web analytics

Berlebaran dengan Batu Akik

Berlebaran dengan Batu Akik

batu akikRitual mudik tahun ini agak sedikit berbeda. Banyak pemudik yang memakai batu akik di jari-jemarinya. Barangkali mereka ingin sedikit pamer batu akik di kampung halaman atau mereka ingin menikmati sensasi lain ketika bersalaman dengan sanak saudara dan tetangga di saat jarinya memakai cincin bermahkota batu akik kesayangan. Tampaknya pada saat-saat lebaran tahun ini penjualan batu akik lebih marema karena banyak pemudik yang membeli batu akik sebelum pulang kampung.

 

Kita tahu setahun belakangan ini pamor batu akik sedang naik daun sehingga banyak orang mencoba peruntungan dari usaha batu akik. Tidak hanya sebagai penjual, banyak juga orang yang ambil bagian sebagai pemulung, pengepul, dan penggosok batu akik. Pencinta batu akik pun semakin bertambah banyak. Tidak hanya lelaki dewasa saja yang menggemari batu akik, anak-anak, remaja, ibu-ibu, selebritas, PNS, pejabat, hingga kalangan eksekutif adalah kelompok sosial penggemar anyar batu akik.

Sebenarnya, batu akik adalah benda yang sudah lama kita kenal, tetapi entah mengapa baru akhir-akhir ini kita sadar betapa indahnya batu akik dan betapa banyaknya rezeki yang dapat kita keruk dari usaha batu akik. Konon, jika dibuka sebuah pameran dagang batu akik kelas lokal saja, omzet penjualannya dapat mencapai satu milyar per hari. Begitu banyaknya orang yang menggandrungi batu akik sehingga orang-orang berseloroh,”Kita telah kembali ke zaman batu!”

Akik, disangka batu! Itulah barangkali ucapan emosional para pedagang batu akik ketika barang dagangannya dianggap batu biasa oleh calon pembelinya. Ungkapan Akik disangka batu ternyata sebuah peribahasa. Peribahasa ini saya temukan secara tak sengaja ketika iseng mencari lema akik atau batu akik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ke-4. Saya ingin mengetahui,”Apakah kata akik sudah tercantum dalam kamus kita ini?” Syukurlah, kata itu sudah tercantum. Jika tidak, seperti biasa para kritikus bahasa akan mengkritik Badan Bahasa sebagai penyusun KBBI.

Peribahasa akik disangka batu dalam KBBI dapat kita temukan dalam lema akik. Maknanya adalah ‘merasa terhina karena salah sangka’. Penjelasan KBBI mengenai makna peribahasa itu tampaknya kurang terang karena penjelasannya sangat singkat. Namun, saya dapat memberi contoh agar makna peribahasa tersebut dapat digambarkan secara lebih jelas.

Misalnya, kawan Anda kehilangan sebungkus rokok yang ia simpan di meja kerjanya dan kebetulan Anda adalah seorang perokok. Karena tahu Anda perokok, ia menuduh Anda telah mengambil rokoknya padahal Anda bukanlah pencuri rokok itu. Oleh sebab merasa tersinggung karena telah menjadi korban salah sangka kawan Anda itu, Anda dapat mengomelinya,”Akik, disangka batu!” Maksudnya, Anda ingin mengatakan,“Saya ini orang jujur, orang baik-baik. Bukan pencuri!”

Nah, di momen “bersejarah” batu akik ini, kita dapat memopulerkan peribahasa akik disangka batu yang sudah lama hilang dari ingatan penutur bahasa Indonesia. Dengan demikian, kita menghidupkan kembali salah satu peribahasa Indonesia yang tampaknya sudah punah dalam ingatan kita.

Hal lain yang ingin saya sampaikan adalah tampaknya penggunaan istilah batu akik di masyarakat begitu luas dan kabur. Kata akik tidak hanya dilekatkan pada batu yang telah menjadi permata pada perhiasan seperti cincin, tetapi juga dilekatkan pula pada batu mulia yang belum diproses menjadi permata.

Menurut saya, sebaiknya istilah batu akik kita lekatkan pada batu yang sudah diproses yang siap atau telah difungsikan sebagai permata perhiasan saja, sedangkan batu alam yang memiliki nilai berharga yang belum diproses menjadi akik kita istilahkan dengan batu mulia.

Hal terakhir yang ingin saya sampaikan adalah,”Selamat Hari Idulfitri. Mohon maaf lahir batin. Semoga lebaran tahun ini membawa berkah bagi kita semua. Khusus bagi Anda pemudik yang berlebaran dengan batu akik,” Jangan lupa membawa kembali cincin batu akik Anda atau Anda harus “berjuang” kembali ke kampung halaman hanya untuk membawa pulang batu akik kesayangan Anda.

Yusup Irawan

Staf Pembinaan di Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat

Related posts