Gerakan Literasi Nasional 2018 di Kabupaten Pangandaran

Para peserta tingkat SD, SMP, dan Guru dalam kegiatan Gerakan Literasi Nasional di Kabupaten Pangandaran, 17 November 2018.

Ada fakta yang membuktikan bahwa minat baca di Indonesia sangat rendah dan memprihatinkan. Pada Maret 2016 Central Connecticut State University melakukan penelitian yang di namakan “Most Littered Nation In the World”. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, Indonesia ternyata menduduki peringkat 60 dari 61 negara yang di survei tentang minat baca. Indonesia hanya berada di atas Bostwana dan satu tingkat di bawah negara ASEAN, yakni Thailand yang berada di peringkat 59.

Ketika membuka acara Pemilihan Duta Bahasa Pelajar Jawa Barat 2017, Mendikbud RI, Muhadjir Effendy, juga sempat mengatakan bahwa tingkat kemampuan membaca siswa Indonesia sudah tertinggal 4 tahun dari yang seharusnya. Artinya, tingkat kemampuan membaca siswa SMA kelas 3 (Kelas 12) saat ini seharusnya sudah dikuasai sejak SMP kelas 2 (kelas 8).

Kebiasaan membaca memang kurang populer di kalangan remaja saat ini. Mereka lebih senang berhadapan dengan sesuatu yang berupa audio-visual sehingga tidak terbiasa membaca cepat. Kentalnya budaya tutur dalam masyarakat merupakan salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya minat baca. Imbasnya, siswa di Indonesia belum terbiasa membaca dan memahami teks sehingga ketika dihadapkan dengan soal yang membutuhkan kemampuan membaca tinggi, siswa mengalami kesulitan. Padahal, di negara lain siswa sudah dibiasakan untuk membaca cepat sekaligus memahami teks.

Pada tahun 2015, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sudah mencanangkan sebuah gerakan besar, yaitu Gerakan Literasi Sekolah. Literasi sekolah bertujuan menciptakan ekosistem sekolah yang berbudaya baca—tulis. Gerakan ini merupakan implementasi dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.

Dalam rangka menindaklanjuti Gerakan Literasi Sekolah sebagai upaya untuk menumbuhkan minat membaca dan menulis  di kalangan siswa dan guru, Balai Bahasa Jawa Barat menyelenggarakan Gerakan Literasi Nasional (GLN) di Kabupaten Pangandaran pada 17 November 2018. Kabupaten Pangandaran dijadikan sebagai lokasi kegiatan didasarkan pada hasil Ujian Nasional (UN) tahun 2017. Pada tahun 2017, rata-rata UN SMP Kabupaten Pangandaran (57,48) berada sedikit di bawah rata-rata nilai UN SMP Jawa Barat (58,86).

Salah satu persoalan utama rendahnya nilai UN siswa adalah karena kurangnya kebiasaan membaca dari siswa. Soal-soal UN Bahasa Indonesia, khususnya, banyak dibuat dalam bentuk bacaan dan soal cerita sehingga pertanyaan yang muncul tentu terkait dengan bacaan. Dengan jenis soal seperti itu, tentu saja sangat dibutuhkan keterampilan dalam hal membaca. Akibatnya, siswa kesulitan memahami isi bacaan yang berujung pada kesulitan menjawab pertanyaan soal UN.

GLN 2018 yang berlangsung di Hotel Pantai Indah Resort Pangandaran tersebut diikuti oleh 200 siswa SD, 200 siswa SMP, dan 100 guru pendamping. Ardianto Bahtiar, Ketua Panitia Kegiatan, mengatakan bahwa untuk menumbuhkan minat literasi baca tulis para peserta, Balai Bahasa Jabar menyiapkan skema GLN yang menggembirakan. Peserta dikondisikan untuk menjadi penyimak yang baik melalui pembacaan cerita rakyat. Pembacaan cerita rakyat dikemas sedemikian rupa dengan diiringi multimedia yang mendukung isi cerita rakyat tersebut.

Kemudian, peserta dikelompokkan menjadi beberapa kelompok untuk dilatih membaca sebuah naskah drama. Setelah itu, setiap kelompok menampilkan naskah drama tersebut dalam pentas drama. Tahap terakhir, peserta dilatih untuk menuangkan sebuah ide ke dalam tulisan sesuai tema yang ditentukan. “Dalam kegiatan ini, tulisan yang dituangkan oleh peserta bertema cita-cita,” kata Ardi.

Kepala Balai Bahasa Jawa Barat, Drs. Sutejo memberikan sambutan dalam pembukaan kegiatan Gerakan Literasi Nasional 2018 di Hotel Pantai Indah Resort, Pangandaran, 17 November 2018.

Menurut Ardi, skema GLN yang menggembirakan tersebut sangat diminati peserta. Hal itu terlihat dari antusiasnya peserta didik hingga berakhirnya acara. “Kunci keberhasilan pelaksanaan GLN 2018 dengan skema tersebut terletak pada penanganan peserta melalui pemilahan peserta berdasarkan jenjang pendidikannya. Panitia menyiapkan lokasi yang terpisah bagi peserta SD dan SMP serta guru pendamping. Fasilitas gedung yang tersedia juga sangat memadai,” tambah Ardi.

Dalam GLN 2018 yang dibuka secara langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pangandaran, Drs. H. Surman, M.Pd. ini, Balai Bahasa Jabar juga memberikan stimulus kepada seluruh peserta berupa buku bacaan. Dua hingga tiga judul buku bacaan dibagikan sebagai stimulus kepada siswa agar gemar membaca. Lebih dari 1200 judul buku diterima oleh para siswa Kabupaten Pangandaran. Balai Bahasa Jabar berharap kepada para guru dan peserta didik yang hadir untuk menjadikan buku-buku yang dibagikan tersebut sebagai modal bagi terbentuknya perpustakaan kelas. Dengan adanya perpustakaan kelas, siswa yang tidak sempat mengikuti kegiatan di hari itu tetap dapat merasakan stimulasi kegemaran membaca dan mengapresiasi bahan bacaan.

Dalam GLN 2018 di Pangandaran, para guru juga diberikan edukasi mengenai langkah untuk mendorong anak-anak giat membaca. Hal ini perlu dilakukan karena peran serta guru sangat diperlukan untuk mengondisikan siswa nyaman dan senang membaca cerita bermuatan budi pekerti sebelum kelas dimulai. Guru yang bertindak sebagai pendamping dan pengarah siswa dalam literasi sekolah perlu diberikan pengetahuan dan konsep literasi sekolah.

Drs. H. Surman, M.Pd., Kadisdik Kab. Pangandaran sangat mengapresiasi kegiatan GLN 2018 Balai Bahasa Jabar di Kabupaten Pangandaran karena di Pangandaran sangat butuh literasi. Menurut Kadisdik, untuk meningkatkan minat baca dan menulis di Kabupaten Pangandaran, Pemkab sudah membangun 1000 taman baca dan mendistribusikan 600 ribu buku digital pada tahun 2017. “Pemkab juga mendirikan taman bacaan sekolah, taman bacaan masyarakat, perpustakaan keliling, dan perpustakaan digital,” tambah Surman.

Kepala Balai Bahasa Jabar, Drs. Sutejo, mengatakan bahwa tingkat kemampuan membaca dan menulis kita dibandingkan dengan negara-negara lain masih sangat rendah. Oleh karena itu, Balai Bahasa Jabar dalam GLN 2018 di Pangandaran ini memprioritaskan pada hal membaca dan menulis. Sementara itu, Nilam Suri, Kabag Kerja Sama dan Humas Badan Bahasa, Kemdikbud yang juga sebagai pemateri dalam GLN 2018 di Pangandaran mengatakan bahwa Kemdikbud ingin menggugah semangat para orang tua untuk menumbuhkan dan meningkatkan semangat membaca kepada anak-anak di lingkungan keluarganya.

Aktivitas siswa SMP dalam kegiatan GLN 2018 di Pangandaran.

GLN yang dilakukan dalam waktu satu hari tentu saja hanya cukup untuk menumbuhkan semangat gemar membaca, terutama di kalangan peserta didik. Dengan demikian, kegiatan serupa perlu dilakukan secara berkesinambungan agar tingkat kemampuan membaca dan menulis bangsa kita terus meningkat. Walaupun demikian, penumbuhan semangat membaca para siswa di Kabupaten Pangandaran sangat bermanfaat bagi kreativitas dan masa depan siswa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Manfred Gogol, seorang fisioterapi dari Germany’s Society for Gerontology and Geriatrics, membaca sangat baik untuk kesehatan karena dapat merangsang pertumbuhan sinaps penghubung antarsaraf. Selain itu, membaca juga membuat daya imajinasi dan kreativitas seseorang terjaga. Gogol menyarankan agar seseorang dapat membaca setiap hari. Jika sebuah novel dirasa terlalu berat, pilih saja bacaan ringan seperti cerita dongeng, kumpulan cerpen, atau bahkan sebuah koran. Oleh karena itu, biasakanlah membaca setiap hari. (DS)