Pegiat Literasi dari Panjalu: Dalam Sakit Rossy Nurhayati Menebar Virus Baca

Rossy Nurhayati saat mempraktikkan pembuatan Ecobrick dari sampah plastik

Berawal pada tahun 2007, Rossy Nurhayati yang beralamat di Dusun Pabuaran, RT 03 RW 03, Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu, Kab. Ciamis, merintis kegiatan literasi dengan menjadikan tempat tinggalnya sebagai rumah belajar Iqra (belajar mengaji) bagi anak-anak usia PAUD -SD-SMP di sekitar rumahnya. Upaya ini didasari Umi Rossy (panggilan anak-anak didiknya) akan keprihatinannya pada aktivitas anak-anak yang hanya menghabiskan waktu luangnya untuk bermain saja. Anak-anak yang belajar Iqra pada Umi Rossy saat itu berjumlah sekitar 42 anak. Mereka belajar mulai pukul 13.00—21.00. Waktu belajar itu terbagi dalam tiga bagian waktu: pukul 13.00—15.00, anak usia PAUD/TK; Asar—Magrib, anak usia SD; Magrib—pukul 21.00, anak usia SMP.

Hingga tahun 2008, tepatnya tanggal 22 September yang juga bertepatan dengan perayaan ulang tahun dirinya, tercetus niat untuk mendirikan Rumah Baca/Iqra (rumah belajar pengetahuan umum dan membaca, selain belajar mengaji). Sayang bertepatan dengan momentum tercetus berdirinya rumah baca yang dinamai “Rumah Baca Cahaya Ilmu”, yakni pada tanggal 23 September 2008 petaka menimpa Umi Rossy. Umi Rossy mengalami pendarahan hebat yang keluar dari hidungnya. Puskesmas dan RSUD Ciamis pun tak sanggup menangani penyakitnya. Akhirnya ia dirujuk untuk dirawat ke RS di Bandung hingga divonis mengidap kanker darah (leukimia) stadium 4. Umi Rossy mengalami kelumpuhan selama setahun: tak mampu melihat (satu bulan) dan tak mampu berbicara (tiga bulan).

Rumah Baca Cahaya Ilmu yang adalah juga tempat tinggal keluarga Rossy Nurhayati di Dusun Pabuaran, Panjalu, Ciamis.

Sejak saat itulah, sebulan sekali Umi Rossy memiliki aktivitas bolak-balik Ciamis—Bandung untuk berobat. Kesempatan inilah yang dimanfaatkan Umi Rossy untuk selalu membeli buku ketika ke Bandung: buku-buku dan majalah-majalah bekas dari toko buku loak Palasari. Koleksi buku yang dimiliki Rossy sepenuhnya adalah koleksi pribadi. Sudah sejak masa sekolah (SMA di Bogor) hingga masih bekerja di Bogor dan pernah menjadi penyiar radio di Garut, Umi Rossy memiliki hobi membeli dan membaca buku. Pada saat itu pula ia memiliki keinginan untuk memiliki perpustakaan pribadi. Ia juga bertekad apabila kembali ke kampung halaman, akan mendirikan rumah baca. Ia pun kembali ke Panjalu dan menjadi pengajar di Sekolah Luar Biasa selama kurang lebih 9 tahun. Kemudian, ia pun menuntaskan cita-cita lamanya, mendirikan Rumah Baca Cahaya Ilmu.

Koleksi awal buku yang dimiliki Rumah Baca Cahaya Ilmu berjumlah 300 buku, semua itu merupakan koleksi pribadi Umi Rossy yang dikoleksinya sejak bersekolah di SMA hingga ia bekerja. Ada pula beberapa buku hasil sumbangan dari teman. Kini, Rumah Baca Cahaya Ilmu memiliki koleksi buku sekitar 5.200-an buku. Hanya saja dari jumlah tersebut, ada sekitar 1850 buku yang tidak kembali, dianggap hilang. Di antara jumlah buku yang hilang tersebut sekitar 500 buku berupa novel, 500 buku berupa cerita anak, dan 20 kisah nabi. Buku-buku yang tidak kembali tersebut merupakan buku-buku favorit yang paling banyak dibaca anak-anak. Contoh buku lain yang hilang, misalnya Kamus Bahasa Inggris yang semula berjumlah 20 buku dan atlas (35 buku), kini tidak tersisa lagi.

Kejadian banyaknya buku yang tidak kembali lagi, diakui Rossy merupakan salah satu kelemahan dirinya dalam membuat regulasi peminjaman buku dan kurangnya sumber daya. Hal ini tak lain karena selama ini ia mengelola rumah baca buku hanya dengan biaya sendiri serta dikelola oleh dirinya sendiri, dibantu suami dan ayahnya. Pada awal berdiri, pernah dibuat aturan peminjaman buku: anggota baru dibuatkan kartu anggota. Setiap aktivitas peminjaman tercatat di kartu. Tapi kini, Rossy tidak memiliki dana lagi untuk pembuatan kartu. Pernah pula melibatkan anak-anak rumah baca untuk mengelola sistem peminjaman buku. Ini berhenti pula di tengah jalan. Orang tua anak-anak menolak memberi izin dengan alasan anak-anak tak mendapat upah atas pekerjaannya.

Aturan peminjaman buku yang berlaku sangat longgar. Rumah Baca Cahaya Ilmu buka setiap hari mulai pukul 10.00 s.d. 18.00. Plus pada setiap hari Minggu, mulai pukul 6.00—8.00 rumah baca membuka lapak ngampar buku di alun-alun Panjalu. Di rumah baca, pengunjung hanya dipersilakan menulis nama di buku kehadiran. Kemudian, menuliskan buku pinjaman di buku peminjaman. Buku boleh dibawa ke rumah dengan batas waktu seminggu tanpa dipungut biaya sepeser pun. Peminjam yang tidak mengembalikan pinjamannya pun tidak pernah dikenakan sanksi atau dimarahi, hanya dibujuk untuk mencari dan dapat mengembalikannya. Semua sepenuhnya bermodalkan kepercayaan, keikhlasan, juga tentunya kesabaran. Meskipun diakui sebagai kelemahan, tapi perasaan ikhlas dan sabar menjadi modal keyakinan Umi Rossy bahwa Allah-lah yang akan mengganti semuanya.


Atas aktivitas rumah baca ini. Pengakuan dari aparatur desa mulai didapat pada tahun 2012. Tak lain, hal itu disebabkan oleh aktivitas yang mencolok yang terjadi di rumah baca. Aparat desa akhirnya memanggil Umi Rossy untuk membuatkan Surat Domisili, SK (Surat Keputusan), serta struktur organisasi Rumah Baca Cahaya Ilmu secara resmi oleh bagian Kesra. Hal ini berlanjut pula pada dukungan oleh Camat Panjalu. Mulailah keberadaan Taman Baca Cahaya Ilmu dikenal oleh publik yang lebih luas, yakni lingkup kecamatan. Sejak saat itu, tak kurang dari 200 anak per hari mengunjungi rumah baca. Sayang dukungan itu tidak diikuti dengan dukungan materil, misalnya sumbangan buku dan media penunjang lain. Dukungan hanya sebatas legalitas formal serta peran publikasi.

Sejak 2014 Umi Rossy mulai memperoleh donasi dari teman-teman seperjuangan. Selain itu, Umi Rossy menghidupi rumah baca dengan ikut aktif mengikuti lomba-lomba. Aktivitas mengikuti lomba ini cukup membantu, tentu saja kalau menjadi juara. Hadiah lomba selalu dibelikan buku. Di antara penghargaan yang diperoleh antara lain, Duta Baca Kab. Ciamis 2014; Juara Ke-1 Lomba Keteladanan Tingkat Provinsi Jawa Barat 2015 (mendapatkan bantuan buku, rak, dan meja dari Dinas Perpustakaan Daerah Kab. Ciamis); Anugerah Literasi 2016; Juara Lomba Mendongeng 2017.

Rumah Baca Cahaya Ilmu pun mulai banyak diliput, di antaranya oleh CNN (Indonesia Heroes), Metro TV (Ramadan Kita), Radar (Hari Kartini), dan TransTV (Wanita Hebat Indonesia). Setelah beberapa liputan tersebut Rumah Baca Cahaya Ilmu mulai mendapat pengakuan dari luar. Perpustakaan Daerah Kab. Ciamis pun mulai memberikan bantuan. Salah satu bantuan tersebut berupa program peminjaman 50 buku setiap sebulan sekali (Program Silang Layan). Selain itu, setiap sebulan sekali, ada kunjungan rutin mobil perpustakaan keliling ke rumah baca atau ke Alun-Alun Panjalu.

Selain prestasi secara individu Umi Rossy dan rumah baca, aktivitas Rumah Baca Cahaya Ilmu pun mulai menelurkan prestasi kepada anak-anak didiknya. Rumah Baca Cahaya Ilmu melahirkan penulis muda berbakat Bayu Permana. Bayu Permana merupakan salah satu anak didik Umi Rossy yang kini telah berhasil menerbitkan sekitar 10 buku novel (Chicklit) populer yang diterbitkan secara nasional. Bayu Permana menjadi salah satu remaja yang sudah berhasil menikmati uang royalti hasil karyanya. Keberhasilan itu tak lain merupakan buah dari proses penanaman virus literasi Umi Rossy. Umi Rossy sudah menempa anak didiknya dengan membiasakan diri menuliskan apa yang diperoleh anak-anak dari aktivitas literasi di rumah baca. Penerapan metode meringkas bahan bacaan, menuliskan kembali cerita, menuliskan aktivitas keseharian, mengkritik melalui tulisan, dan lain-lain cukup berhasil dalam menggali dan mengembangkan potensi anak-anak dalam menulis.

Dengan segala prestasi yang sudah mulai dipetik, tidak lantas membuat segalanya menjadi mudah. Bagi Umi Rossy, hingga kini pengelolaan Rumah Baca Cahaya Ilmu tetap saja terasa sulit. Khususnya, dalam upaya pengadaan buku serta fasilitas penunjang yang dibutuhkan. Umi Rossy sangat berharap Rumah Baca Cahaya Ilmu memiliki koleksi media permainan-permainan edukatif, misalnya puzzle. Media pemacu kreativitas anak sangat digemari dan dibutuhkan. Selain itu, hingga kini Rumah Baca Cahaya Ilmu tidak memiliki komputer.

Ketika ditanya harapannya ke depan, keinginan Umi Rossy tidak muluk-muluk. Ia hanya berharap ia selalu diberi kesehatan, sembuh total dari perjuangannya selama 10 tahun melawan kanker. Ia juga berharap memiliki tempat permanen (tanah milik) untuk rumah baca. Rumah yang ditempati oleh rumah baca saat ini adalah rumah milik orangtua Umi Rossy. Hingga saat ini pula, belum ada instansi manapun yang membantu pembiayaan rumah baca. Belum ada pihak yang mau menjadi donatur tetap. Semua pembiayaan operasional rumah baca masih dikeluarkan dari kocek pribadi Umi Rossy yang hanya bekerja sebagai penjaga warung saudaranya. ***NRP