Kampung Resah, Mesin Merambat Di Pedesaan

“Pemandangan berulang selalu. Kabut
tipis mengambang di atas dusun. Air gemercik
terbentur di batu. Tanpa berubah.”
(Berilah Aku Kota, Subagio Sastrowardoyo)

Membaca sajak Subagio Sastrowardoyo, “Berilah Aku Kota” saya terkenang ketika kanak-kanak. Kami anak-anak kampung yang selalu pulang pergi ke sekolah, dengan melintasi sawah permai dan metafora-metafora alam yang klise adalah masa lalu kami. Ketika berangkat sekolah, kami benar-benar merasakan kabut tipis mengambang di atas dusun-dusun Cangkringan, Sleman, Yogyakarta yang kami lalui, menyentuh kulit kami yang sebagian tertutup seragam merah putih. Dan di samping jalan, gemercik air kali menjadi teman perjalanan yang berisik, tapi membuat kangen di kemudian hari.

Gambaran-gambaran itu menjadi narasi yang tak berubah beberapa tahun lalu setiap pagi, sedang pulangnya kami anak-anak bengal dengan masih berseragam, menggantungkan sepatu pada leher dengan tali yang telah disatukan antara kedua sepatu. Pulang lewat sawah-sawah becek berlumpur. Di perjalanan, kadang kami bertemu dengan Lenguh lembu tak bergema dan wajah//kusut terbayang di kolam berkerut. Begitulah kami seolah hidup dalam puisi antara bait satu dan bait dua.

Enam belas tahun kemudian, di suatu minggu, saya duduk-duduk di kamar dengan jendela terbuka sambil membaca koran. Di situ saya menemukan artikel Jean Coeteau yang benar-benar memukul kenangan saya. “Lindungilah Keindahan!”. Penulis bule bali yang lebih Indonesia dibanding orang-orang Indonesia asli itu, dengan keras mengatakan “omong kosong” pada metafora yang hanya dijadikan tameng bahwa keindahan itu tidaklah benar-benar ada, dengan sedikit pengecualian pada tempat-tempat yang belum tersentuh manusia modern.

Bisa jadi kenangan kami adalah sedikit dari pengeculian itu, seperti kenangan di daerah-daerah pada umumnya yang sekarang telah disulap menjadi daerah modern, dengan kapitalis yang berbahagia karena kemenangannya, sementara orang-orang lainnya makin tersisih. Lalu apakah anak-anak di daerah kami masih hidup seperti dalam puisi Subagio di bait pertama dan kedua? Memang ada perbedaan antara generasi saya dengan sekarang, tapi saya bersyukur jika menilik daerah-daerah lain yang dengan cepat menjadi daerah industri. Di tempat kami, masih ada beberapa petak sawah yang bertahan dan sungai yang mengalir dengan payah, meski tanpa kabut.

Akan tetapi pembacaan puisi terus berlanjut.

Aku tak tahan menyaksikan gerak mati.
Aku ingin lari dan berteriak: “berilah
aku kota dengan bising dan kotornya.
Kembalikan aku ke medan pergulatan mencari
nafkah dengan keringat bersimbah di tubuh.
Aku hanya bisa hidup di tengah masalah!”

Begitulah pemuda-pemudi di kampung kami banyak yang gelisah dengan nasib-nasib petani. Harga-harga hasil tanaman yang tak menentu, kebutuhan meningkat, pergaulan dengan media yang membawa pengaruh hedonisme, iklan-iklan yang memabukkan, gaya hidup instan dan sebagainya. Kami resah. Kami meminta kota dengan bising mesin-mesin penghasil uang. Hingga pada akhirnya kami mengadu nasib dengan menjadi alat-alat industri. Menjadi buruh-buruh pabrik, pekerja-pekerja di kota, menjadi bagian dari mesin yang tak bernyawa dan kami melupakan petak-petak sawah kami. Daya cipta kami terkuras, bertingkah seperti mesin-mesin industri. Tinggal orang-orang tua dan beberapa pengecualian yang masih bertahan dengan petak-petak sawahnya. Sementara saya menyelesaikan pembacaan puisi.

Tetapi suaraku seperti tersumbat
di tenggorokan dan kakiku tak bertenaga
seperti lumpuh.
Aku bisa mati sebelum subuh.

 

*Tulisan ini merupakan Pemenang Kedua dalam Lomba Feature yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat bekerja sama dengan http://www.buruan.co. Ditulis oleh Thoriq Aufar.

Tautan: http://www.buruan.co/kampung-resah-mesin-merambat-di-pedesaan/