Peningkatkan Kecakapan Literasi Generasi Muda Menuju Abad XXI

Peningkatkan Kecakapan Literasi Generasi Muda Menuju Abad XXI

Era perkembangan zaman menuju abad XXI yang bercirikan kemajuan teknologi komunikasi telah membawa dampak perubahan terhadap segala aktivitas kehidupan, termasuk dalam hal pembelajaran generasi muda. Hal tersebut dikatakan Kepala Balai Bahasa Jawa Barat, Drs. Umar Solikhan, M.Hum., dalam kegiatan Diseminasi Gerakan Literasi Nasional (GLN) 2019 pada Rabu, 2 Oktober 2019, di Hotel Apita, Cirebon. Kepala Balai Bahasa Jabar berharap, generasi muda nanti mempunyai kecakapan abad ke-21, yaitu antara lain memiliki literasi yang bagus, karakter yang kuat, dan kompetensi tinggi. “Dengan tiga kecakapan tersebut, diharapkan generasi muda kita nanti mampu mengisi Indonesia Emas tahun 2045”, kata Umar.

Kegiatan yang diselenggarakan Balai Bahasa Jabar ini merupakan upaya untuk menggiatkan GLN sebagai bagian dari implementasi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Dalam GLN di Kabupaten Cirebon yang mengangkat tema “Meningkatkan Literasi Baca Tulis Berbasis Kearifan Lokal Jawa Barat” tersebut, Balai Bahasa Jabar mengundang dua ratus peserta yang berasal dari guru SMP dan komunitas pegiat literasi di Cirebon.

Sementara itu, Umar Solikhan, Imam Emje (Fasilitator Literasi Jabar), dan Baequni (pegiat literasi dari Komunitas Seniman Santri) menjadi pembicara dalam kegiatan GLN yang dibuka secara resmi oleh Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon, Ir. H. Pahim. Kegiatan Diseminasi GLN di Kabupaten Cirebon dilaksanakan dengan pola 8 jam. Materi yang disampaikan kepada peserta, yaitu “Kebijakan Gerakan Literasi Nasional Balai Bahasa Jawa Barat”, “Gerakan Sastra Gerakan Literasi”, dan “Menulis Keseharian”.

Mohammad Rizqi, Panitia Kegiatan, mengatakan bahwa kegiatan Diseminasi Gerakan Literasi Nasional di Kabupaten Cirebon ini bertujuan untuk menumbuhkan budaya literasi masyarakat di Kabupaten Cirebon dengan mengangkat kearifan lokal Jawa Barat dalam rangka pemantapan karakter bangsa. Rizqi menambahkan bahwa layaknya suatu gerakan, pelaku GLN jangan hanya didominasi oleh jajaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tetapi harus digiatkan pula oleh para pemangku kepentingan, seperti pegiat literasi, akademisi, organisasi profesi, dunia usaha, dan kementerian atau lembaga lain.

Umar Solikhan menyampaikan Kebijakan Gerakan Literasi Nasional Balai Bahasa Jawa Barat kepada para peserta Diseminasi Gerakan Literasi Nasional di Kabupaten Cirebon.

Sementara itu, Imam Emje, pegiat literasi di Kabupaten Cirebon, mengatakan bahwa kegiatan GLN ini sangat membantu para pegiat literasi di Kabupaten Cirebon untuk menambah wawasan terkait literasi. “Para pegiat literasi di Kabupaten Cirebon selama ini hanya bermodalkan semangat dan bahan bacaan, tanpa tahu bagaimana sebenarnya cara meningkatkan minat baca masyarakat” kata Imam.

Para peserta memberikan respons positif terhadap diadakannya kegiatan Disemenasi GLN di Kabupaten Cirebon. Mereka berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut. Suharsono, salah seorang guru yang menjadi peserta kegiatan, berharap bahwa kegiatan Diseminasi GLN ke depan dapat melibatkan guru mata pelajaran lain selain Bahasa Indonesia. “Dalam pemahaman guru non-Bahasa Indonesia, pada umumnya mereka beranggapan bahwa kegiatan literasi hanya tanggung jawab guru mata pelajaran Bahasa Indonesia”, kata Suharsono.

Menurut World Economic Forum (2015), sebenarnya terdapat enam literasi dasar, yaitu literasi baca-tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, dan literasi budaya serta kewargaan. Literasi baca-tulis sebagai salah satu dari enam literasi dasar dapat disebut sebagai moyang segala jenis literasi karena memiliki sejarah amat panjang. Pada mulanya, literasi baca-tulis sering dipahami sebagai melek aksara, dalam arti tidak buta huruf. Kemudian, melek aksara dipahami sebagai pemahaman atas informasi yang tertuang dalam media tulis. Lebih lanjut, literasi baca-tulis dipahami sebagai kemampuan berkomunikasi sosial di dalam masyarakat. Di sinilah literasi baca-tulis sering dianggap sebagai kemahiran berwacana. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika pengertian literasi baca-tulis mengalami perkembangan dari waktu ke waktu.

 Selain di Kabupaten Cirebon, kegiatan Diseminasi GLN tahun 2019 juga dilaksanakan di Kota Cimahi, Kabupaten Garut, Kabupaten Subang, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Cianjur, dan Kabupaten Purwakarta. (DS).

About The Author

Related posts