Diseminasi Gerakan Literasi Nasional 2019 di Garut dan Tasikmalaya

Pelaksanaan Diseminasi Gerakan Literasi Nasional (GLN) 2019 yang dilaksanakan Balai Bahasa Jawa Barat di Kabupaten Garut terlihat berbeda dari biasanya. Jika peserta yang diundang dalam GLN sebelumnya berasal dari profesi guru atau pegiat literasi, para peserta Diseminasi GLN di Garut  adalah para santri yang setara dengan pelajar SMA atau SMK. Dalam kegiatan GLN di Garut, Balai Bahasa Jabar bekerja sama dengan Pondok Pesantren Al-Halim, Tarogong Kaler Garut.

Umar Solikhan, Kepala Balai Bahasa Jabar, mengungkapkan bahwa pada dasarnya literasi itu adalah hak semua warga negara. Oleh karena itu, dalam kesempatan Diseminasi GLN di Kabupaten Garut, kegiatan dikhususkan bagi kalangan santri dan pelajar setara SMA dan SMK. “Kami mengundang 200 santri putra dan putri di Kabupaten Garut  dalam rangka menyosialisasikan atau memasyarakatkan literasi dikalangan anak-anak pesantren dalam rangkaian kegiatan Diseminasi Gerakan Literasi Nasional di wilayah Jawa Barat” kata Umar.

Kegiatan Diseminasi Gerakan Literasi Nasional yang berlangsung pada Selasa, 8 Oktober 2019, di Hotel Harmoni, Cipanas, Garut ini merupakan salah satu upaya Balai Bahasa Jabar dalam mempersiapkan generasi emas 2045 dengan harapan seluruh generasi muda Indonesia paham dan mengerti tentang literasi. Generasi muda Indonesia harus mampu meningkatkan kemampuan literasinya sehingga dapat meningkatkan daya saing bangsa Indonesia ke depan. Inti dari kegiatan Desiminasi GLN adalah untuk menguatkan pendidikan karakter sebagai ruh dan pondasi pendidikan bangsa Indonesia.

Umar Solikhan mengungkapkan bahwa pemahaman dan pengetahuan literasi masyarakat Indonesia masih terbilang minim. Saat ini, kemampuan membaca rakyat Indonesia masih kalah jauh dibandingkan dengan negara maju, seperti negara Eropa, termasuk negara kawasan Asia Tenggara. “Kalau dibandingkan dengan negara Vietnam saja literasi kita sudah kalah, apalagi Cina dan Singapura,” kata Umar. Menurut Umar, pemahaman literasi yang baik dibutuhkan berbagai lapisan masyarakat, terutama generasi muda, dalam menyampaikan setiap informasi. Dalam perkembangan abad modern, kemampuan literasi suatu masyarakat berbanding lurus dengan kualitas bangsa sehingga dibutuhkan upaya peningkatan kemampuan literasi secara menyeluruh.

Dalam kegiatan pengenalan literasi tersebut, Balai Bahasa Jabar memberikan pemahaman tentang pentingnya literasi untuk memacu imajinasi para santri dalam menghasilkan sebuah karya yang dapat dinikamati masyarakat. Balai Bahasa Jabar memberikan pemahaman tentang teknik membaca yang baik dan memahami masalah hingga menghasilkan karya berbasis kearifan lokal.

Para Santri di Kabupaten Garut diberikan bekal kecakapan literasi oleh Balai Bahasa Jabar.

Para santri sangat antusias dalam menerima setiap materi yang disampaikan narasumber karena bagi mereka, mendapatkan ilmu literasi dari pakar dan praktisi literasi merupakan hal baru. Materi yang disampaikan dalam Diseminasi GLN di Kabupaten garut adalah “Kebijakan Gerakan Literasi Nasional” (Drs. Umar Solikhan, M.Hum.), “Sastra dan Multimedia: Puisi” (Sarip Hidayat, M.Hum.), dan “Menulis Paragraf Narasi dengan Media Koberkas” (Encon Rahman).

Para santri berharap berharap kegiatan pemahaman literasi bagi generasi muda, terutama santri, lebih banyak lagi digelar di kalangan pesantren dan dilakukan secara berkesinambungan. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan para santri selain pintar mengaji dan beramal sholeh, juga mampu menjadi generasi muda yang menguasai literasi dalam menyampaikan pesan bagi masyarakat dan dalam menghadapi persaingan global.

Pengenalan dunia literasi bagi kalangan santri juga cukup membantu pemahaman mereka dalam pengamalan ilmu agama bagi masyarakat. Meningkatnya kemampuan literasi di kalangan santri tentu dapat bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan santri untuk mengamalkan sekaligus menyebarkan pesan dan informasi secara luas kepada masyarakat.

Antusiasme para santri dalam mengikuti kegiatan Diseminasi GLN tentu sangat beralasan karena selama ini–menurut informasi yang didapat–pemahaman dunia literasi di kalangan pesantren hanya diperoleh secara tradisional yang disampaikan oleh kiai dan pengajar pondok. Hal itu pun sangat terbatas karena lebih banyak memahami pemahaman agama.

Umar Solikhan ketika membuka kegiatan Diseminasi Gerakan Literasi Nasional di Kota Tasikmalaya.

Sementara itu, sehari kemudian pada Rabu, 9 Oktober 2019, Diseminasi GLN juga dilaksanakan Balai Bahasa Jabar di Hotel Horison Kota Tasikmalaya. Di hadapan para peserta yang berasal dari Komunitas Literasi, Taman Bacaan Masyarakat, dan para guru (SD dan SMP), Kepala Balai Bahasa Jabar kembali menegaskan bahwa Balai Bahasa Jawa Barat akan  terus berupaya mengampanyekan gerakan literasi nasional. Generasi mendatang harus memiliki kecakapan dasar litetasi, karakter yang kuat, dan kompetensi. Hal tersebut tentu membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, mulai dari keluarga, masyarakat,  dan pemerintah yang harus sama-sama bergerak. “Secara khusus, kegiatan Diseminasi GLN di Kota Tasikmalaya bertujuan untuk meningkatkan minat literasi di kalangan mienial” kata Umar.

Menurut Umar, perkembangan era digital yang begitu cepat, tentunya membutuhkan kemampuan untuk mengolah informasi. Dari informasi tersebut dapat diinterpretasi dan dimaknai oleh masyarakat secara baik karena muara dari gerakan literasi adalah menulis. “Kita harus bekali siswa dengan enam kecakapan literasi dasar, yaitu  literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, serta literasi budaya dan kewargaan,” ujar Umar.

Dalam Diseminasi GLN di Kota Tasikmalaya, Umar Solikhan juga menyampaikan materi “Kebijakan Gerakan Literasi Nasional”. Materi lain dalam GLN di Kota Tasikmalaya adalah “Membangun Generasi Literat Melalui Sinergi Pendidikan Sekolah dan Masyarakat” (Ema Astri Muliasari, S.Pd.) dan “Konversi Teks: Cerpen ke Drama atau Sebaliknya Cerpen ke Monolog” (Sariah, M.Hum.). (DS).

Para peserta Diseminasi GLN 2019 di Kota Tasikmalaya.