (1959), dan ”Ti Laut ka Langit” karya Wahyu Wibisana (1959). Selanjutnya hadir sejumlah naskah drama di periode 60-an, seperti ”Prasasti” karya Wahyu Wibisana (1962), ”Wangsit Siliwangi” karya Wahyu Wibisana (1965), ”Masyitoh” karya Ajip Rosidi (1964), “Cahya Maratan Waja” (1964) karya Yus Rusyana, ”Hutbah Munggaran di Pajajaran” karya Yus Rusyana (1965), ”Hijrah ka Habsyi” karya Yus Rusyana (1965), “Di Karaton Najasii” karya Yus Rusyana (1966), “Tukang Polka” (1968) karya Yus Rusyana, dan “Tukang Asahan” (1978) karya Wahyu Wibisana.

Jika dilihat dari sejumlah sastrawan Sunda yang banyak menulis naskah drama, nama Yus Rusyana dan Wahyu Wibisana adalah dua sastrawan yang menonjol. Meskipun demikian, beberapa sastrawan lain, seperti Haji Rahmatullah Ading Affandie (RAF) dan R.H. Hidayat Suryalaga adalah juga pendorong bagi tumbuhnya drama Sunda.

Mereka yang aktif dalam penulisan drama pada dasarnya adalah pelaku pertunjukan drama, bukan hanya sebagai aktor, melainkan juga sebagai penggagas berdirinya grup-grup pertunjukan drama dengan berbagai variasinya, seperti sandiwara, gending karesmen, atau longser. Dua nama terakhir, RAF dan R.H. Hidayat Suryalaga adalah tokoh-tokoh yang berada di balik keberhasilan berkembangnya drama Sunda modern. RAF pernah populer menampilkan drama melalui media televisi dengan tayangan “Inohong di Bojongrangkong” yang melegenda. Adapun R.H. Hidayat Suryalaga bersama Wahyu Wibisana banyak menampilkan pertunjukan Gending Karesmen, yaitu drama yang lebih banyak menampilkan pertunjukan musik etnis yang dipadu cerita yang biasanya berasal dari khazanah kesusastraan Sunda lama,seperti pantun dan dangding.

Kehadiran grup teater yang mengkhususkan diri pada pertunjukan drama Sunda, Teater Sunda Kiwari yang didirikan oleh R.H. Hidayat Suryalaga bersama Dadi P Danubrata pada tahun 1975 sedikit banyak telah membantu tetap bertahannya drama Sunda hingga saat ini. Konsistensi mereka dalam mempertunjukkan drama-drama Sunda membuat penulis naskah drama memiliki tempat untuk menyalurkan daya kreativitasnya.
Ada dua garapan besar Teater Sunda Kiwari yang patut diapresiasi dan seharusnya mendapat dukungan dari berbagai pihak yang berkepentingan. Pertama adalah diselenggarakannya Festival Drama Sunda yang sampai tahun 2017 telah dilaksanakan sebanyak 18 kali sejak dimulai pada tahun 1990. Ini artinya, hampir setiap tahun (kecuali di tahun-tahun 90-an) festival yang melibatkan banyak peserta dari seluruh pelosok Jawa Barat ini hadir dan ikut mendukung pemertahanan Bahasa Sunda melalui pementasan sastra. Kedua adalah diadakannya pasanggiri penulisan naskah drama Sunda yang melahirkan nama-nama penulis drama yang konsisten di jalurnya juga menghadirkan naskah-naskah drama yang kemudian digunakan sebagai naskah pilihan dalam festival drama.

Nama-nama seperti Nunu Nazarudin Azhar, Dhipa Galuh Purba, dan Dadan Sutisna adalah mereka yang rajin mengikuti pasanggiri penulisan drama Sunda ini. Dari mereka kemudian lahir karya yang selayaknya akan dicatat dalam sejarah perkembangan drama Sunda, seperti “Jeblog”, “Nagri Katumbiri”, “Satru”, “Nyi Anteh”, “Di Hiji Tempat nu Biasa” (Nazarudin Azhar), “Badog”, “Pajaratan Cinta”, “Nyi Bagendit Gugat”, “Teroris”, “Seksa” (Dhipa Galuh Purba), “Nagara Angar”, “Kaferehe”, dan “Baruang” (Dadan Sutisna).

Di sisi yang lain, adanya festival drama Sunda ini membuat salah seorang pelaku teater yang selama ini lebih banyak dikenal namanya di jagad teater Indonesia, Arthur S. Nalan pun menyumbang naskah untuk setiap pertunjukan Teater Sunda Kiwari. Naskah yang ditulis Nalan misalnya “Kėrė Unggah Balė”dan “Benang Kusut”. Hal yang sama juga terjadi pada penggiat teater Ayi G Sasmita dan Rosyid E. Abby. Ayi G Sasmita menulis naskah drama “Cinta Ka Tungkul Ku Pati”, “Kalangsu”, dan “Tungtungna Tunggara”. Adapun Rosyid lebih banyak menulis naskah drama saduran dari bahasa lain. Dari generasi setelahnya, mulai muncul juga Lugina De yang mulai menggarap naskah drama, seperti dalam “Dayeuh Simpe”.

Sebagai teater pertunjukan, Teater Sunda Kiwari tidak hanya menggarap naskah-naskah drama yang berasal dari pengarang kontemporer. Naskah yang berasal dari tahun-tahun sebelumnya, seperti “Tukang Asahan” karya Wahyu Wibisana tetap menjadi salah satu sumber pementasannya. Hal ini tentu memiliki alasan. Alasan utamanya adalah karena naskah tersebut bisa melintasi zamannya atau tetap relevan dengan kondisi sekarang. Karya-karya Wahyu Wibisana yang sarat dengan muatan filosofis agaknya sejalan dengan misi Teater Sunda Kiwari yang ingin menggugah masyarakat melalui penampilan drama Sunda yang meskipun terlihat sederhana namun mengandung pembelajaran berharga ketika mengapresiasinya.

Pada akhirnya dapat dikatakan bahwa keberlangsungan drama Sunda, dalam hal ini naskah-naskah dramanya dapat terus terjaga sepanjang pementasannya di atas panggung tetap diusahakan oleh pelaku teater atau mereka yang peduli kepada terjaganya keberlangsungan bahasa Sunda sebagai bahasa yang menjadi identitas budayanya.

*Penulis bekerja sebagai staf peneliti di Balai Bahasa Jawa Barat