SI BELANG, IKAN CUPANG YANG MALANG

Adhyatnika Geusan Ulun

“Ayo! Serang, serang!” seru anak-anak bersahutan.
“Belang! Jangan nyerah!” teriak Amin menyemangati “jagoan”nya.

Siang itu anak-anak kelas 5 SDN Mandiri sedang berkerumun menonton adu ikan cupang di belakang bangunan gudang sekolah mereka. Pertandingan yang diadakan selepas bel pulang sekolah itu hampir setiap hari dilaksanakan. Ikan cupang yang mereka beli di depan gerbang sekolah itu sangat beraneka ragam bentuk dan warnanya. Merah, hitam, belang, langsing, gemuk, serta banyak lagi warna dan bentuknya. Tetapi, Amin dan temannya lebih tertarik untuk memilih ikan cupang yang kuat ketika diadu.

“Kumbang! Terkam musuhmu!” Sahut Iman tidak kalah semangat sambil matanya tidak lepas pada ikan cupang hitam yang dipanggilnya si Kumbang. Sesekali tangannya mengepal, diacungkan ke atas sambil berteriak girang ketika si Kumbang menyerang si Belang. Tetapi terkadang keningnya mengkerut saat si Kumbang diserang lawannya. Kumbang akhirnya lari dikejar si Belang. Kumbang kalah telak.

***

Sore itu Amin sedang berada di halaman belakang rumahnya. Tampaknya dia sibuk mengganti air dalam botol yang didiami ikan kesayangannya. Hari itu si Belang menang telak atas lawannya. Setelah mengganti air dalam botol “rumah” si Belang, Amin kemudian memberikan pula makanan khusus ikan cupang untuk ikan kecil itu. Semangat sekali Amin melakukannya. Pujian dari banyak temannya membuat Amin tambah semangat merawat si Belang.

“Amiin! Amiin! Di mana kamu?” seru ibunya dari dalam rumah.
“Iyaa! Aku di belakang Bu!” sahut Amin.
“Sedang apa kamu di belakang? Pasti main ikan cupang lagi ya?” tanya Ibu dengan nada kurang suka. Selama ini memang Ibu tidak begitu merestui hobi Amin untuk memelihara ikan cupang karena membuat Amin jadi suka lupa waktu untuk belajar.
“Cepat! Mandi dan ngaji! Sebentar lagi ayah pulang!”sambung Ibu.
“Tidak, Bu! Aku cuma ganti air botol cupang saja!” jawab Amin sambil bergegas merapikan tempat ikan cupangnya. Amin sangat tahu ibunya tidak suka halaman rumah yang tidak rapi, apalagi oleh hobinya itu.

***

Malam menjelang tidur, mata Amin tak henti-hentinya menatap si Belang kesayangannya. Besok adalah saatnya membuktikan kehebatan si Belang lagi. Abdul, teman sekelasnya, mengajaknya “bertarung”. Dia baru saja dibelikan pamannya ikan cupang dari Cirebon. Waktu mengaji sore tadi di madrasah, Abdul berbisik agar bertarung dengan si Belang. Amin menyanggupinya. Dia berharap besok akan menjadi kemenangan si Belang ke tujuh kalinya secara berturut-turut. Terbayang pujian pasti terus mengalir kepada dirinya. Amin pun tidur dengan sunggingan senyuman di bibirnya. Di tengah buaian mimpinya, Amin terlelap tidur di hadapan “rumah” ikan cupangnya. Terlihat dalam tempat itu si Belang sedang mengembangkan sirip kebesarannya.

***

Pagi benar Amin bangun. Tak biasanya dia berlaku seperti hari itu. Di benaknya terus terngiang tantangan Abdul tadi malam. Dengan mengendap-ngendap, Amin keluar kamar sambil memasukkan botol kecil berisi si Belang kebanggaannya. Ibu masih di dapur menyiapkan sarapan. Ayah sedang duduk di meja makan sambil menonton TV. Sementara Fitri masih di kamar mandi. Perlahan, Amin membuka pintu rumah seakan takut terdengar seisi rumah. Aku harus buktikan bahwa si Belang tak mungkin kalah, dan dia harus mencetak kemenangan 7 kali berturut-turut. Aku akan bungkam mulut besar si Abdul yang berani-beraninya menantang si Belang, gumam Amin.

Sekolah masih sepi. Amin duduk di bangku halaman sekolah. Dengan hati-hati Amin membuka tasnya. Dikeluarkannya botol rumah si Belang. Digenggamnya botol tersebut dengan erat seakan tidak ingin lepas dari tangannya. Ditatapnya ikan cupang kesayangannya itu. Betapa terkejut Amin begitu melihat botol rumah si Belang. Ya Tuhan, kenapa dengan si Belang!, teriak Amin dalam hati. Terlihat si Belang mengambang di atas air. Si Belang mati! Gusar benar Amin saat itu. Seakan tidak percaya, dia guncang-guncang botol rumah si Belang, berharap si Belang hanya tidur. Tidur?! Ah mana mungkin ikan tidur! Bagaimana ini bisa terjadi? Malam tadi kan si Belang masih menari-nari di rumahnya. Tak henti-hentinya Amin berguman. Terbayang bagaimana batalnya pertandingan seru si Belang dengan ikan cupangnya Abdul.

Di tengah kegelisahan Amin yang teramat sangat, satu-persatu teman-teman sekolahnya berdatangan. Aktivitas sekolah pun mulai tampak. Ada yang sedang membersihkan kelas, ada pula yang hanya sekadar ngobrol dengan sesama teman. Bapak dan Ibu guru pun sudah mulai berdatangan. Lonceng sekolah sebentar lagi berbunyi tapi Amin belum melihat Abdul. Ke mana si Abdul ya?Apa dia sudah masuk kelas, atau sengaja ingin membuat kejutan dengan ikan cupangnya nanti? Tak henti-hentinya Amin berbicara dalam hati. Aku harus bicara apa nanti, dan apa reaksi teman-teman kalau mereka tahu si Belang mati? Apa tidak sebaiknya aku bolos saja hari ini? Ah tapi apa kata Ibu nanti? Duuhh, berpikirlah Amin, berpikirlah!

Bunyi bel tanda masuk kelas pun berbunyi. Dengan tertib siswa-siswi SDN Mandiri masuk ke kelas masing-masing. Dengan gontai Amin masuk ke kelas. Duduk Amin di bangkunya, sendiri. Teman sebangkunya tidak masuk karena sakit sejak kemarin. Pak rahmat, guru PAI, masuk ruang kelas. Tema yang diangkat Pak Rahmat dalam pelajaran PAI kali ini adalah tentang bagaimana menyayangi sesama makhluk Tuhan. Dipaparkannya tentang kewajiban manusia sebagai makhluk Tuhan dengan anugrah akal dan pikiran, selain saling menghormati dan menyayangi sesama manusia, juga harus melindungi dan memelihara hubungan yang baik dengan sesama makhluk Tuhan lainnya.

“Kita harus tahu bahwa makhluk Tuhan bukan hanya manusia, tetapi masih banyak makhluk lain yang harus kalian ketahui. Coba siapa yang bisa menyebutkan salah satu makhluk Tuhan lainnya?” kata Pak Rahmat mengawali pelajarannya.

“Ikan cupang, Pak!” teriak Amin spontan. Entah kenapa mulutnya meluncur begitu saja mengeluarkan kata itu. Teman-teman sekelas Amin memandangnya. Tidak sedikit yang mengejeknya karena mereka tahu Amin tukang ngadu ikan cupang.

“Huuuuu, dasar tukanng ngadu cupang!” seru teman-teman Amin kompak.
“Sudah-sudah! Benar Amin, cupang adalah jenis ikan yang juga harus disayangi,”sambut Pak Rahmat. “Tentu masih banyak lagi yang harus kalian ketahui selain ikan. Makhluk Tuhan lainnya seperti tumbuhan, gunung, sungai, laut, udara, haruslah kita pelihara, kita jaga, dan kita perlakukan dengan baik,”sambung Pak Rahmat. “Sebagai manusia kita harus menyayangi makhluk Tuhan tersebut dengan penuh kasih. Ketika kita menyayangi sesama ciptaan Tuhan, maka mereka pun akan menyayangi, dan menjaga kita dengan baik. Sebaliknya, ketika merusak, menzalimi, apalagi membunuh sesama makhluk, maka Tuhan akan murka. Boleh jadi dengan menurunkan bencana alam, atau hal-hal lain yang sifatnya merusak,” tegas Pak Rahmat.

“Nah, Amin. Bagaimana cara kita memelihara hubungan baik dengan sesama makhluk Tuhan itu. Ikan cupang misalnya yang tadi kamu sebutkan?” tanya Pak Rahmat.
“Hmmm, anu pak. Maaf saya tidak bisa mengatakannya,’ jawab Amin parau.
“Memang kenapa, Amin?” tanya Pak Rahmat heran. Teman-teman sekelas pun saling berpandangan, bingung.
“Si Belang, mati pak,” sambung Amin.
“Si Belang? Apa maksudmu? Bapak sama sekali tidak mengerti,” heran Pak Rahmat bertambah. Teman-teman Amin malah terperanjat. “Apaaaaa, mati?!” potong mereka bersamaan. Amin terdiam. Raut mukanya melayu. Matanya memerah menahan tangis.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Coba tolong jelaskan! Atau, siapa yang bisa jelaskan semua ini?” tanya Pak Rahmat sambil memandang seluruh isi kelas. Semua terdiam. Tak satu pun dari mereka yang berani bicara.

Amin mengeluarkan botol berisi air dengan si Belang yang sudah mati di dalamnya. Pak Rahmat memandang dengan antusias ke arah benda yang dikeluarkan Amin. Begitupun dengan teman-teman Amin lainnya.

“Maafkan saya, Pak. Saya sudah menyebabkan ikan cupang ini mati,” kata Amin dengan sendu.
“Memangnya kamu apakan ikan ini, Amin?” tanya Pak Rahmat. Amin tidak menjawab.
“Hmm, nampaknya ikan cupang ini tidak memperoleh oksigen. Tutup botol air ini terlalu rapat,” kata Pak Rahmat sambil matanya terus memperhatikan botol rumah si Belang.
“Tapi malam tadi masih bergerak, Pak,” kata Amin membela diri.
“Kapan kamu membeli ikan cupang ini, Amin?” tanya Pak Rahmat.
“Seminggu yang lalu, Pak,” jawab Amin perlahan. Perasaan bersalah terus menyelimuti dirinya.

“Anak-anak. Sepengetahuan bapak, ikan cupang adalah salah satu jenis ikan yang bersifat teritori. Artinya ikan jenis ini senang menguasai daerah kekuasaannya sendiri. Oleh karena itu, tidaklah heran kalau ikan cupang, oleh para kolektornya, selalu ditempatkan sendiri di tempat khusus. Sifatnya yang ingin menguasai daerah tertentu, menyebabkan dia sering menyerang ikan lainnya. Itulah yang sering dimanfaatkan oleh para penggemar cupang untuk saling mengadu kekuatan ikan mereka,” jelas Pak Rahmat. “Kalau melihat dari kondisi si Belang, besar kemungkinan sudah diadu ya?” tanya Pak Rahmat sambil memandang Amin.

“Walaupun demikian, kita harus memeilihara ikan cupang tersebut dengan baik. Men”duel”kan sesama ikan ini sangatlah tidak baik. Bagimanapun mereka adalah makhluk Tuhan yang pastinya memiliki rasa sakit ketika luka. Sama halnya seperti manusia yang ingin makan ketika lapar. Begitupun dengan asupan oksigen yang merupakan kebutuhan utama makhluk hidup, haruslah diperhatikan. Kalau melihat tempat ikan cupang Amin, kematian si Belang diperkirakan karena kehilangan asupan oksigen,” lanjut Pak Rahmat tanpa menunggu jawaban Amin.

“Nah, Amin. Kejadian ini haruslah menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Ketika ingin memelihara ikan, atau binatang, atau tumbuhan, atau apapun namanya, haruslah kita memiliki pengetahuan untuk memeliharanya, agar tidak membuat makhluk hidup yang akan kita pelihara itu menderita, bahkan membuatnya mati. Pelajaran berharga lainnya adalah betapa pentingnya kita harus saling menyayangi sesama makhluk Tuhan,” jelas Pak Rahmat.

“Sebenarnya apa yang dialami Amin sama persis dengan kejadian yang menimpa Abdul, teman kalian dari kelas lain. Bapak mendapat kabar dari orang tuanya yang meminta izin untuk tidak masuk sekolah. Ketika ditanya sebab tidak masuk sekolah, ternyata ikan cupangnya tadi pagi mati. Sedih benar si Abdul itu sehingga tidak ada semangat untuk pergi sekolah. Entah kenapa. Tapi sebab kematian ikan cupangnya sama persis dengan yang dialami si Belang. Terlalu rapatnya penutup botol menjadi sebab utama kematian ikan cupang Abdul,” pungkas Pak Rahmat.

Terperanjat Amin mendengar kabar itu. Rupanya Abdul pun mengalami nasib yang sama. Pantas dia tidak kelihatan masuk sekolah hari ini. Guman Amin.

***

“Amin, Amin! Di mana kamu?!” teriak Ibu.
“Aku di sini Bu!” jawab Amin, sambil meletakkan botol bekas rumah si Belang di halaman belakang rumah.
“Main ikan cupang lagi kah kau, Amin?!” tanya ibu dari dalam rumah.
“Nggak Bu! Aku siap-siap mau mandi dan mengaji Bu,” jawab Amin. Ditatapnya botol rumah si Belang. Masih terbayang kipasan gagah ekor si Belang. Serangan ganas ketika menyerang lawannya. Tetapi penjelasan Pak Rahmat begitu menyentuh hatinya. Amin merasa ketidaktahuan cara memelihara ikan cupanglah yang menjadi penyebab kematian si Belang. Berharap si Belang memaafkan ketidaktahuan dirinya.

***

Biodata Penulis:

Adhyatnika Geusan Ulun, dilahirkan pada tanggal 6 Agustus 1971 di Bandung. Tinggal di Kota Cimahi. Pekerjaan: Guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Cipongkor Bandung Barat sejak tahun 1999. Pengurus MGMP B. Inggris Kab. Bandung Barat, anggota NEWSROOM -Tim peliput berita Dinas Pendidikan Bandung Barat. Jurnalis GUNEMAN Majalah Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Pengisi acara KULTUM Studio East 88.2 FM Bandung. Redaktur Buletin Dakwah Qolbun Salim Cimahi. Sering menjadi juri di lomba-lomba keagamaan. Pos-el: Adhyatnika.gu@gmail.com . Instagram: @adhyatnika geusan ulun