web analytics

Minarelli Menelan Laut

Eriyandi Budiman*

“Keajaiban adalah firman. Ada napas suci Sang khalik di situ!” angguk Mang Kodir. Ia meyakininya seyakin malam dan siang selayaknya kekasih yang tak terpisahkan. Keajaiban yang ia lihat pada Minarelli mencengangkan banyak orang, termasuk Mang Kodir yang menjadi ayah asuhnya, sejak perempuan berwajah Dewi Venus itu dititipkan orangtuanya untuk belajar menjadi penyair.

Sejak di bangku kayu semi lapuk Taman Kanak-kanak, Si Bolamata tajam itu dikenal hiperaktif. Guru-gurunya kewalahan dengan pertanyaan-pertanyaan aneh dari anak yang susah diajak duduk manis itu. Meningkat di Sekolah Dasar, anak ini mengalahkan pikiran-pikiran murid yang berada tiga tahun di atasnya. Para gurunya juga sama kewalahan, menanggapi pikiran-pikiran liarnya. Dan di Sekolah Menengah Pertama, anak miskin penjual kacang rebus dan lotek itu, sudah fasih berbicara filsafat yang membuat para gurunya sulit menyimpan kepala.

Minarelli adalah kutu buku paling khusuk. Sejak dini, ia sudah melahap bacaan dunia, yang membuat Kang Saeful Braga, pemilik Taman Bacaan Masyarakat di Cikandongdong, nyaris kehabisan stok buku untuk memenuhi hasrat literat anak berbakat itu. Ia pun menganjurkan kepada orangtuanya, agar si anak yang juga penghapal Al Qur’an itu, sering dibawa ke perpustakaan di kota Terasik, 15 kilo meter arah Timur dari kampung Cikadongdong. Namun, yang terjadi kemudian, Kang Saeful Braga sendirilah yang harus mengantarnya, karena orangtua anak berpipi kempot itu sibuk mencari dan mengetuk pintu-pintu rezeki yang kuncinya sulit dicari.

Ustad Ahamd Fawzy Imron, menyebut anak itu sebagai indigo.

“Maksudnya India Goler kitu, Pak Fawzy?” Mak Mudrikah mencoba menghubungkan paras anaknya yang mirip Kajol itu, dengan pernyataan Ustad Fawzy. Ia lupa menghubungkannya dengan perilaku anaknya yang terkadang suka berbicara sendiri.

“Hahaha..boleh juga. Kan Mak Mudrikah oge mirip Aishwara Rai. Yang jelas, kalau Si Mimin sedang berbicara sendiri, sebetulnya ia sedang bercengkrama dengan mahluk gaib. Ia bisa melihatnya Mak!”

“Jadi bukan gila, Pak Ustad?”

“Bukan. Apan dia mah tidak makan isi tong sampah!”

Keanehan Minarelli, sudah dirasakan Mak Mudrikah dan para tetangganya sejak bayi. Kalau menetek, ia bisa lama. Hingga stok ASI ibunya itu sering habis. Maka, Minarelli sering menerima subsidi susu dari para ibu-ibu muda tetangganya. Namun, itu pun hanya tahan beberapa bulan, karena kekeringan kemudian melanda para ibu yang masih ranum itu. Mak Mudrikah kemudian menambahnya dengan air tajin, juga susu sapi, dan kambing yang harus ia barter dengan lotek, dan membersihkan kandang-kandang ternak tersebut, yang sangat melimpah di kampung itu.

“Untung di kampung kita ada sentra peternakan. Kalau harus beli susu formula, kita harus menjual tanah dan rumah ini!” senyum Kang Azim, ayah Minarelli yang menambah tagihan susu sapi dan kambing itu dengan mencarikan rumput di kaki bukit Gunung Singa.

Saat mulai masuk ke Taman Kanak-Kanak, konsumsi minumnya beralih ke air kelapa. Kang Azim, sering mencarinya ke kampung-kampung lain, karena di kampung mereka sudah habis diteguk  anak sematawayangnya itu. Dan saat memasuki SD, melahap banyak buku di perpustakaan desa dan kota, Minarelli suka sekali minum kopi hitam. Kang Saeful Braga, sang kuncen perpustakaan, kadang harus merelakan secangkir besar kopinya untuk anak jenius itu.

Yang membuat Kang Azim dan Mak Mudrikah nyaris pingsan ialah ketika mendapat kabar anaknya meminum spirtus, minyak tanah, bensin, solar, dan oli. Seisi kampung pun akhirnya dibuat geger. Karena meski meminum bahan bakar tersebut, Minarelli tetap mengedipkan mata. Seperti api pada jerami kering, kabar itu berkelebat menyebar, hingga mengundang napsu liputan para juru warta cetak dan elektronik. Minarelli tak hanya menjadi buah bibir, ia juga menjadi buah mata, buah telinga, dan buah pikir para pemerhatinya.

Minarelli sendiri susah memahami cara kerja mesin alam di tubuh semampainya. Mengapa hal itu terjadi pada dirinya hanya dijawab kebuntuan. Ia sendiri hanya mengikuti nalurinya. Seolah ada dorongan besar untuk meminum bahan bakar tersebut. Ia pun tidak bermaksud mencari popularitas. Bahkan ketika ia tidak mabuk saat mencoba semua jenis minuman keras.

“Saya lebih suka dikenal karena karya-karya saya, bukan karena hal remeh temeh seperti ini!” tuturnya kepada para pewarta.

“Saya akan bahagia dikenang sebagai penyair seperti Chairil Anwar, Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Goenawan Muhammad, Toeti Heraty, Baudelaire, Kahlil Gibran, Rumi, dan lain-lain. Toh tidak mabuk karena minum BBM maupun alkohol itu bukan prestasi,” jelasnya saat tampil di Kick Andy maupun ketika diwawancarai Deasy Anwar, Nazwa Shihab, Tukul Arwana, Deddy Cordbuzier, Soimah, Sarah Sechan, dan Arie Untung.

Mario Teguh dan para penontonnya, ribuan kali geleng kepala sambil serempak berkata,” Superrrrr Sekali!”

“I Love poetry. Al Qur’an had been me serve to a beautifull art language…know” senyumnya mengembang di Oprah Wimprey Show.

Kebiasaan meminum zat berbahaya itu pun hanya ia lakukan sewaktu-waktu, jika desakan dari dalam dirinya menguat.

“Pak Ustad Fawzy, apakah saya akan masuk neraka?” gundahnya suatu hari, saat menemui sang ustad yang baru meluncurkan buku fiksi mini sufi-nya di Kebun Terong Cibutak Foundation, tempat yang dikelola bersama kakaknya, Ahmad Faisal Imron, kyai muda yang juga penyair dan pelukis.

“Soal masuk neraka dan sorga itu, hanya Tuhan yang tahu!” jawab Ustad Fawzy sambil menandatangani bukunya, lalu ia berikan pada Minarelli.

“Kalau tidak tahu akan masuk sorga atau pun neraka, mengapa Pak Ustad mengelola pesantren dan membuat fiksi mini sufi?” Minarellli menatap tajam. Mata galaunya berkilau.

Ustad Fawzy tertegun. Mulutnya seperti menelan musim gugur. Ia melirik Ustad Faisal yang tersenyum-senyum saja.

“Sini, Mina!” Ustad Faisal meminta anak yang sudah memasuki mimpi indah itu untuk mendekat. “Coba buka mulutmu!”

Meski membuat keningnya berundak lipatan, ia mendekat lalu membuka mulutnya lebar-lebar. Kini giliran Ustad Faisal yang keheranan. “Astaghfirullohhh hal adzim…Subhanalloh…!” decaknya sambil mengusap muka dengan lembut setelah lama mematung saat melihat ke dalam mulut Minarelli. Lautan luas.

Ustad Fawzy yang penasaran, kemudian turut meminta Minarelli membuka mulutnya. Dan seperti kakaknya, ia pun nampak terlihat takjub sesudahnya. Seperti baru menelan empat musim sekaligus dalam satu detik.

“Mengapa Pak Fawzy? Ada apa Pak Faisal?” cemasnya sambil menyibakkan rambut panjangnya.

Jawabannya justru datang dari Mang Kodir, guru spiritualnya. Lelaki aneh di kampungnya yang mengajarinya membuat puisi. Lelaki berambut panjang putih keperakan yang sering bekerja sebagai buruh bangunan, dan gemar memancing ikan beunteur alias si baby fish di kali-kali kecil. Lelaki yang suka menghiburnya, jika ia menangis karena dikucilkan, diejek, bahkan dihina teman-teman kecil hingga sebayanya.

“Yang benar, Mang? Saya sendiri nggak melihatnya!” keheranan membuncah di dadanya, saat ia membuka lebar-lebar mulutnya di depan cermin.

“Mamang juga nggak bisa melihatnya. Ustad Faisal dan Ustad Fawzy yang bilang, waktu mereka berkunjung di pesantren dekat sini. Mungkin memang hanya orang-orang tertentu yang dapat melihat dan memahami ini. Yang penting, kamu jangan bilang siapa-siapa lagi!”

“Emak dan Bapak juga?”

“Ya. Yang kedua penting, tak perlu jadi beban pikiran. Jalani saja!”

“Mina hanya berpikir, apa artinya?”

“Kedewasaanmu  kan perlu waktu, meskipun kamu jenius. Pemerolehan pengetahuan, berbeda dengan pemerolehan kedalaman batin. Nanti juga akan kau temui apa maknanya!”

Minarelli menemukan napasnya agak mengendur. Belum ada jawaban yang memuaskan. Mungkin bagus juga buatku, pikirnya. Masih akan banyak waktu untuk memahami semua ini. Ya, jika Tuhan memberi napas lebih untuk menjalani takdir ini. Ah, dia kemudian seperti menemukan pencerahan.

Kayaknya bagus buat bahan puisi, Mang Kodir…” Minarelli menatap Mang Kodir yang asyik menabur pakan ke kolam ikan depan rumahnya. Perlahan, Minarelli bergumam,”Telah kutelan lautan dan kukaramkan ribuan kapal bajak laut. Ikan-ikan tengadah menciumi badai. Pulau demi pulau bersujud, menanam garam pada ingatanku…..”

Mang Kodir tersenyum,”Nah, ayo cepat tuliskan. Itu diksi yang bernas, jangan sampai menguap!”

Hingga selesai SMA, Minarelli sudah menyelesaikan puluhan puisi yang mengagetkan para penyair senior yang mengenalinya. Puisinya memuat banyak metafora yang sulit dicari padanannya. Namun, Minarellli termasuk abai dalam mendokumentasikan karyanya. Hanya satu dua yang ia publikasikan. Itu pun hanya di media lokal, serta antologi kecil para penyair di kotanya. Beberapa penerbit yang ingin menerbitkan buku kumpulan puisinya, hanya dijawab dengan kuakkan deretan giginya yang tanpa behel.

Meski banyak yang ingin membantunya memberikan beasiswa untuk kuliah di dalam maupun luar negeri, Minarelli malah menutup muka dengan rambut lurus panjangnya yang tanpa direbonding. Ia lebih suka berkelana dari kota ke kota, menyusuri desa, mencumbui hutan, menyetubuhi sungai, gunung dan pantai. Ia tak takut pada ketinggian. Ia tak segan pada kesendirian. Ia relakan sepi memeluknya dimana dan kapan pun. Ia segan bercinta meskipun banyak pemuda membidikkan cupido dan memburunya seperti harta karun tanpa tuan. Namun ia tak segan bergaul dengan petani, politisi, wartawan, nelayan, gelandangan, tentara, kyai, buronan, bahkan anak-anak punk. Ia menjadi makhluk unik, yang bisa datang dan pergi tanpa batasan. Tanpa hijab. Tanpa melihat kalender dan kompas.

Pada waktu-waktu tertentu, terutama saat banjir melanda sebuah wilayah, ia akan datang. Tanpa setahu siapa pun, ia akan menyedot air di wilayah itu, sehingga banjir cepat surut dan tak jadi menenggelamkan sebuah wilayah. Ia juga pernah beberapa kali menyedot limbah minyak mentah yang tumpah di samudera. Dan jika sehabis itu, ia akan bersujud berhari-hari, tak terusik angin dan matahari.

“Sebaiknya kau cepat menikah. Terlalu banyak menghilang, membuat Emak dan Bapakmu cemas. Tanggungjawabku pun berat. Ya, Mamang tahu kamu pernah jatuh cinta dan patah hati. Tapi itu tak penting lagi. Seluruh dunia sudah mengenalmu. Tinggal kamu tunjuk saja. Mamang akan melamarkannya untukmu!”

Minarelli hanya tertawa lepas.

“Memangnya apa yang kamu cari? Jarum di padang jerami?”

Minarelli menahan tawanya,“Masih banyak puisi yang ingin saya tuliskan, Mang Kodir!”

“Ah, setelah menikah pun kamu masih bisa berpuisi. Ini pertanyaan klasik: Apa yang kamu tunggu, penelan laut?”

Minaraelli tersenyum, menjawab pelan,”Lamaran Nabi Khidir!”

Bandung

 *Biodata Penulis

Eriyandi Budiman Lahir di Tasikmalaya, 2-3-1966. Beberapa bukunya yang sudah terbit ialah Pembelajaran Novel Film dan Ekranisasi (Esai); Sederet Tangis dari Tigris (cerpen), Prasasti Kesedihan Izrail (cerpen), Sayap Sorga: Badai Merah Jambu (puisi). Novel terbarunya Amora Magma (2019) menjadi novel terpilih untuk dibicarakan dalam Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019.

Related posts