Afiks –kan: Masalah Sepele yang Mengganggu

Yusup Irawan*

Di Facebook, seorang kawan pernah meminta bantuan,” Manakah penulisan yang benar, pertunjukan atau pertunjukkan? Ditulis dengan satu k atau dua k?” Dalam bahasa, tampaknya masalah penggunaan afiks atau imbuhan –kan merupakan masalah sepele. Akan tetapi, –kan seringkali menjadi gangguan ketika seseorang sedang menulis. Mungkin banyak orang perlu berpikir sejenak untuk menentukan satu pilihan yang benar dari dua pilihan yang tersedia ketika ia berhadapan dengan kata dengan huruf akhir [k] seperti pada kata tunjuk yang berkomposisi dengan afiks -kan. Malahan, kawan saya itu sampai kebingungan sehingga perlu bertanya pada orang lain.

Ada dua pendekatan yang dapat kita gunakan untuk menjawab persoalan kawan saya tadi. Pertama, gunakan teori. Kedua, gunakan analogi. Mana pendekatan yang lebih mudah? Ya, bergantung orangnya. Pendekatan teori tampaknya lebih cepat, tetapi tampaknya orang lebih cepat lupa konsep. Pendekatan analogi lebih mudah, tetapi perlu waktu lebih lama. Oleh sebab itu, kita perlu kedua pendekatan itu.

Jawaban untuk kasus kawan saya itu adalah kata pertunjukan merupakan bentuk dengan penulisan yang benar. Bentuk dasar kata kerja (verba) tunjuk menurunkan bentuk kata benda (nomina) pertunjukan (bentuk dengan satu k). Kata pertunjukan merupakan komposisi antara bentuk dasar tunjuk dan per-an (per-tunjuk-an). Bentuk dasar tunjuk tidak menurunkan bentuk pertunjukkan (bentuk dengan dua k). Sekarang pertanyaannya mengapa kata tunjuk tidak menurunkan bentuk pertunjukkan, melainkan bentuk pertunjukan? Bukankah dalam bahasa Indonesia ada afiks per-kan seperti pada kata per-main-kan, per-ingat-kan, per-satu-kan, dan perhitungkan?

Memang betul dalam bahasa Indonesia terdapat imbuhan per-kan. Akan tetapi, imbuhan itu bukan sebagai pembentuk kata benda, melainkan sebagai pembentuk kata kerja seperti pada kata per-ingat-kan dan per-hitung-kan seperti dalam kalimat,”Peringatkan ia sekali lagi” dan “Perhitungkan segala sesuatunya.” Sejauh ini ternyata bentuk pertunjukkan dengan kelas kata verba dalam pertuturan tidak muncul walaupun secara teoretis bisa saja kita munculkan. Bentuk yang muncul adalah tunjukkan seperti pada kalimat ”Tunjukkan kemampuanmu” atau yang muncul hanya salah tulis saja.

Pada kasus lain penulisan atau penggunaan pasangan kata berikut sering kali tertukar: gerakan-gerakkan, pelukan-pelukkan, tembakan-tembakkan, dan tarikan-tarikkan. Pasangan-pasangan itu sudah sesuai dengan kaidah baku morfologi bahasa Indonesia. Yang perlu kita perhatikan adalah penggunaannya. Kata sebelah kiri pada setiap pasangan itu adalah kata benda yang dibentuk dari komposisi kata dasar + -an , sedangkan kata sebelah kanannya adalah kata kerja yang dibentuk dari komposisi kata dasar + -kan.

Pada konteks kalimat-kalimat berikut kita menggunakan komposisi kata dasar + -an: “Lakukan beberapa gerakan”, “Pelukannya terasa erat”, “Polisi melepaskan satu tembakan”, “Tarikan arus sungai ini sangat kencang.” Pada konteks kalimat berikut kita menggunakan komposisi kata dasar+ -kan: “Gerakkan tangan kirimu”, Tembakkan senapanmu tepat pada sasaran”, “Tolong tarikkan tali ini.”
Pada kasus lainnya lagi orang-orang dibingungkan dengan penulisan dengan afiks me-kan dan memper-kan yang berkomposisi dengan kata dasar yang diakhiri huruf k, misalnya pada kata masuk. Manakah penulisan yang tepat, memasukan atau memasukkan? Jawaban yang tepat adalah memasukkan bukan memasukan.

Kita dapat menggunakan patokan bahwa afiks –kan yang berkomposisi dengan bentuk dasar mana pun atau berkomposisi dengan afiks mana pun seperti me-kan atau memper-kan tidak akan mengalami proses morfofonemik, yaitu proses perubahan bunyi sebuah afiks karena berhadapan dengan bunyi-bunyi tertentu pada kata yang akan dilekatinya seperti pada kasus me- yang menjadi meng- ketika berhadapan dengan kata hadap (menghadap). Pada kasus kata dasar masuk atau kata apa saja yang berkomposisi dengan afiks me-kan, kita dapat melihat bahwa afiks –kan tidak mengalami proses morfofonemik. Jadi penulisan kata-kata berikut sudah benar adanya: memasukkan, menusukkan, memasakkan, dan mempertunjukkan.

Kadang-kadang kita lupa dengan konsep teori yang sudah kita baca sebelumnya. Pendekatan kedua yang dapat kita gunakan adalah pendekatan analogi, yaitu kita sandingkan dan bandingkan sejumlah kata sebagai pembanding dengan kata yang menjadi sasaran masalah yang kita anggap memiliki kaidah yang sama. Misalnya, kita sandingkan kata-kata dengan afiks –kan di antaranya merasakan, melibatkan, dan menyatukan dengan bentuk memasukan-memasukkan dan menggerakan-menggerakkan yang mungkin menjadi sasaran masalah. Kita dapat melihat bahwa kata-kata pembanding itu dapat diurai komposisinya menjadi me-rasa-kan, me-libat-kan, dan me(ny)-satu-kan (me- + kata dasar + -kan) sehingga kita dapat pula menguraikan kata sasaran yang menjadi masalah, yaitu me-masuk-kan dan meng-gerak-kan, bukan me-masuk-an atau meng-gerak-an.

Sekarang, bagaimanakah pelafalan bentuk-bentuk kata dengan dua huruf k yang berurut? Apakah pelafalannya dibedakan dengan bentuk-bentuk kata dengan huruf satu k? Dalam masalah ini tampaknya kita belum bersepakat. Apakah pasangan kata-kata seperti gerakan-gerakkan dan balikan-balikkan dilafalkan secara berbeda atau sama saja? Secara teoretis, kita sudah membahas bahwa afiks –kan yang berkomposisi dengan bentuk dasar tidak mengalami proses morfofonemik sehingga menurut hemat saya semestinya pasangan kata gerakan-gerakkan dilafalkan secara berbeda. Akan tetapi, prinsip keekonomian pelafalan dalam bahasa tidak mendukung konsep itu sehingga orang-orang cenderung melafalkan pasangan kata gerakan-gerakkan secara sama. Toh, konteks kalimat akan membantu orang-orang untuk memahami maksud si Penutur.

Yusup Irawan adalah pegawai di Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat