Si Kabayan: Menakut-nakuti

5. Menakut-nakuti

Sudah dua hari si Kabayan diberi muka masam oleh mertuanya. Mertuanya merasa jengkel karena si Kabayan pura-pura sakit ketika diajak membabat lahan untuk huma.

Ketahuan pura-pura sakitnya itu ketika Abah pulang dulu untuk mengambil parangnya yang ketinggalan. Terlihat si Kabayan sedang santai tiduran di tepas rumah.

Biasanya si Kabayan selalu ikut makan bersama, tetapi hari itu makannya sendirian saja di dapur. Oleh istrinya tidak disiapkan, disuruh mengambil sendiri dari lemari. Nasinya dingin, ketika dibuka hanya ada kepala peda dan sambal yang sudah mengering.

“Sungguh tega” Kata si Kabayan berbicara sendiri. “Tadi tercium wanginya goreng  gabus dan juga sayur lodeh. Sampai tidak bersisa, masa dihabiskan sama istri dan mertua? Masa tidak tahu ada orang lain di rumah?”

Si Kabayan makannya seperti yang tidak semangat, hanya untuk menghilangkan lapar saja.

Si Kabayan mencari-cari di dalam lemari, menemukan tapai ketan. Kemudian ia membaluri dirinya dengan air tapai. Setelah itu ia berguling-guling di atas kapuk. Tentu saja baru beberapa kali gulingan, seluruh badannya sudah dipenuhi kapuk sampai ke kepalanya.

Ia keluar dari rumah sambil menengok kiri dan kanan lalu berjalan menuju pancuran tempat mandi di dekat sungai. Pakaiannya disembunyikan di bawah semak-semak. Setelah itu ia naik ke atas pohon loa. Pohon loa itu tumbuh di pinggir jalan yang biasanya dilalui orang-orang ketika pulang dari huma. Kalau mertua dan istrinya pulang pasti lewat ke bawah pohon loa.

Si Kabayan bersembunyi di dahan yang berdaun rindang.

Bakda zuhur terdengar orang-orang yang pulang dari huma. Jalannya beriringan. Mertuanya saat itu juga ikut pulang, tetapi jauh di belakang yang lainnya.

Yang lain sudah jauh, tibalah mertuanya lewat di bawah pohon loa.

Mertuanya terkejut karena ada yang memanggilnya dengan suara yang berat.

“Gutoooo… Gutooo…, si Kabayan mana?”

Mertua si Kabayan menoleh ke kiri dan ke kanan. Dalam hatinya berkata “Siapa yang memanggil saya? Dan siapa orangnya yang tahu nama saya ketika masih kecil?”

Terdengar lagi suara panggilan dan terlihat di atas dahan pohon loa, agak tertutup daun, ada sesosok makhluk berwarna putih.

Mertua si Kabayan langsung terduduk dan tangannya mengacung-acung menyembah ke atas.

“apa keinginan, Embah?”

“Si Kabayan ada? sehat?” kata suara dari atas pohon loa.

“Sehat, Embah!” Jawab mertua si Kabayan sambil gemetar.

“Dia itu cucunya Embah. Titip ya, jangan kurang makannya, jangan kurang minumnya, dan jangan terlalu banyak disuruh kerja! Kasihan…!”

“Baik, Embah,” jawab mertua si Kabayan.

“Sana, sekarang pulang saja. Sekali lagi nitip cucu!”

Mertua si Kabayan cepat-cepat pulang, setengah berlari sampai tunggang-langgang.

Ketika mertuanya sudah jauh, si Kabayan turun, cepat-cepat ke pancuran, membersihkan badannya yang penuh kapuk.

Pulang ke rumahnya terlihat mertua laki-laki, mertua perempuan dan istrinya sedang makan bersama.

Si Kabayan tidak langsung masuk ke rumah tetapi berbelok ke pinggir rumah terus ke kamar mandi. Terdengar oleh mertunya, lalu dipanggil, “Ujang, makan dulu, mumpung masih hangat.”

Si Kabayan tersenyum mendengar mertuanya memanggil “Ujang”. Tidak seperti biasanya.

“Nanti Bah, mau ke kamar mandi dulu,” jawab Si Kabayan.

Sambil mencuci kaki, si Kabayan berbicara sendiri “sekarang, Abah pasti tidak akan menyuruh saya mencangkul. Soalnya sudah tahu bahwa saya ini cucunya Embah Borokongkong.”